Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Robert Ropo
POS-KUPANG.COM, RUTENG -- Gempa bumi dengan magnitudo 7.7 Mbay, Kabupaten Nagekeo, Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu 15 Agustus 2026 kemarin, menyisahkan cerita pahit dan mengharukan bagi para korban.
Salah satunya Mahatir Muhamad, warga Reo, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai. Mahatir bersama istrinya Nurlaila dan anak mereka berusia 2 tahun selamat dari maut, meski sudah terkubur dengan reruntuhan bangunan rumah milik mereka saat gempa bumi dahsyat itu terjadi.
Mahatir kepada POS-KUPANG.COM, Senin 24 Agustus 2026, mengkisahkan, saat guncangan gempa terjadi, dirinya bersama istri dan anak masih tertidur di dalam kamar. Saat terjadi geteran gempa, ia kemudian merangkul anak dan membangun istrinya untuk berusaha lari keluar rumah untuk menyelamatkan diri.
Namun sayang kejadian begitu cepat sehingga ketiganya harus tertimpah dan terkubur oleh runtuhan bangunan rumah milik mereka.
Baca juga: Korban di Wangkung Reo Manggarai Bertahan di Posko Mandiri Kewalahan Beras dan Terpal
"Waktu itu masih jam 5 lewat, kita masih tidur di dalam kamar, saat itu ada rasa getaran, saya spontan langsung bangun gendong anak sambil bangunin istri saya agar pegang badan kuat-kuat karena rumah tidak kuat. Kami langsung berusaha lari keluar namun saat di pintu keluar kami terpental dua kali karena geteran gempa itu besar sekali,"kisah Mahatir.
"Kejadian begitu cepat, saat kami terpental itu kami sudah pasrah karena bangunan rumah sudah runtuh dan sudah menimpah kami. Tapi bersyukur saat itu anak saya terpental keluar dan terlindungi dibalik runtuhan pintu rumah. Sedangkan saya bersama istri sudah tertimbun dengan material runtuhan bangunan dinding tembok rumah,"sambung kisahnya.
Mahatir mengaku, meski saat itu ketiganya sudah terkubur di dalam runtuhan bangunan, namun beruntung berhasil dievakuasi oleh warga di sekitar untuk bisa keluar dari reruntuhan bangunan itu.
"Beruntung sekali, saat itu masih ada warga di sekitar sehingga mereka berusaha menolong kami dari dalam runtuhan bangunan itu,"ujarnya.
Mahatir juga mengaku, pasca ketiganya dievakuasi keluar dari reruntuhan bangunan, warga kemudian langsung berlari untuk menyelamatkan diri masing-masing ke dataran tinggi meninggalkan mereka sendiri karena saat itu ada isu bahwa tsunami. Sehingga ia bersama istrinya dengan sisa-sisa tenaga yang ada dan kondisi parah kemudian juga ikut menyelamatkan diri, meski kaki sebelah istrinya tak bisa berjalan.
"Waktu itu, setelah kami ditolong keluar dari runtuhan bangunan, kami dilepas oleh warga di lokasi karena saat itu warga semua pada masing-masing menyelamatkan diri karena panik ada isu air laut naik. Sehingga dengan sisa-sisa tenaga yang ada meski penuh luka dan kaki sebelah kiri istri saya sakit tapi kami berusaha ikut lari selamatkan diri, untung di tengah jalan ada keluarga yang bantu bonceng dengan motor untuk selamatkan kami sampai di dataran tinggi,"kisahnya.
Mahatir mengaku, dengan terkena runtuhan bangunan rumah, ia mengalami luka robek pada kepala di bagian dahi dan telinga. Lukanya harus diatasi medis dengan jahitan.
"Kalau luka robek di bagian kepala bagian dahi ini dapat jahitan delapan kali, sedangkan robek di telinga jahatnya empat kali,"ujarnya.
Sedangkan istrinya, kata Mahatir, kondisinya paling paraH dimana kakinya keseleo atau patah akibat benturan keras runtuhan tembok bangunan dan juga mengalami memar dan luka goresan lain di tubuh.
"Sampai sekarang istri saya masih dirawat karena kaki kirinya masih sakit sekali,"ujarnya.
Sementara anaknya, kata Mahatir, tidak mengalami luka berat hanya luka goresan dan benturan di badan, namun hasil pemeriksaan dokter anaknya dalam kondisi baik.
Mahatir juga menyampaikan terima kasih kepada pemerintah, dokter dan petugas medis karena berhasil menangani mereka dengan cepat.
Pasca gempa bumi itu, ia bersama istri dan anaknya pun langsung dengan cepat dilarikan ke posko pengungsian Barang Kolong Reo untuk mendapatkan penanganan medis.
"Terima kasih untuk pemerintah, dokter dan tenaga medis yang telah menolong kami dengan baik. Sekarang kondisi luka saya sudah mulai membaik, kondisi anak saya juga sudah diperiksa dengan baik, begitu juga istri saya, tapi istri saya masih penanganan serius oleh medis karena kakinya sakit sekali," ujarnya.
Tak lupa Mahathir juga menyampaikan terima kasih kepada warga yang sempat mengevakuasi mereka dari balik reruntuhan bangunan.
"Terima kasih semua untuk orang-orang yang masih menolong kami saat situasi menegangkan waktu itu. Tanpa mereka, mungkin kondisi kami mungkin lebih para bahakan mungkin nyawa kami tidak bisa tertolong,"ungkapnya. (rob)