TRIBUNMATARAMAN.COM, TRENGGALEK - Perputaran ekonomi dalam pelaksanaan car free day (CFD) di Kabupaten Trenggalek menunjukkan tren positif.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Trenggalek mencatat rata-rata omzet pelaku usaha dalam setiap pelaksanaan CFD mencapai sekitar Rp130 juta hingga Rp157 juta.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan (Diskomidag) Trenggalek, Saniran, mengatakan pelaksanaan CFD masih mendapat hati dari masyarakat.
"Alhamdulillah, sampai saat ini dari 15 kali pelaksanaan itu lumayan. Respons masyarakat masih bagus dan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi UMKM kita juga bagus," ujar Saniran, Minggu (23/8/2026).
Baca juga: UMKM Wilayah Mataraman Didorong Tembus Pasar Global Lewat KKI 2026
Menurutnya, berdasarkan catatan Diskomidag Trenggalek, perputaran uang dalam setiap pelaksanaan CFD rata-rata mencapai Rp 130 juta dan pernah menyentuh Rp157 juta.
Perputaran uang tersebut berasal dari aktivitas belanja masyarakat, terutama pada sektor perdagangan dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
"Perputaran uang di Trenggalek jadi penggerak ekonomi, termasuk pertumbuhan ekonomi dari sektor belanja masyarakat, terutama di sektor perdagangan," paparnya.
Saniran mengulas ada 148 UMKM yang tercatat mengikuti CFD. Jumlah tersebut disesuaikan dengan kapasitas ruang yang tersedia.
Ia mengaku sebagian besar pelaku UMKM yang mengikuti kegiatan tersebut merupakan warga Trenggalek.
Jika terdapat pelaku UMKM yang tidak hadir, panitia akan mengisi tempat tersebut dengan pelaku usaha lain yang telah masuk dalam daftar antrean.
Ia mengatakan, jumlah UMKM sebenarnya masih berpotensi ditambah. Namun, keterbatasan ruang menjadi kendala.
Pasalnya, lokasi CFD sementara masih dibatasi dari Tugu Garuda hingga depan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP).
Saniran menambahkan, pihaknya telah memiliki daftar pelaku UMKM yang menunggu untuk mengikuti CFD.
Pelaku UMKM akan diberi kesempatan secara bergantian apabila terdapat lapak yang kosong.
Ditanya jumlah, Saniran menjelaskan pengunjung CFD setiap pelaksanaan diperkirakan berkisar 1.000 hingga 3.000 orang.
Pada pelaksanaan yang paling ramai, jumlah pengunjung bahkan mencapai sekitar 4.000 orang.
"Kalau kemarin di Pasar Pon itu sekitar 4.000-an. Jadi 4.000 paling ramai, rata-rata sekitar 1.000 sampai 3.000," ungkapnya.
Saniran menyebut sektor makanan dan minuman (mamin) menjadi salah satu usaha dengan omzet cukup tinggi selama CFD.
Dalam satu kali event, omzet seorang pedagang mamin rata-rata dapat mencapai Rp4 juta hingga Rp5 juta.
Namun, angka tersebut merupakan omzet atau pendapatan kotor. Diskomidag tidak menghitung besaran keuntungan bersih yang diperoleh masing-masing pedagang
"Itu omzet. Satu pedagang bisa Rp4 juta sampai Rp5 juta satu kali event. Keuntungannya kami tidak menanyakan," tutupnya.
(Madchan Jazuli/TribunMataraman.com)