TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Kekuatan udara dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau mulai berkurang.
Dua dari enam helikopter water bombing yang sebelumnya digunakan pemadaman Karhutla di Riau telah digeser ke Kalimantan.
Dengan pergeseran tersebut, saat ini tersisa empat heli water bombing di Riau.
Namun, dari jumlah itu hanya tiga unit yang beroperasi. Sebab satu unit lainnya sedang menjalani perawatan atau maintenance.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau M Edy Afrizal mengatakan, armada yang masih tersedia tetap dikerahkan untuk mendukung pemadaman karhutla dari udara.
"Awalnya ada enam unit. Dua sudah digeser untuk membantu penanganan karhutla di Kalimantan. Jadi sekarang tinggal empat unit di Riau, tiga masih beroperasi dan satu sedang maintenance," kata Edy, Minggu (23/8/2026).
Selain water bombing, BPBD Riau masih mengoperasikan dua helikopter untuk melakukan patroli udara. Seluruh dukungan dari udara tersebut dikoordinasikan dengan tim darat untuk membantu mempercepat penanganan kebakaran.
Di tengah berkurangnya armada water bombing, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau juga bersiap memanfaatkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Operasi ini diharapkan dapat membantu meningkatkan peluang turunnya hujan di wilayah yang dibutuhkan untuk mendukung penanganan karhutla.
Namun, OMC tidak bisa dilakukan setiap saat. Pelaksanaannya sangat bergantung pada keberadaan dan kondisi awan yang memungkinkan untuk dilakukan penyemaian.
Menurut Edy, BPBD Riau terus memantau perkembangan cuaca untuk mencari peluang pertumbuhan awan yang bisa dimanfaatkan.
"OMC ini bergantung pada kondisi awan. Jadi kalau ada awan yang memungkinkan, baru bisa kita lakukan," ujarnya.
Berdasarkan prakiraan cuaca yang diterima BPBD Riau, peluang pertumbuhan awan diperkirakan muncul pada 23 hingga 24 Agustus 2026. Setelah itu, peluang tersebut diperkirakan berkurang sebelum kembali muncul sekitar 29 Agustus.
Jendela waktu tersebut akan dimanfaatkan untuk menjalankan OMC apabila kondisi awan benar-benar mendukung.
"Pada 23 sampai 24 Agustus diperkirakan ada pertumbuhan awan. Setelah itu berkurang, kemudian sekitar tanggal 29 Agustus ada peluang tumbuh lagi. Kalau kondisinya mendukung, kesempatan itu akan langsung kita manfaatkan untuk OMC," kata Edy.
• Diperkirakan 500 Ha Lahan Gambut Hangus, 311 Tim Gabungan Padamkan Karhutla di Kerumutan Pelalawan
Meski demikian, lokasi penyemaian belum ditetapkan secara pasti. BPBD Riau masih memantau wilayah mana yang memiliki pertumbuhan awan paling memungkinkan untuk pelaksanaan operasi.
Wilayah utara Riau menjadi salah satu kawasan yang mendapat perhatian dalam pemantauan tersebut. Penentuan lokasi nantinya menyesuaikan keberadaan awan yang dapat dimanfaatkan.
"Lokasinya masih terus kita pantau, terutama wilayah utara Riau. Kalau ditemukan awan yang memenuhi kondisi untuk penyemaian, OMC akan kita lakukan di sana," jelasnya.
Untuk mendukung operasi tersebut, satu pesawat Cessna Caravan telah disiapkan. Pesawat itu digunakan untuk membawa dan melakukan penyemaian garam ke awan yang memenuhi kondisi untuk mendukung proses modifikasi cuaca.
OMC menjadi salah satu bagian dari strategi penanganan karhutla melalui udara. Operasi ini berjalan berdampingan dengan water bombing dan patroli udara, sementara upaya pemadaman langsung tetap dilakukan personel gabungan di darat.
Peluang pertumbuhan awan yang tersedia akan dimanfaatkan semaksimal mungkin. Sebab, setelah periode tersebut, peluang pertumbuhan awan diperkirakan kembali berkurang.
Dengan kombinasi pemadaman dari darat, water bombing, patroli udara dan OMC, Pemprov Riau berharap kebakaran yang masih terjadi dapat lebih cepat dikendalikan.
"OMC juga diharapkan membantu meningkatkan peluang hujan di wilayah sasaran sehingga mendukung proses pemadaman dan pembasahan lahan," kata Edy.
(Tribunpekanbaru.com/Syaiful Misgiono)