TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Menjelang matahari terbenam, hamparan rumput di Bukit Senja, Jalan Bunga Raya Bukit Diponegoro, Tembalang, Kota Semarang, mulai dipenuhi anak muda.
Ada yang datang untuk sekadar duduk santai dan mengobrol bersama teman, ada yang membawa tikar untuk bersantai di atas rumput, hingga sekelompok anak muda yang sengaja datang mengenakan kostum cosplay untuk pemotretan.
Bukit Senja menjadi salah satu pilihan warga untuk menghabiskan waktu sore sambil menikmati suasana ruang terbuka hijau dan panorama matahari terbenam.
Baca juga: PSIS Semarang Tak Terkalahkan di 4 Uji Coba, Ini Sorotan Pelatih Jelang Championship
Tribunjateng.com mengunjungi lokasi tersebut pada Minggu (23/8/2026) sore.
Sejumlah pengunjung tampak duduk di kursi yang tersedia, sementara lainnya memilih lesehan di atas rumput.
Aktivitas pengunjung cukup beragam. Selain nongkrong, kawasan tersebut juga dimanfaatkan untuk kegiatan outbound, fotografi, hingga membuat konten media sosial.
Warung dan kafe yang berada di sekitar kawasan turut menjadi pilihan pengunjung untuk membeli makanan dan minuman sambil menikmati suasana sore.
Satu di antara pengunjung, Khalisa Salsabila (22), mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes), datang bersama tujuh temannya.
Mereka memilih Bukit Senja sebagai tempat berkumpul setelah beberapa bulan disibukkan dengan tugas akhir dan kegiatan masing-masing.
"Tujuan kami ke sini sebenarnya buat refreshing otak juga, setelah dari kemarin selama beberapa bulan mengerjakan tugas akhir dan karena teman-teman juga sudah pada sibuk sama dunianya masing-masing."
"Ada yang kerja dan sebagainya, jadi kami ngadain kumpul-kumpulan seru-seruan gitu," ujar Khalisa kepada Tribunjateng.com, Minggu (23/8/2026).
Menurut Khalisa, luasnya kawasan menjadi salah satu alasan mereka memilih tempat tersebut.
Selain itu, keberadaan kursi dan warung membuat pengunjung lebih leluasa menghabiskan waktu bersama.
"Karena tempatnya luas dan bisa mencakup banyak orang. Selain itu seru sih, ada warungnya, ada kursinya juga," ucapnya.
Meski demikian, dia menilai kondisi rumput di Bukit Senja saat ini sedikit berbeda dibanding kunjungan sebelumnya.
Beberapa bagian terlihat lebih gersang karena musim kemarau.
"Cuma mungkin di sini lagi agak sedikit gersang, beda dari yang saya pernah datang sebelumnya rumputnya masih hijau. Karena ini musim kemarau," katanya.
Meski begitu, kondisi tersebut tidak mengurangi daya tarik Bukit Senja untuk menikmati suasana sore.
"Tapi tetap enak buat menikmati senja gitu sambil nikmatin matahari tenggelam," lanjutnya.
• Kronologi Pajero Ringsek di Jalan Imam Bonjol Semarang, Sopir Tewas Terjebak di Mobil
Bukit Senja ternyata tidak hanya menjadi lokasi nongkrong.
Kawasan yang dipenuhi pepohonan dan hamparan rumput tersebut juga dimanfaatkan sebagai lokasi pemotretan.
Bibil, Chimar, dan Richi (20), warga Tembalang, misalnya, datang dengan mengenakan kostum cosplay.
Mereka sengaja memilih Bukit Senja untuk mengambil foto dengan konsep karakter yang mereka perankan.
"Jadi kami di sini cosplay, mau take foto aja sih," kata Bibil.
Foto tersebut dibuat untuk keperluan pribadi sekaligus diunggah ke media sosial.
"Keperluan pribadi sih, cuma buat posting-posting saja. Foto-foto lucu saja. Untuk hobi sebenarnya," terangnya.
Menurutnya, suasana Bukit Senja cocok dengan konsep cosplay yang mereka gunakan.
Pepohonan dan hamparan hijau menjadi latar yang dicari untuk mendukung konsep karakter yang mereka perankan.
"Pertama karena tempatnya ini sesuai sama kami, sesuai sama animenya, animasinya gitu. Terus yang kedua, karena dekat," ujarnya.
"Selain itu, sesuai sama konsepnya? Kebetulan kami (cosplay) jadi penyihir. Jadi kayak butuh sesuatu yang kayak alam gitu," jelasnya.
"Kebetulan hijau juga, jadi konsepnya memang nyari yang hijau-hijau dan pepohonan," lanjutnya.
Chimar sudah beberapa kali datang ke kawasan tersebut.
Menurutnya, Bukit Senja juga menarik dikunjungi pada pagi hari karena suasananya masih relatif sepi.
"Kalau saya kebetulan sering ke sini karena memang kalau pagi itu masih sepi."
"Biasanya saya seringnya ke sini pagi sama teman-teman, bikin TikTok saja di sini karena tempatnya lumayan estetik kalau anak sekarang bilangnya," ujarnya.
Dia menilai, keberadaan pepohonan, tempat duduk, serta warung membuat Bukit Senja cocok untuk berbagai aktivitas.
"Karena memang satu tempatnya banyak pohon-pohon kayak gini bisa buat santai. Nongkrong juga. Bisa beli jajan, makan di sini juga," lanjutnya.
Chimar mengatakan, Bukit Senja sebenarnya sudah ramai dikunjungi warga sebelum kawasan tersebut dikelola seperti sekarang.
"Kalau aku malah sebelum jadi Bukit Senja pernah ke sini. Tapi masih kayak cuma rumput doang sih," terangnya.
"Tapi dulu juga sudah ramai," lanjutnya.
Setelah dikelola, kawasan tersebut memiliki fasilitas parkir dan kebersihan yang turut diperhatikan.
Bagi pengunjung, biaya parkir juga dinilai sebagai bentuk kontribusi untuk warga sekitar.
"Kalau parkir buat retribusi buat warga sekitar saja, kami membantu memberikan kontribusi ke warga sekitar saja. Juga buat kebersihan juga," ungkapnya.
Baca juga: Pajero Ringsek Tabrak Median dan Pohon di Jalan Imam Bonjol Semarang, Sopir Tewas
Pengelola Bukit Senja, Lukas Kalang Katundra mengatakan, kawasan tersebut mulai dikelola pada 2022.
Pada awalnya, pengelolaan dilakukan oleh Karang Taruna setempat.
Seiring waktu, pengelolaan kemudian melibatkan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).
Karang Taruna dan Pokdarwis dari RW 08 hingga kini bekerja sama mengelola kawasan tersebut.
Kalang menjelaskan, Bukit Senja merupakan ruang terbuka hijau di tengah Kota Semarang yang ditujukan untuk berbagai kalangan.
"Bukit Senja itu semacam kalau bisa dibilang suatu ruang terbuka hijau di tengah kota itu yang memfasilitasi remaja."
"Pokoknya semua kalangan umur untuk bersantai, menikmati sunset, menikmati hijau-hijauan," ungkapnya.
Sebelum dikelola, kawasan tersebut memang telah menjadi tempat berkumpul warga.
Namun, kondisi lingkungan yang belum tertata mendorong Karang Taruna mengambil inisiatif untuk melakukan pengelolaan.
"Dulu masih belum dikelola. Tapi setelah Karang Taruna ada inisiatif sendiri, dikelola, ramai, terus jadilah seperti ini," ungkapnya.
Kini, pengunjung tidak hanya berasal dari lingkungan sekitar.
Warga dari luar kawasan juga berdatangan untuk menikmati suasana sore di Bukit Senja.
"Bukan hanya warga sini tapi juga pengunjung lain yang mau menikmati senja juga," bebernya.
Meningkatnya jumlah pengunjung kemudian membuat pengelola memperhatikan persoalan kebersihan dan perawatan kawasan.
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, pengelola menerapkan harga tiket masuk (HTM) Rp2.000 per orang.
"Setelah itu, kami sadar kok enggak ada yang mengelola dengan sampahnya yang berserakan, rumputnya yang mulai tumbuh tinggi-tinggi, akhirnya kami inisiatif memberikan HTM Rp2.000 per orang itu untuk kebersihan seperti memotong rumput, sampah plastik dan lain-lain," terangnya.
Menurut Kalang, jumlah pengunjung pada hari biasa mencapai sekira 150 hingga 200 orang per hari. Jumlah tersebut dapat meningkat saat akhir pekan.
"Untuk per hari rata-ratanya sekira 200 orang. Kalau weekend mungkin 300 orang," imbuhnya.
Pengunjung yang datang didominasi mahasiswa, terutama mahasiswa Undip.
Dari sisi usia, mayoritas pengunjung berada pada rentang remaja hingga dewasa muda.
"Paling banyak pastinya mahasiswa Undip, usia remaja 20 sampai 25 tahun," paparnya.
Selain ruang terbuka untuk bersantai dan menikmati matahari terbenam, pengelola juga menyediakan fasilitas pendukung berupa tempat makan dan minum.
"Daya tariknya, kami menyediakan tempat untuk bersantai, untuk melihat sunset, dan kami sediakan juga FnB seperti yang di atas, juga di sini ada kafe," bebernya.
Saat ini terdapat sekira lima penjual, termasuk kafe, yang berada di kawasan Bukit Senja.
Adapun jam operasional Bukit Senja ditetapkan mulai pukul 08.00 hingga pukul 22.00.
Namun, biasanya layanan pemesanan makanan dan minuman sudah ditutup sekira pukul 21.00. (*)