Araghchi: Perang Ekonomi Trump terhadap Iran Hanya Mengulang Strategi yang Gagal
Garudea Prabawati August 24, 2026 03:38 PM

 

 

TRIBUNNEWS.COM - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menilai apa yang disebut Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebagai “operasi ekonomi” terhadap Iran merupakan pengulangan strategi Washington yang sebelumnya tidak berhasil.

Berbicara di Teheran pada Minggu (23/8/2026), Araghchi mengatakan Amerika Serikat sebelumnya telah mengancam Iran dengan operasi militer dan serangan, sebelum kembali menggunakan pendekatan yang menurutnya telah diterapkan sebelumnya tanpa menghasilkan tujuan yang diinginkan.

Menurut Araghchi, peralihan dari ancaman militer menuju tekanan ekonomi menunjukkan bahwa Washington tidak memiliki pilihan baru dalam menghadapi Iran.

“Amerika Serikat terus mengulangi rencana yang sama,” ujar Araghchi mengutip Al Mayadeen, Senin (24/8/2026).

Ia mendesak Washington untuk berbicara kepada rakyat Iran dengan rasa hormat serta mencari penyelesaian berdasarkan prinsip keadilan dan martabat.

Sementara itu, Presiden Donald Trump menegaskan bahwa peningkatan tekanan ekonomi terhadap Iran tidak berarti opsi militer Amerika Serikat telah dikesampingkan.

Baca juga: Aturan Baru Iran Bikin Kapal Asing Ketar-ketir! Pelanggar Selat Hormuz Terancam Disita

Ketika ditanya wartawan apakah pergeseran menuju strategi ekonomi membatasi pilihan militer Washington di kawasan, Trump menjawab, “Tidak, sama sekali tidak.”

Trump sebelumnya mengatakan Teheran telah gagal memanfaatkan kesempatan untuk mencapai kesepakatan dengan Washington.

Menurutnya, kondisi tersebut mendorong Amerika Serikat menjalankan apa yang disebutnya sebagai operasi ekonomi berskala besar terhadap Iran.

Di sisi lain, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mayor Jenderal Mohsen Rezaei memperingatkan bahwa Iran dapat memberikan respons keras jika Washington melancarkan perang ekonomi.

Rezaei mengatakan bahwa jika perang ekonomi benar-benar dimulai, “tidak setetes pun minyak akan meninggalkan Teluk.”

Ia juga menyebut Iran telah mengekspor 70 juta barel minyak dalam dua bulan sebelumnya.

Menurut Rezaei, Teheran akan terlebih dahulu bernegosiasi dengan negara-negara tetangga untuk mencegah mereka membantu Washington.

Namun, ia memperingatkan bahwa Iran dapat mengambil tindakan terhadap negara-negara yang tetap membantu Amerika Serikat.

Pernyataan tersebut menunjukkan meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran, dengan tekanan ekonomi, ancaman militer, serta kemungkinan gangguan terhadap jalur energi menjadi bagian dari perseteruan kedua negara.

(*)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.