Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Maula M Pelu
MALUKU TENGAH, TRIBUNAMBON.COM - Kebakaran hutan dan lahan di Desa Wailulu dan UPT SP2 (Unit Pelaksana Teknis Satuan Pemukiman 2) Waitihisa yang masuk wilayah administrasi Desa Horale, Kecamatan Seram Utara Barat, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku belum juga benar-benar padam.
Api bahkan masih mengancam kebun-kebun warga setelah kebakaran berlangsung sepekan lebih.
Kepala Pemerintah Desa Wailulu, Muslim Tounussa, melalui sambungan telepon WhatsApp dengan Reporter TribunAmbon.com mengatakan kebakaran telah terjadi sejak sebelum 17 Agustus 2026.
Hingga Minggu (23/8/2026), warga masih berjaga di sejumlah titik untuk mencegah api kembali membesar.
"Sudah beberapa hari lalu, sebelum 17 Agustus. Sudah terbakar, kita kasih padam, nanti terbakar lagi, kita padamkan lagi," kata Muslim .
Menurut dia, warga harus berulang kali melakukan pemadaman secara mandiri.
Muslim bahkan mengaku saat ditelepon sekitar pukul 17.30 WIT ini, masih berada di kebun untuk memastikan api tidak kembali menjalar.
Baca juga: 3 Hari Lagi Berakhir, PLN UIW MMU Ajak Pelanggan Manfaatkan Promo Tambah Daya Diskon 50 Persen
Baca juga: PLN Dorong Transisi Energi Berkelanjutan Melalui Implementasi Co-Firing di PLTU Tidore
Warga dibagi ke sejumlah lokasi yang rawan terbakar, di antaranya kawasan Bukit Cinta dan Kali Sala.
"Beta masih di kebun untuk jaga jangan kebakaran ini. Ada beberapa masyarakat yang terbagi di daerah Bukit Cinta, sama di Kali Sala," ujarnya.
Kondisi tersebut diperparah dengan keterbatasan sumber air.
Air berada cukup jauh dari lokasi kebakaran.
Warga bahkan harus berjalan hingga sekitar satu kilometer untuk mengambil air.
"Kendala memang air terlalu jauh, bisa sampai satu kilo. Ada yang bawa sampai 20 liter, dong pikul. Jadi susah," katanya.
Walaupun tidak ada korban jiwa dalam insiden kebakaran ini.
Namun, insiden itu membuat warga alami kerugian cukup banyak karena ratusan hektar kebun menjadi salah satu sumber penghasilan masyarakat hangus terbakar.
Sejumlah tanaman produktif seperti kelapa, cokelat dan cengkeh ikut terbakar.
Bahkan disebutkan ada salah satu warga bernama Farhan Attamimy yang terdampak bahkan ratusan tanaman produktif.
"Kalau mau hitung seluruhnya ribu, karena ini hitung dua negeri," ujarnya.
Sementara itu, penyebab kebakaran hingga kini belum diketahui. (*)