TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Mari simak renungan harian Katolik Senin 24 Agustus 2026.
Tema renungan harian katolik "Datang dan Lihatlah: Menemukan Kristus dalam Iman yang Sederhana”.
Renungan harian katolik disiapkan untuk Pesta Santo Bartolomeus, Rasul.
Pesta St. Bartolomeus, Rasul dengan warna liturgi merah.
Bacaan hari Senin: BcE Why. 21:9b-14; Mzm. 145:10-11,12-13ab,17-18; Yoh. 1:45-51 dan BcO Kis. 5:12-32 atau 1Kor. 1:17-2:5 atau 1Kor. 4:1-16.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Senin 24 Agustus 2026, Datang dan Lihatlah
Maka datanglah seorang dari ketujuh malaikat yang memegang ketujuh cawan, yang penuh dengan ketujuh malapetaka terakhir itu, lalu ia berkata kepadaku, katanya: "Marilah ke sini, aku akan menunjukkan kepadamu pengantin perempuan, mempelai Anak Domba." Lalu, di dalam roh ia membawa aku ke atas sebuah gunung yang besar lagi tinggi dan ia menunjukkan kepadaku kota yang kudus itu, Yerusalem, turun dari sorga, dari Allah. Kota itu penuh dengan kemuliaan Allah dan cahayanya sama seperti permata yang paling indah, bagaikan permata yaspis, jernih seperti kristal. Dan temboknya besar lagi tinggi dan pintu gerbangnya dua belas buah; dan di atas pintu-pintu gerbang itu ada dua belas malaikat dan di atasnya tertulis nama kedua belas suku Israel. Di sebelah timur terdapat tiga pintu gerbang dan di sebelah utara tiga pintu gerbang dan di sebelah selatan tiga pintu gerbang dan di sebelah barat tiga pintu gerbang. Dan tembok kota itu mempunyai dua belas batu dasar dan di atasnya tertulis kedua belas nama kedua belas rasul Anak Domba itu.
Mazmur Tanggapan: Mzm. 145:10-11,12-13ab,17-18
Segala yang Kaujadikan itu akan bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN, dan orang-orang yang Kaukasihi akan memuji Engkau.
Kerajaan-Mu ialah kerajaan segala abad, dan pemerintahan-Mu tetap melalui segala keturunan. TUHAN setia dalam segala perkataan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya.
TUHAN itu adil dalam segala jalan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya.
TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan.
Bait Pengantar Injil:
P: Alleluia
U: Alleluia
Bacaan Injil katolik: Yoh. 1:45-51
P: Inilah Injil Yesus karangan Yohanes
U: Dimuliakanlah Tuhan
P: Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: "Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret." Kata Natanael kepadanya: "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?" Kata Filipus kepadanya: "Mari dan lihatlah!" Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: "Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!" Kata Natanael kepada-Nya: "Bagaimana Engkau mengenal aku?" Jawab Yesus kepadanya: "Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara." Kata Natanael kepada-Nya: "Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!" Yesus menjawab, kata-Nya: "Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu." Lalu kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia."
P:Demikianlah Injil Tuhan
U:Terpujilah Kristus
Renungan Harian Katolik
"Datang dan Lihatlah: Menemukan Kristus dalam Iman yang Sederhana”
Pengantar Renungan Katolik Hari Ini
Hari ini, Gereja Katolik merayakan Pesta Santo Bartolomeus, Rasul, salah seorang dari Dua Belas Rasul yang dipanggil langsung oleh Yesus untuk menjadi saksi karya keselamatan-Nya. Dalam tradisi Gereja, Bartolomeus sering diidentifikasikan dengan Natanael, tokoh yang tampil dalam Injil Yohanes dan menjadi pusat permenungan kita hari ini.
Bacaan Injil Yohanes 1:45-51 membawa kita kepada sebuah perjumpaan yang sederhana, tetapi sangat mendalam. Filipus berkata kepada Natanael bahwa ia telah menemukan Dia yang dinubuatkan dalam Kitab Taurat dan para nabi, yaitu Yesus dari Nazaret. Natanael kemudian bertanya dengan nada skeptis, “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?”
Pertanyaan itu terasa sangat manusiawi.
Bukankah kita pun sering memiliki prasangka? Bukankah kita kadang merasa bahwa Tuhan tidak mungkin bekerja melalui sesuatu yang sederhana, biasa, atau bahkan tidak sesuai dengan harapan kita?
Namun Filipus tidak berdebat panjang. Ia hanya berkata, “Mari dan lihatlah.”
Kalimat sederhana itu menjadi pintu menuju sebuah pengalaman iman. Natanael datang, melihat, berbicara dengan Yesus, dan akhirnya mengakui-Nya sebagai Anak Allah dan Raja orang Israel.
Inilah salah satu pesan penting renungan harian Katolik hari ini: iman tidak selalu dimulai dari jawaban yang lengkap. Kadang iman dimulai dari keberanian untuk datang, melihat, mendengarkan, dan membuka hati.
Dalam kisah Injil hari ini, Filipus menemukan Natanael dan menyampaikan kabar yang menggembirakan. Ia mengatakan bahwa dirinya telah menemukan Dia yang ditulis oleh Musa dalam hukum Taurat dan oleh para nabi.
Namun Natanael tidak langsung percaya.
Ia bertanya, “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?”
Natanael tampaknya memiliki gambaran tertentu tentang bagaimana seorang yang berasal dari Allah seharusnya hadir. Nazaret bukanlah tempat yang menurut pikirannya memiliki keistimewaan tertentu. Karena itu, ia merasa heran bahwa Mesias yang dijanjikan justru berasal dari tempat tersebut.
Tetapi Filipus tidak memaksa Natanael.
Ia tidak mengatakan, “Kamu harus percaya kepadaku.”
Ia juga tidak mempermalukan Natanael karena keraguannya.
Filipus hanya berkata:
“Mari dan lihatlah.”
Ajakan ini sangat indah untuk kehidupan iman kita. Tuhan tidak selalu memanggil kita untuk memenangkan perdebatan. Sering kali Tuhan hanya mengundang kita untuk mengalami sendiri kehadiran-Nya.
Iman bukan sekadar kumpulan pengetahuan mengenai Tuhan. Iman adalah perjumpaan dengan Pribadi yang hidup.
Tuhan Mengenal Kita Sebelum Kita Mengenal-Nya
Ketika Natanael datang kepada Yesus, sesuatu yang mengejutkan terjadi. Yesus berkata bahwa Natanael adalah seorang Israel sejati dan tidak ada kepalsuan di dalam dirinya.
Natanael kemudian bertanya bagaimana Yesus mengenalnya.
Jawaban Yesus menunjukkan bahwa Ia telah melihat Natanael sebelum Filipus memanggilnya. Hal ini membuat Natanael semakin terkejut dan akhirnya mengakui siapa Yesus.
Peristiwa tersebut menyampaikan sebuah kebenaran rohani yang sangat menghibur: Tuhan mengenal kita lebih dalam daripada kita mengenal diri sendiri.
Manusia sering merasa harus menjelaskan dirinya kepada Tuhan.
Kita mungkin datang dalam doa sambil membawa banyak kata. Kita menjelaskan kegagalan, kecemasan, harapan, impian, dan kelemahan kita.
Namun sebelum kita berbicara, Tuhan sudah mengenal kita.
Sebelum kita mencari-Nya, Dia telah melihat kita.
Sebelum kita menyadari kehadiran-Nya, Dia telah hadir dalam perjalanan hidup kita.
Inilah yang dapat menjadi bagian penting dari refleksi Sabda Tuhan hari ini. Tuhan bukan Allah yang jauh dan tidak peduli. Ia adalah Allah yang melihat hati manusia. Ia mengenal perjuangan yang tidak diketahui orang lain. Ia mengetahui air mata yang mungkin tidak pernah kita ceritakan kepada siapa pun. Ia mengetahui kerinduan yang bahkan sulit kita ungkapkan dalam doa.
Karena itu, kita tidak perlu datang kepada Tuhan dengan kepura-puraan.
Datanglah apa adanya.
Datanglah dengan iman yang sederhana.
Datanglah dengan pertanyaan.
Datanglah bahkan ketika hati kita belum sepenuhnya memahami jalan-Nya.
Refleksi Sabda Tuhan: “Mari dan Lihatlah”
1. Tuhan Dapat Hadir Melalui Hal-Hal yang Sederhana
Pertanyaan Natanael tentang Nazaret mengingatkan kita bahwa manusia sering memiliki gambaran tertentu tentang bagaimana Tuhan seharusnya bekerja.
Kita mungkin berpikir bahwa Tuhan harus hadir melalui peristiwa besar.
Kita menunggu mukjizat.
Kita menunggu tanda yang luar biasa.
Kita menunggu sesuatu yang spektakuler.
Padahal, Tuhan sering hadir melalui hal-hal yang sangat sederhana.
Ia dapat hadir melalui doa singkat seorang ibu.
Ia dapat hadir melalui nasihat seorang ayah.
Ia dapat hadir melalui guru yang dengan sabar membimbing muridnya.
Ia dapat hadir melalui sahabat yang datang ketika kita sedang mengalami kesulitan.
Ia dapat hadir melalui seseorang yang mengucapkan kata-kata sederhana tetapi tepat pada waktunya.
Ia juga dapat hadir melalui keheningan ketika kita duduk sejenak di hadapan-Nya.
Nazaret mengajarkan bahwa Tuhan tidak selalu memilih sesuatu yang menurut manusia tampak besar.
Karena itu, jangan meremehkan hal-hal kecil yang terjadi dalam hidup kita.
Mungkin justru di sana Tuhan sedang bekerja.
2. Jangan Membiarkan Prasangka Menutup Pintu Iman
Natanael memiliki prasangka terhadap Nazaret. Ia bertanya apakah sesuatu yang baik dapat berasal dari sana.
Kita pun dapat mengalami hal yang sama.
Kadang kita menilai seseorang hanya berdasarkan masa lalunya.
Kita menilai orang berdasarkan keluarganya.
Kita menilai seseorang berdasarkan pekerjaannya, penampilannya, pendidikannya, atau lingkungan tempat ia berasal.
Padahal Tuhan melihat jauh lebih dalam.
Tuhan melihat hati.
Pesta Santo Bartolomeus mengajak kita memeriksa hati sendiri: apakah ada prasangka yang membuat kita sulit melihat kebaikan dalam diri orang lain?
Apakah kita terlalu cepat mengatakan bahwa seseorang tidak mungkin berubah?
Apakah kita menganggap seseorang tidak layak mendapatkan kesempatan kedua?
Apakah kita pernah menutup kemungkinan bahwa Tuhan sedang bekerja melalui orang yang tidak kita sukai?
Iman kepada Kristus seharusnya membuat hati kita semakin luas.
Semakin kita mengenal Kristus, semakin kita belajar melihat manusia bukan hanya berdasarkan kekurangannya, tetapi berdasarkan martabatnya sebagai ciptaan Allah.
3. Keraguan Tidak Harus Menjadi Akhir Perjalanan
Natanael tidak langsung percaya.
Ini penting untuk direnungkan.
Iman bukan berarti seseorang tidak pernah mempunyai pertanyaan. Iman juga bukan berarti kita selalu memahami segala sesuatu.
Ada masa ketika kita bertanya:
“Tuhan, mengapa ini terjadi?”
“Tuhan, mengapa doaku belum terjawab?”
“Tuhan, ke mana Engkau ketika aku menghadapi kesulitan?”
Pertanyaan seperti itu tidak selalu berarti kita meninggalkan Tuhan.
Kadang pertanyaan justru menjadi awal pencarian yang lebih dalam.
Yang penting adalah apa yang kita lakukan dengan keraguan tersebut.
Filipus tidak memaksa Natanael untuk segera memahami semuanya. Ia mengajaknya datang dan melihat.
Demikian pula kita dipanggil untuk membawa pertanyaan kita kepada Kristus.
Datanglah kepada-Nya dalam doa.
Bacalah Kitab Suci.
Hadirilah Perayaan Ekaristi.
Berbicaralah dengan orang yang dapat membantu kita dalam iman.
Berikan waktu bagi hati untuk bertumbuh.
Kadang jawaban Tuhan tidak datang dalam satu malam. Tetapi perjalanan bersama Tuhan perlahan membentuk hati kita.
Santo Bartolomeus, Rasul: Saksi yang Setia
Pesta hari ini mengarahkan perhatian kita kepada Santo Bartolomeus, Rasul, seorang dari Dua Belas yang dipilih Yesus.
Kitab Suci tidak memberikan banyak informasi mengenai perjalanan hidup Bartolomeus setelah masa pelayanan Yesus. Namun justru di situlah kita menemukan pelajaran penting.
Tidak semua orang dipanggil untuk menjadi terkenal.
Tidak semua pelayanan harus terlihat oleh banyak orang.
Tidak semua kesetiaan menghasilkan penghargaan duniawi.
Para rasul pertama-tama dipanggil untuk menjadi saksi.
Mereka mengikuti Kristus.
Mereka mendengarkan pengajaran-Nya.
Mereka menyaksikan karya-Nya.
Mereka mengalami wafat dan kebangkitan-Nya.
Kemudian mereka diutus untuk mewartakan Injil.
Santo Bartolomeus menjadi bagian dari sejarah keselamatan tersebut.
Kehidupannya mengingatkan kita bahwa ukuran kesetiaan bukanlah seberapa terkenal nama kita, melainkan seberapa sungguh kita menjawab panggilan Tuhan.
Apa Arti Menjadi Saksi Kristus pada Zaman Sekarang?
Menjadi saksi Kristus tidak selalu berarti berdiri di depan banyak orang dan berkhotbah.
Seorang anak dapat menjadi saksi Kristus melalui kejujuran.
Seorang pelajar dapat menjadi saksi Kristus dengan belajar sungguh-sungguh dan tidak menyontek.
Seorang pekerja dapat menjadi saksi Kristus melalui tanggung jawab.
Seorang anggota keluarga dapat menjadi saksi Kristus dengan kesabaran.
Seorang sahabat dapat menjadi saksi Kristus dengan kesediaan mendengarkan.
Seorang umat Katolik dapat menjadi saksi Kristus dengan menghadirkan kasih, pengampunan, dan kebenaran dalam kehidupan sehari-hari.
Kesaksian terbesar sering kali bukan kata-kata, melainkan cara hidup.
Orang lain mungkin tidak membaca Kitab Suci setiap hari.
Tetapi mereka dapat “membaca” kehidupan kita.
Mereka dapat melihat apakah iman membuat kita lebih rendah hati.
Mereka dapat melihat apakah doa membuat kita lebih sabar.
Mereka dapat melihat apakah Ekaristi membuat kita lebih murah hati.
Mereka dapat melihat apakah kita sungguh mengikuti Kristus dalam memperlakukan sesama.
“Aku Telah Melihatmu”: Tuhan yang Tidak Pernah Melupakan Kita
Salah satu bagian paling menyentuh dari Injil hari ini adalah kenyataan bahwa Yesus telah melihat Natanael sebelum Natanael datang kepada-Nya.
Kalimat tersebut dapat menjadi sumber penghiburan bagi kita.
Ada kalanya manusia merasa tidak dilihat.
Kita mungkin melakukan kebaikan tetapi tidak dihargai.
Kita mungkin berusaha tetapi tidak ada yang menyadarinya.
Kita mungkin berjuang dalam keheningan dan merasa sendirian.
Namun Injil hari ini mengingatkan: Tuhan melihat.
Tuhan melihat perjuangan kita.
Tuhan melihat niat baik kita.
Tuhan melihat kesetiaan kecil yang mungkin tidak diperhatikan siapa pun.
Tuhan melihat doa yang hanya berupa beberapa kata.
Tuhan melihat ketika kita memilih untuk mengampuni.
Tuhan melihat ketika kita menahan diri untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.
Tuhan melihat ketika kita tetap melakukan yang benar meskipun tidak ada yang memberikan pujian.
Karena itu, jangan pernah mengukur nilai hidup hanya berdasarkan penilaian manusia.
Ada tatapan yang jauh lebih penting daripada tatapan dunia: tatapan kasih Allah.
Belajar dari Santo Bartolomeus: Datang, Melihat, dan Bersaksi
Kisah Natanael dapat dirangkum dalam tiga gerakan rohani.
Datang kepada Kristus
Filipus berkata, “Mari dan lihatlah.”
Kita pun dipanggil untuk datang kepada Yesus.
Datang berarti membuka hati.
Datang berarti menyediakan waktu untuk berdoa.
Datang berarti berani meninggalkan kesibukan sejenak agar hati dapat berjumpa dengan Tuhan.
Tidak ada kehidupan rohani tanpa perjumpaan.
Kita dapat mengetahui banyak hal tentang Yesus, tetapi kita tetap perlu mengenal-Nya secara pribadi dalam doa dan kehidupan.
Melihat karya Tuhan
Setelah datang, Natanael mengalami sesuatu yang mengubah pandangannya.
Ia melihat bahwa Yesus jauh lebih besar daripada prasangkanya.
Kita pun perlu belajar melihat karya Tuhan.
Kadang karya Tuhan tidak langsung tampak.
Namun jika kita melihat kembali perjalanan hidup dengan hati yang tenang, kita mungkin menemukan banyak rahmat yang dahulu tidak kita sadari.
Ada doa yang pernah kita ucapkan dan ternyata Tuhan jawab dengan cara berbeda.
Ada jalan yang tertutup dan kemudian kita sadari bahwa penutupan itu menyelamatkan kita dari sesuatu.
Ada seseorang yang hadir pada waktu yang tepat.
Ada kekuatan yang muncul ketika kita merasa sudah tidak mampu.
Semua itu dapat menjadi bagian dari perjalanan rahmat.
Bersaksi tentang Kristus
Setelah mengalami perjumpaan dengan Yesus, Natanael memberikan pengakuan iman.
Inilah tujuan perjalanan iman.
Kita tidak dipanggil hanya untuk menerima.
Kita juga dipanggil untuk memberi kesaksian.
Dunia membutuhkan orang-orang yang menghadirkan Kristus melalui kehidupan nyata. (Sumber iman katolik.or.id/the katolik.com/kgg).