Bantuan untuk Desa Adat Sade Terkumpul Rp2,4 Miliar, WNA Ikut Donasi
Laelatunniam August 24, 2026 02:21 PM

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Ahmad Wawan Sugandika

TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK TENGAH - Dukungan dan simpati dari berbagai elemen serta lembaga bagi masyarakat Desa Adat Sade pasca insiden kebakaran.

Setidaknya, hingga saat ini bantuan materiil yang telah terkumpul dan diterima pemerintah desa mencapai Rp2,4 miliar lebih.

"Perkiraan sementara ada Rp2,4 miliar lebih yang sudah kami terima," ucap Kepala Desa (Kades) Rambitan, Lalu Mirata saat ditemui, Selasa (24/8/2026).

Diungkapkannya, bantuan yang diterima berasal dari berbagai pihak. Selebriti nasional Raffi Ahmad menyumbang hingga Rp1,4 miliar yang diterima langsung oleh pihak desa.

Selain itu, ada sumbangan dari pejabat publik, di antaranya Anggota DPR RI, Sari Yuliati sebesar Rp200 juta, hingga Istri Gubernur NTB, Sinta Agathia Iqbal sebesar Rp50 juta.

"Raffi Rp1,4 miliar, Bu Sari Rp200 juta, dan Bu Sinta istri Mas Gub Rp50 juta. Ada bantuan juga dari sejumlah masyarakat," katanya.

Berdasarkan pendataan pihak desa, banyak pula wisatawan yang didominasi Warga Negara Asing (WNA) menyumbang, baik dalam bentuk barang maupun materiil.

"Ada bantuan yang langsung ke masyarakat, ada juga beberapa bantuan yang bentuknya Rp1 juta, Rp2 juta, dan ada yang Rp10 juta dari WNA," ungkapnya.

Lalu Mirata menekankan bahwa sumbangan ini merupakan bentuk kepedulian masyarakat, bukan hanya dari NTB dan Indonesia, tetapi juga dari masyarakat internasional terhadap Rumah Adat Sade yang merupakan peninggalan leluhur suku Sasak.

"Ini bentuk kepedulian terhadap Sade. Bantuan ini bukan hanya datang dari warga NTB dan Indonesia, tetapi juga internasional," sebutnya.

Simpati dan empati hingga saat ini terus mengalir. Pihaknya atas nama masyarakat Desa Sade turut menyampaikan ungkapan terima kasih yang tak terhingga.

"Banyak sekali orang yang bersimpati dan berempati terhadap kejadian ini. Atas nama pemerintah desa dan masyarakat, saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh lapisan, baik lokal, nasional, maupun internasional," tuturnya.

"Ini merupakan cahaya bagi kami yang saat ini sedang berduka. Bantuan, dukungan doa, dan moril adalah penyemangat bagi kami di saat kami terpuruk," pungkasnya.

Baca juga: Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Momentum Bangun Wisata NTB Tanggap Bencana

Dampak Kebakaran

HANGUS - Kondisi kampung adat Suku Sasak yang hangus terbakar di Dusun Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, NTB, Minggu (23/8/2026).
HANGUS - Kondisi kampung adat Suku Sasak yang hangus terbakar di Dusun Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, NTB, Minggu (23/8/2026). (TRIBUNLOMBOK.COM)

Kebakaran terjadi pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026, sekitar pukul 22.05 WITA. Berdasarkan informasi awal dari masyarakat setempat, kobaran api diduga pertama kali muncul dari salah satu rumah warga di sekitar area Pohon Cinta yang berada di tengah-tengah pemukiman, tidak jauh dari Masjid Tua. 

Penyebab kebakaran diduga kuat akibat hubungan arus pendek listrik (korsleting) karena kondisi jaringan kabel yang saling berdempetan. 

Padatnya jarak antar-bangunan serta material atap jerami/alang-alang yang mudah terbakar menyebabkan api sulit dikendalikan dan menyebar luas ke seluruh area Desa Adat Sade.

Musibah ini mengakibatkan kerusakan masif pada ekosistem kebudayaan fisik dan non-fisik desa adat, dengan total aset bangunan terdampak mencapai 167 unit. 

Rincian kerusakan objek meliputi:

* Rumah Adat: 75 unit hangus terbakar.
* Artshop (Toko Kerajinan): 69 unit hangus terbakar.
* Lumbung Alang: 8 unit hangus terbakar.
* Berugak Sekepat: 6 unit terdampak.
* Berugak Sekenam Besar: 4 unit terdampak.
* Aset Lainnya: 1 unit Masjid, 1 unit Bale Beleq, 1 unit Toilet Umum Wisatawan, 1 unit Gerbang Desa, dan 1 unit Pelonggo ikut terdampak kebakaran.

Selain bangunan fisik, kebakaran menghanguskan berbagai benda pusaka dan warisan budaya berharga milik masyarakat Sasak yang bernilai spiritual serta historis tinggi. 

Di antaranya adalah berbagai jenis keris, tombak, dan klewang (setiap keluarga rata-rata kehilangan 3–4 bilah keris yang tidak sempat diselamatkan), 10 set peralatan seni Peresean, 8 unit Gendang Beleq (4 unit berhasil diselamatkan), serta kemusnahan Gong Tua ritual dan naskah-naskah kuno berbahasa Sanskerta.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.