Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Petrus Chrisantus Gonsales
TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Sembilan lansia korban Gempa Flores yang menderita stroke di kampung Tarunggawan, Desa Iligai, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, Flores, NTT, menerima bantuan tongkat untuk berjalan dari anggota Sat Brimob Polda NTT, Batalyon B Pelopor, IPDA Vinsensius Moat Nurak dan istri Maria Sherly Hilene, S.Pd., M.Tesol bersama Yayasan De Kindereren Van Flores di Belgia.
Dalam cuplikan video yang diterima TribunFlores.com, Minggu (23/8/2026) sembilan lansia ini berjalan menggunakan tongkat tersebut sambil tersenyum.
Tongkat tersebut terbuat dari besi. Pengangannya berwarna biru. Terdapat empat tumpuan kaki di tongkat tersebut agar posisi berdiri tetap seimbang.
Tongkat berjalan itu dilengkapi dengan setelan ukurannya di bagian tengah. Fungsinya untuk menyesuaikan tinggi dan rendah, sesuai kenyamanan pengguna.
Baca juga: Presiden Batal ke Nagekeo, Santunan Duka untuk 13 Ahli Waris Diserahkan Bupati
Dalam keadaan bungkuk, para lansia menggenggam erat tongkat tersebut. Kaki mereka melangkah kecil secara perlahan-lahan.
Anselmus Neo (62) yang mengalami stroke mengaku nyaman dan senang saat memakai tongkat bantuan tersebut.
"Senang ko, kami tidak sangka, kebutuhan kami bisa disediakan," ujar Maksimus ketika ditanya soal perasaannya menggunakan tongkat tersebut.
Selain tongkat berjalan bagi para lansia, sebanyak 200 warga terdampak Gempa Flores di Tarunggawan juga mendapatkan bantuan sembako, obat-obatan dan vitamin untuk anak-anak dan orang dewasa yang menderita sesak napas, demam, pilek, lambung, hipertensi, batuk sesuai permintaan dan kebutuhan warga.
Kebutuhan yang lainnya seperti sabun mandi dan cuci, susu,roti, minyak goreng, tikar, sanitary pad, diapers anak dan dewasa, terpal, spon, pensil warna dan buku gambar untuk anak-anak.
"Kami mengucapkan terima kasih kepada ibu Sherly sekeluarga di Woloara dan keluarga di Belgia. Terima kasih atas bantuan yang sudah kami terima. Semoga keluarga ibu Sherly dan keluarga di Belgia selalu diberkati dan diberi segala kemudahan," ungkap Maria Oktavia Saopung.
Kepada TribunFlores.com, Minggu (23/8/2026), Maria Sherly Hilene, S.Pd., M.Tesol mengatakan bantuan tersebut diserahkan pada Sabtu (22/8/2026) malam.
Perempuan yang akrab disapa Sherly menuturkan di Iligai terdapat 61 Kepala Keluarga yang menyebar di sembilan titik pengungsian.
"Saat seperti ini, dimana begitu banyak orang terdampak, kita semua adalah korban bencana alam namun ada yang lebih susah hidupnya dari kita," kata Sherly.
Pompinan Rumah Belajar Sanctissima Woloara tersebut memegang teguh pesan Paus Fransiskus bahwa Hidup untuk orang lain adalah keharusan.
"Berbagi tidak membuat kita miskin, tetapi membuat kita semakin diberkati," ujarnya.
Sherly juga mengucapkan terima kasih kepada orang tua dan keluarga di Belgia, dibawah Yayasan De Kinderen Van Flores di Belgia.
"Terima kaaih sebanyaknya kepada Mama Marleen Colson, Papa Luc Gaindourze,om Bart Colson dan kaka Paul Marton. Yayasan ini membantu juga operasional kami di Rumah Belajar Sanctissima, juga membantu anak-anak Flores," ujar Sherly.
Rumah Belajar Sanctissima Woloara merupakan rumah belajar gratis yang memberikan pelayanan pendidikan, makanan dan kesehatan gratis bagi 104 anak di Woloara, Ribang, Wairpelit dan Gere, Kecamatan Koting, Kabupaten Sikka.
Sebagai istri seorang anggota Brimob di Batalyon B Pelopor Labuan Bajo, Manggarai Barat, saat ini Sherly aktif menjadi anggota Bhayangkari Brimob Batalyon B Pelopor Kompi 4 Labuan Bajo di Manggarai Barat, Flores. (moa)