TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mantan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto dan seorang aktivis muda yang juga mahasiswa di Inggris, Dhana Baswara, menggagas konsep Archipelagic Thinking atau berpikir kepulauan sebagai salah satu pendekatan untuk melihat masa depan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.
Tiyo dikenal sebagai mahasiswa yang kritis dalam mengampaikan argumennya soal kebijakan pemerintah.
Baca juga: Prabowo Ngaku Tahu Massa Demo Dibayar, Eks Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto: Ekspresi Kepanikan Istana
Sementara Dhana adalah calon magister ilmu pemerintahan dan kebijakan publik di Institute of Development Studies (IDS), Inggris.
Gagasan tersebut muncul dalam diskusi yang digelar di Solo, Jawa Tengah. Konsep Archipelagic Thinking yang mereka tawarkan berangkat dari karakter Indonesia sebagai negara kepulauan dengan keragaman sosial, budaya, geografis, dan potensi ekonomi di setiap daerah.
Menurut Tiyo dan Dhana, karakter tersebut perlu menjadi pertimbangan dalam merumuskan kebijakan publik sehingga pendekatan pembangunan tidak selalu menggunakan pola yang seragam untuk seluruh wilayah Indonesia.
Tiyo yang merupakan mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, mengatakan Indonesia membutuhkan cara pandang yang mampu melihat keragaman daerah sebagai kekuatan.
Sementara Dhana Baswara merupakan lulusan kebijakan publik dari Universitas Sussex, Inggris.
Dalam diskusi tersebut, pengalaman Dhana selama menempuh pendidikan di Inggris menjadi salah satu bahan pembicaraan. Ia melihat bagaimana Inggris tetap mempertahankan tradisi dan identitas budayanya di tengah sistem masyarakat yang relatif terbuka.
Dari diskusi itu kemudian muncul gagasan untuk melihat Indonesia melalui perspektif negara kepulauan.
Menurut mereka, pemerintah perlu memiliki pemahaman yang lebih mendalam terhadap karakter setiap wilayah sebelum menetapkan kebijakan.
Dengan demikian, kebijakan publik diharapkan tidak hanya berangkat dari pendekatan satu standar untuk seluruh daerah, tetapi juga mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat.
Namun, gagasan tersebut masih berada pada tahap pengembangan. Tiyo dan Dhana berencana membawa diskusi tersebut ke berbagai daerah melalui sebuah roadshow nasional.
Roadshow itu nantinya ditujukan untuk bertemu dengan generasi milenial dan Generasi Z sekaligus mendengar aspirasi mereka mengenai masa depan daerah masing-masing.
“Kami ingin mendalami pemikiran anak muda dari seluruh Indonesia mengenai masa depan daerah mereka,” ujar Tiyo dalam keterangannya, Minggu (23/8/2026).
Baca juga: Bukan Milik Besan Andika Perkasa, Mobil Tiyo yang Dipasangi Pelacak Pinjam Saudara: Saya Diteror
Kemudian Dhana menambahkan, dialog dengan anak muda di berbagai daerah diperlukan agar gagasan mengenai masa depan Indonesia tidak hanya dibicarakan dari perspektif kelompok yang berada di pusat.
"Nantinya format roadshow tersebut masih dalam tahap pembahasan. Kegiatan dapat dikembangkan dalam bentuk diskusi terbuka, siniar atau podcast, dokumenter, maupun format lain yang memungkinkan keterlibatan anak muda secara lebih luas," kata Dhana.
Dhana juga membuka kemungkinan menjadikan platform miliknya sebagai mitra media dalam pelaksanaan program.
Selain membahas kebijakan publik dan karakter negara kepulauan, diskusi Tiyo dan Dhana turut menyoroti persoalan kualitas kepemimpinan serta tantangan moral dan etika yang dihadapi Indonesia.
Tiyo menilai perubahan menuju Indonesia Emas 2045 tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur maupun pertumbuhan ekonomi.
Menurutnya, pembangunan generasi yang memiliki kesadaran moral dan budaya juga menjadi faktor penting dalam menentukan masa depan Indonesia.
Dia berpandangan, persoalan korupsi dan krisis etika yang terjadi di kalangan elite membutuhkan perubahan jangka panjang melalui penyiapan generasi baru.
“Krisis ini sudah sangat akut, untuk menyelesaikannya harus dipotong satu generasi. Kita tidak bisa mengharapkan perubahan terjadi dari generasi sekarang, kita harus menyiapkan generasi masa depan,” kata Tiyo.
Karena itu, dia mendorong agar perubahan dimulai dari cara berpikir generasi muda.
Menurut Tiyo, keberagaman sosial dan budaya Indonesia merupakan modal sosial yang dapat menjadi kekuatan apabila dikelola dengan baik. Di sisi lain, kekayaan sumber daya alam juga menjadi modal ekonomi yang perlu dikelola secara bertanggung jawab.
“Di tangan generasi muda yang punya kesadaran moral dan budaya yang tinggi, potensi Indonesia Emas bisa terwujud,” pungkas Tiyo.
Dengan membawa diskusi langsung ke daerah, keduanya berharap gagasan mengenai Indonesia 2045 tidak hanya menjadi wacana di tingkat pusat, tetapi juga melibatkan suara generasi muda dari berbagai wilayah Indonesia.