Karangasem Bali Coba Pemetaan Berbasis Teknologi untuk Rencana Evakuasi Berbasis Banjar
Putu Dewi Adi Damayanthi August 23, 2026 06:03 PM

TRIBUN-BALI.COM, AMLAPURA - Kabupaten Karangasem, Bali, mulai mengembangkan rencana evakuasi berbasis banjar dengan memanfaatkan teknologi pemetaan. 

Langkah ini dilakukan untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi bencana, termasuk ancaman erupsi Gunung Agung.

Upaya tersebut dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karangasem bersama Desa Adat Temukus dengan dukungan program SIAP SIAGA. 

Kegiatan pelatihan pemetaan dan pengambilan data berbasis teknologi digelar di Wantilan Desa Adat Temukus pada 20-21 Agustus 2026.

Baca juga: Korban Meninggal Dunia Gempa NTT Capai 70 Orang, BPBD Bali Belanja Logistik 150 Juta untuk Pengungsi

Dalam kegiatan tersebut, peserta dilatih memanfaatkan sejumlah teknologi seperti drone, aplikasi QGIS, Chatmap, Drone Tasking Manager, hingga QField. 

Teknologi tersebut digunakan untuk mengumpulkan sekaligus mengolah data lapangan secara lebih detail.

Kalaksa BPBD Karangasem, I Made Aditya Sugiharta, mengatakan pemanfaatan teknologi diharapkan dapat menghasilkan peta evakuasi yang lebih detail dan mudah dipahami masyarakat.

“Tujuannya meningkatkan kapasitas SDM Desa Adat Temukus dalam perencanaan kesiapsiagaan bencana melalui pemanfaatan teknologi pemetaan dan pengumpulan data,” kata Aditya, Minggu 23 Agustus 2026.

Menurutnya, data yang dikumpulkan tidak hanya berkaitan dengan kondisi geografis, tetapi juga berbagai Point of Interest (POI) atau titik penting yang dibutuhkan dalam penanganan bencana.

Data tersebut kemudian diolah dan divalidasi bersama untuk memastikan lokasi maupun jalur evakuasi yang tercantum dalam peta benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan.

“Yang divalidasi jalur evakuasi dan titik-titik penting yang ada di wilayah tersebut. Jadi hasilnya bisa lebih sesuai dengan kondisi sebenarnya,” ujarnya.

Pendekatan berbasis banjar dinilai penting karena rencana evakuasi harus bisa diterapkan hingga tingkat masyarakat paling bawah. 

Warga tidak hanya membutuhkan informasi mengenai adanya ancaman bencana, tetapi juga harus mengetahui ke mana harus bergerak ketika kondisi darurat terjadi.

Bagi Desa Adat Temukus, rencana tersebut juga dipersiapkan untuk menghadapi kemungkinan erupsi Gunung Agung.

Bendesa Adat Temukus, I Nengah Sindia mengatakan, pihaknya berharap desa adat nantinya memiliki peta evakuasi sendiri yang dapat menjadi pedoman masyarakat.

“Harapan kami ketika terjadi bencana, terutama letusan Gunung Agung, kami sudah punya peta evakuasi tersendiri. Apa yang kami lakukan, ke mana jalur evakuasi, dan evakuasi terkonsentrasi di mana,” kata Sindia.

Menurutnya, keberadaan peta yang mudah dipahami masyarakat akan membantu memperjelas langkah yang harus dilakukan ketika terjadi bencana.

Hal tersebut menjadi semakin penting karena Karangasem, khususnya Desa Adat Temukus merupakan wilayah yang memiliki potensi terdampak erupsi Gunung Agung. Sehingga kesiapan masyarakat di tingkat desa adat hingga banjar perlu terus diperkuat.

Dalam proses penyusunan rencana evakuasi, tim juga membahas lokasi pengungsian dan wilayah penerima pengungsi.

Hasil pembahasan menyepakati Banjar Dinas Temukus sebagai wilayah pengungsi, sementara Desa Nongan ditetapkan sebagai wilayah penerima pengungsi.

Aditya mengatakan, hasil pemetaan dan berbagai kesepakatan tersebut selanjutnya akan digunakan untuk menyempurnakan layout peta sebelum difinalkan.

“Karena kita berbicara tentang rencana evakuasi berbasis banjar, maka data dan jalur yang disusun harus benar-benar bisa dipahami dan digunakan ketika terjadi kondisi darurat,” jelasnya. (mit)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.