TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Banyuwangi - Satu peserta karnaval sound horeg di Desa Sumbermulyo, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, meninggal dunia saat rombongan karnaval hendak memasuki garis finish, Minggu (23/8/2026) malam.
Kapolsek Pesanggaran AKP Agus Hari Widodo mengatakan, peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 19.00 WIB. Berdasarkan informasi yang dihimpun polisi, peserta tersebut berinisial B, berusia 48 tahun sempat mengeluhkan kondisi tubuhnya sebelum akhirnya meninggal dunia.
"Temannya sudah sempat membantu, sempat didudukkan di bak pikap. Setelah itu kondisinya sempat mendingan," kata Agus, Senin (24/8/2026).
Setelah merasa kondisinya membaik, dia kembali bergabung dengan rombongan karnaval. Namun, tidak lama kemudian ia kembali mengeluh lemas dan mengalami nyeri dada.
Melihat kondisi Bonari semakin memburuk, teman-temannya segera membawa korban ke puskesmas terdekat untuk mendapatkan pertolongan medis.
"Dalam perjalanan itulah korban meninggal dunia," ujar Agus.
Baca juga: Karnaval Sound Horeg di Pesanggaran Dihentikan, usai Seorang Penyewa Dikabarkan Meninggal
Setibanya di puskesmas, petugas kesehatan menyatakan telah meninggal dunia. Jenazah kemudian dibawa ke rumah duka dan langsung dimakamkan pada malam yang sama.
"Tadi malam langsung dimakamkan," lanjutnya.
Baca juga: Damkar Jember Terkendala Karnaval, Warga Gercep Buka Jalan Hingga Mobil Zigzag Lewati Sound Horeg
Sebelumnya, beredar informasi di media sosial yang menyebut B meninggal setelah mengonsumsi minuman keras. Polisi memastikan informasi tersebut tidak benar.
Agus mengatakan, tidak ditemukan tanda-tanda korban mengonsumsi minuman keras. Polisi juga telah melakukan pemeriksaan sebelum kegiatan sound horeg berlangsung.
"Sebelum kegiatan sound itu kami juga menggelar sweeping. Saat itu kami memang temukan miras, tapi langsung kami sita," kata Agus.
Menurut dia, temuan minuman keras dalam kegiatan tersebut telah ditindaklanjuti dengan penyitaan. Namun, hal itu tidak menjadi dasar untuk menyimpulkan meninggal akibat mengonsumsi miras.
Agus mengimbau masyarakat tidak memaksakan diri apabila kondisi tubuh sedang tidak memungkinkan untuk mengikuti karnaval atau kegiatan serupa.
"Memeriahkan memang boleh. Tapi keselamatan lebih penting," imbuhnya.