285 Titik Panas Terdeteksi di Muaro Jambi
asto s August 23, 2026 09:11 PM

TRIBUNJAMBI.COM, SENGETI - Kabupaten Muaro Jambi menjadi wilayah dengan sebaran titik panas (hotspot) terbanyak di Provinsi Jambi sepanjang Agustus 2026.

Berdasarkan data yang dilansir Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jambi, titik panas yang terdeteksi di wilayah Muaro Jambi berjumlah 285 titik, terhitung tanggal 1 sampai 22 Agustus.

Jumlah itu menempatkan Muaro Jambi di posisi kedua terbanyak di Jambi pada Agustus, setelah Kabupaten Sarolangun dengan 406 titik dan Kabupaten Tebo berada di urutan ketiga dengan 241 titik.

Jika dihitung sejak awal tahun, jumlah titik panas lebih banyak 

Periode 1 Januari hingga 22 Agustus 2026, BMKG mencatat 710 hotspot di Muaro Jambi. 

Jumlah tersebut menjadi yang ketiga tertinggi di Provinsi Jambi, setelah Sarolangun sebanyak 759 titik dan Tanjung Jabung Barat 719 titik.

Ketua Tim Data dan Informasi BMKG Jambi, Jaya Martuah Sinaga, mengatakan peningkatan titik hotspot mulai terlihat sejak Juli. 
Sebelumnya, sebaran titik panas cenderung fluktuatif dengan jumlah yang relatif landai.

“Mulai mengalami kenaikan yang cukup signifikan di bulan Juli dan Agustus tahun ini,” kata Jaya, Minggu (23/8).

Kenaikan hotspot itu berlangsung ketika Muaro Jambi memasuki musim kemarau dengan curah hujan yang jauh di bawah kondisi normal. 

Jaya mengatakan sekitar 85 persen curah hujan di wilayah Muaro Jambi berada di bawah 50 milimeter.

“Di Kabupaten Muaro Jambi ini merupakan musim kemarau di bawah normal. Kenapa di bawah normal, karena 85 persen itu hujannya di bawah 50 milimeter,” katanya.

Jika kondisi normal, seharusnya ditandai dengan curah hujan lebih dari 100 milimeter per bulan.

“Nah, ini di bawah normal karena tidak sampai 50 milimeter. Makanya kategori musim kemarau di bawah normal,” ujarnya. 

Jaya Martuah Sinaga menyampaikan, minimnya hujan membuat kondisi harian di Muaro Jambi cenderung cerah dan terik. 

Lahan yang kehilangan kelembapan lebih mudah terbakar, terutama ketika terdapat aktivitas pembakaran

Titik hotspot, kata dia, merupakan indikasi anomali panas yang terdeteksi satelit dan tidak seluruhnya dapat diartikan sebagai titik kebakaran. 
Namun, jumlah hotspot menjadi salah satu indikator yang digunakan untuk melihat potensi kebakaran hutan dan lahan.

Selain itu, kata Jaya, BMKG memperkirakan puncak musim kemarau masih berlangsung hingga September. 

Artinya, Muaro Jambi masih berada dalam periode dengan risiko kebakaran yang perlu diwaspadai.

“Durasi kemarau yang panjang ini berpotensi memicu kekeringan hutan dan lahan yang memiliki risiko tinggi terjadinya kebakaran,” pungkasnya.  (Tribun Jambi/Muzakkir)

Baca juga: Darurat Karhutla, Mendagri Tito Larang Gubernur Izinkan Pembukaan Lahan dengan Cara Bakar

Baca juga: Lahan 2 Hektare Terbakar di Mayang Mangurai Jambi, Api Dekati Permukiman Warga

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.