UT Purwokerto Dorong Ekonomi Syariah Lebih Inklusif, Gandeng Akademisi dan Tokoh Keagamaan
rika irawati August 24, 2026 04:07 PM

 

TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Universitas Terbuka (UT) Purwokerto mendorong pengembangan ekonomi syariah tidak berhenti pada pembahasan konsep, tetapi mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Dorongan tersebut mengemuka dalam Halaqah Ekonomi Syariah yang digelar UT Purwokerto di kampus setempat, Senin (24/8/2026).

Kegiatan tersebut mengusung tema "Dari Akses Terbuka Menuju Maslahat Bersama: Membangun Inklusifitas Ekonomi Syariah di Lingkungan Universitas Terbuka".

Halaqah menjadi forum akademik sekaligus strategis yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, membahas pengembangan ekonomi syariah dan implementasinya di lingkungan perguruan tinggi umum, khususnya Universitas Terbuka.

Universitas Terbuka menilai, konsep keterbukaan yang selama ini menjadi karakteristik penyelenggaraan pendidikan terbuka dan jarak jauh juga dapat dikembangkan memberikan kontribusi terhadap penguatan ekonomi masyarakat.

Kontribusi tersebut diarahkan pada penguatan ekonomi yang berlandaskan nilai-nilai keislaman, kemaslahatan, keadilan, amanah, dan keberlanjutan.

Ekonomi syariah dinilai memiliki potensi besar untuk menjawab berbagai tantangan ekonomi kontemporer.

Perkembangan ekonomi global, transformasi digital, kebutuhan terhadap tata kelola ekonomi yang berintegritas, serta semakin pentingnya peran filantropi Islam menjadi tantangan sekaligus peluang bagi perguruan tinggi.

Direktur UT Purwokerto Dr Prasetyarti Utami mengatakan, kegiatan tersebut memiliki tujuan strategis yang tidak hanya berkaitan dengan rangkaian ziarah ke RM Margono Djojohadikusumo, tetapi juga memiliki keterkaitan dengan visi dan misi UT sebagai perguruan tinggi jarak jauh berkualitas dunia.

Menurutnya, spirit inklusifitas bagi siapa saja sejalan dengan semangat ekonomi kerakyatan yang dibangun RM Margono Djojohadikusumo.

"Membangun kearifan lokal, dan membumikan ekonomi syariah dan optimalisasi bersama tokoh keagamaan."

"Kami ingin, UT jadi ruang bertemu para tokoh lewat tema, Dari Akses Terbuka Menuju Maslahat Bersama: Membangun Inklusifitas Ekonomi Syariah di Lingkungan Universitas Terbuka," kata Prasetyarti.

Baca juga: UT Purwokerto Menggelar Doa Bersama di Makam Margono Djojohadikusumo

Melalui Halaqah Ekonomi Syariah, UT membuka ruang dialog dan kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari perguruan tinggi keagamaan, organisasi kemasyarakatan, pemerintah daerah, lembaga filantropi, akademisi, praktisi hingga masyarakat.

Forum tersebut diharapkan menghasilkan pemikiran dan rekomendasi strategis bagi pengembangan ekonomi Islam di lingkungan perguruan tinggi umum.

Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono dalam sambutannya turut memberikan catatan mengenai bagaimana ekonomi syariah seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan mengenai definisi dan sistem, tetapi juga harus dilihat dari manfaat yang diberikan kepada masyarakat.

Sadewo mengatakan, Universitas Terbuka saat ini sudah tidak lagi bisa disebut sebagai universitas "terbuka" hanya dalam pengertian kampus yang berada di satu tempat.

"Universitas Terbuka yang tidak terbuka lagi karena kampusnya di mana-mana dan saya yakin lulusannya berkualitas," ujar Sadewo.

Ia kemudian mengingatkan agar pembahasan ekonomi syariah tidak berhenti pada pertanyaan mengenai apa itu ekonomi syariah.

"Jangan sampai berhenti apa itu pertanyaan. Apa itu ekonomi syariah, tapi apa manfaat ekonomi syariah."

"Sistem syariah harusnya adalah bagi hasil/untung dan bagi resiko," katanya. 

Sadewo bahkan mendorong kalangan akademisi mengkritisi sekaligus mendiskusikan praktik perbankan syariah yang selama ini berjalan.

"Monggo dicek bank-bank syariah, apakah betul-betul sistem bagi hasil atau agunannya terikat, itu yang bisa didiskusikan kalangan akademisi," ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Sadewo juga menyampaikan cita-citanya menjadikan Purwokerto sebagai kota pendidikan terbesar di Jawa Tengah.

"Saya punya cita-cita Purwokerto jadi kota pendidikan terbesar di Jateng," katanya.

Salah satu pembahasan penting dalam Halaqah Ekonomi Syariah adalah peluang dan tantangan pengembangan kurikulum Ekonomi Islam di Universitas Terbuka.

Selain itu, forum juga membahas tantangan pengembangan Program Studi Ekonomi Islam pada perguruan tinggi umum.

Pembahasan tersebut diharapkan menghasilkan masukan dan rekomendasi untuk pengembangan kurikulum Ekonomi Islam di Universitas Terbuka.

Materi yang dibahas tidak hanya berkaitan dengan aspek akademik.

Direktur UT Purwokerto mengatakan, kegiatan Halaqah juga mengangkat peran filantropi Islam dalam mendukung pengembangan ekonomi, pemberdayaan masyarakat dan kemaslahatan sosial.

Perspektif ekonomi Islam dalam menghadapi dinamika dan gejolak ekonomi global juga menjadi salah satu materi utama.

Hal lain yang menjadi perhatian adalah integritas akuntan syariah.

Dalam pembahasan tersebut, ditekankan pentingnya amanah, integritas, tata kelola dan pencegahan fraud dalam penyelenggaraan aktivitas ekonomi Islam.

Dengan demikian, pengembangan ekonomi syariah tidak hanya diarahkan pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan aktivitas ekonomi berjalan dengan prinsip integritas dan tata kelola yang baik.

Ekonomi Syariah di Tengah Era Digital dan AI

Halaqah Ekonomi Syariah juga membahas tantangan baru yang muncul seiring perkembangan teknologi digital dan artificial intelligence atau AI.

Prof Ojat Darojat, M.Bus., Ph.D., yang menjadi keynote speech dalam kegiatan tersebut, mengatakan, pengembangan ekonomi syariah saat ini harus mencermati perubahan besar yang terjadi akibat perkembangan teknologi.

Prof Ojat merupakan Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan pada Kemenko PMK.

Ia menyampaikan, bagaimana membangun ekonomi syariah di tengah kehidupan masyarakat yang sudah memasuki era digital dan AI.

Menurutnya, perkembangan tersebut telah masuk ke seluruh aspek kehidupan.

Mulai dari industri kerja, pendidikan, kegiatan ekonomi, investasi, hingga bagaimana produk barang dan jasa sampai kepada konsumen.

Ia menyebut sekitar 70 persen warga aktif menggunakan gawai dan rata-rata menghabiskan waktu menggunakan gawai atau gadget.

Kondisi tersebut menunjukkan masyarakat saat ini telah berada di era baru.

Menurutnya, AI bukan sekadar isu teknologi, tetapi juga sudah menjadi isu kebangsaan.

Dalam aktivitas usaha, kata dia, selalu terdapat potensi risiko. 

Baca juga: Wabup Purbalingga ke Mahasiswa Baru UT Purwokerto: Tidak Hanya Cari Ijazah!

Karena itu, basis ekonomi syariah seharusnya tidak hanya berbicara mengenai berbagi keuntungan dan risiko, tetapi juga mengedepankan konsep takaful, yakni saling melindungi.

"Dalam berusaha tentu ada potensi risiko. Harusnya basis ekonomi syariah adalah takaful dan saling melindungi, bukan hanya berbagi keuntungan dan risiko," ujarnya.

Ia mengingatkan agar masyarakat tidak menjadi korban perkembangan teknologi.

Sebaliknya, masyarakat harus mampu menjadi subjek yang mengendalikan dan memanfaatkan perkembangan teknologi, termasuk dalam dunia pendidikan.

"Jangan sampai kita jadi korban atas perkembangan teknologi, tapi justru kita jadi subjek yang kita jalankan termasuk di dunia pendidikan," katanya.

Hadirkan Akademisi, BAZNAS hingga Praktisi Ekonomi Syariah

Halaqah Ekonomi Syariah menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang akademik dan kelembagaan.

Selain Prof Ojat Darojat sebagai keynote speech, narasumber yang hadir yakni KH Muhammad Hazbi Zaenal Ph.D., selaku Direktur Kajian dan Pengembangan BAZNAS RI.

Kemudian Dr KH Luthfi Hamidi, M.A., selaku Rektor UNU Al-Ghazali, serta Prof Dr Ibnu Qizam, M.Si., Ak., CA., selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Jakarta.

Turut hadir Associate Prof Akhmad Darmawan, S.E., M.Si., Ph.D., selaku Ketua MES PD Banyumas/Wakil Rektor 4 Bidang Riset, Inovasi dan Publikasi UMP.

Selain itu, terdapat Associate Prof Dr Erika Amelia Kamil, S.E., M.Si., yang merupakan penulis buku/modul Ekonomi Islam di UT Pusat sekaligus dosen FEB UIN Jakarta.

Kehadiran para narasumber dari berbagai latar belakang tersebut menjadi bagian dari upaya UT membuka ruang dialog yang lebih luas mengenai pengembangan ekonomi syariah.

Perkuat Kerja Sama UT dan UIN Jakarta

Rangkaian Halaqah Ekonomi Syariah juga mencakup penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Universitas Terbuka dengan UIN Syarif Hidayatullah.

Kerja sama tersebut menjadi bagian dari penguatan kolaborasi kelembagaan dalam pengembangan ekonomi syariah.

Selain penandatanganan kerja sama, rangkaian acara juga meliputi keynote speech, paparan mengenai filantropi Islam dan pengembangan ekonomi Islam, pembahasan ekonomi Islam dan tantangan ekonomi global.

Baca juga: Tak Hanya Kuliah, UT Purwokerto Bekali Mahasiswa Baru Pembelajar Mandiri di Era Digital

Kemudian diskusi mengenai pengembangan kurikulum Ekonomi Islam, pengembangan Program Studi Ekonomi Islam, hingga integritas akuntan syariah.

Halaqah juga ditargetkan membangun jejaring komunikasi dan kolaborasi antara Universitas Terbuka dengan berbagai pemangku kepentingan.

Penguatan kerja sama kelembagaan melalui penandatanganan PKS dengan UIN Syarif Hidayatullah menjadi bagian lain dari output kegiatan.

Bagi Universitas Terbuka, forum tersebut diharapkan memberikan perspektif akademik dan praktis mengenai pengembangan ekonomi syariah, sekaligus memperluas jejaring kerja sama dengan perguruan tinggi dan lembaga strategis.

Kegiatan ini juga diarahkan memperkuat positioning Universitas Terbuka sebagai perguruan tinggi yang inklusif dan responsif terhadap perkembangan kebutuhan masyarakat.

Melalui kegiatan tersebut, UT berharap terbangun forum dialog yang produktif, sinergi antarlembaga, serta rekomendasi strategis yang dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan ekonomi syariah dan pendidikan ekonomi Islam di lingkungan Universitas Terbuka. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.