TRIBUNJOGJA.COM - Peringatan Maulid Nabi di Yogyakarta sangat khas dengan budaya sekaten. Namun tidak hanya itu, kuliner yang identik dengan peringatan Maulid juga ikut dihadirkan dalam tradisi tersebut.
Melalui laman Instagram resminya, Keraton Yogyakarta mengumumkan dijualnya sajian khas sekaten selama berlangsungnya Hajad Dalem Sekaten. Acara itu dilaksanakan di Halaman Kagungan Dalem Masjid Gedhe pada 19-25 Agustus 2026. Empat hidangan khas sekaten yang dijual adalah sebagai berikut:
1. Nasi Gurih Sekaten
Nasi gurih adalah salah satu hidangan perayaan sekaten yang wajib dicoba. Seperti namanya, nasi di hidangan ini memiliki cita rasa gurih dari santan dan rempah-rempah.
Walau sudah terasa gurih, nasi ini memiliki macam-macam lauk pelengkap seperti irisan tempe, suwiran ayam, kacang tolo atau kedelai yang ditumis hingga hitam, dan aneka sambal yang melengkapi rasa.
Nasi gurih di perayaan sekaten secara filosofis menggambarkan rasa syukur atas rezeki serta permohonan keselamatan dan keberkahan.
2. Telur Merah
Telur merah atau sebutan Jawanya endog abang merupakan hidangan khas sekaten yang wajib ada.
Sebab telur ini melambangkan kelahiran atau awal kehidupan. Sehingga keberadaannya sangat penting pada perayaan kelahiran Nabi Muhammad.
Tidak hanya sekadar warna, merah pada telur ini mencerminkan keberanian dan semangat hidup.
Biasanya telur merah disajikan dengan ditancapkan pada bilah bambu dengan hiasan kembang atau bunga mangar.
Penyajian dengan bilah bambu ini juga memiliki makna hubungan vertikal dengan sang pencipta manusia.
3. Sate Gajih
Sate gajih atau biasanya disebut sate kere menjadi hidangan khas sekaten yang akan dijual selama perayaan sekaten oleh Keraton Yogyakarta.
Nama kere disematkan sebab sate ini berasal dari gajih atau lemak sapi yang harganya murah.
Satu porsi sate gajih sangat terjangkau. Harganya mulai dari Rp5.000 hingga Rp10.000.
Sate ini berada di setiap sudut dengan aroma bakarannya yang menggoda. Jangan ketinggalan membeli sate ini ya, Tribunners!
4. Roti Kembang Waru
Roti kembang waru ada di deretan hidangan sekaten sebab nilai sejarahnya.
Roti ini merupakan kuliner warisan Kerajaan Mataram Islam yang memiliki delapan sisi menyerupai kelopak bunga.
Delapan sisi itu melambangkan delapan jalan utama atau hasto broto yang diibaratkan delapan elemen penting dalam kehidupan manusia, yakni matahari, bulan, bintang, mega (awan), tirta (air), kismo (tanah), samudra, dan maruto (angin).
Dinamai waru sebab dulu banyak tumbuh pohon waru di sekitar Kotagede yang menjadi ibu kota kerajaan pada masa itu.
Kue ini juga sangat spesial sebab dulu hanya bisa ditemui pada perayaan-perayaan khusus raja.
(MG Fuza Nihayatul Chusna)