Petani Rurukan Tomohon Berjuang di Tengah Kemarau, Air Jadi Masalah Utama
Glendi Manengal August 24, 2026 05:22 PM

 

TRIBUNMANADO.CO.ID – Musim kemarau membuat aktivitas petani sayur di kawasan perkebunan Rurukan, Kota Tomohon, Sulawesi Utara, menjadi jauh lebih berat.

Kebun yang berada di area perbukitan itu, para petani harus bekerja ekstra untuk menjaga tanaman tetap tumbuh.

Pantauan di sejumlah perkebunan Rurukan, Senin (24/8/2026) siang, kondisi lahan tampak mengering. 

Kondisi cuaca juga cukup panas terik.

Sebagian kebun masih kosong.

Tampak beberapa petani lainnya telah menanam berbagai jenis sayuran.

Tanaman yang dibudidayakan antara lain kol, cabai, wortel, hingga ketimun Jepang.

Namun, persoalan utama mereka adalah pasokan air.

Nikolas, salah satu petani di Rurukan, mengatakan kebutuhan air menjadi tantangan terbesar selama musim kemarau.

Kondisi geografis perkebunan yang berada di kawasan perbukitan membuat sumber air tidak mudah dijangkau.

Petani bahkan harus mencari air hingga ke kawasan permukiman warga maupun sumber air yang berada cukup jauh dari lokasi perkebunan.

“Masalah paling besar sekarang air. Kami harus mencari air, bahkan sampai mengambil dari permukiman,” ujar Nikolas saat ditemui di kawasan perkebunan Rurukan.

Kata dia, lagi petani yang baru saja menanam, kebutuhan air menjadi lebih mendesak.

Tanaman yang masih muda membutuhkan penyiraman lebih rutin. Supaya tidak mengalami kekeringan dan gagal tumbuh.

Sementara tanaman yang sudah mendekati masa panen tetap membutuhkan air.

Meski frekuensi penyiramannya tidak sesering tanaman yang baru ditanam.

"Kondisi ini, kami petani harus mengeluarkan tenaga dan biaya tambahan," lanjutnya.

Mereka harus mengangkut air dari lokasi yang cukup jauh menuju kebun.

Apalagi sebagian lahan berada di kawasan perbukitan sehingga proses membawa air menjadi pekerjaan tersendiri bagi petani.

Akibatnya, sejumlah lahan yang sebelumnya siap ditanami kini di beberapa lokasi masih dibiarkan kosong.

Hal itu karena petani mempertimbangkan ketersediaan air.

Di sisi lain, petani yang sudah menanam memilih bertahan dan mencari berbagai cara agar tanaman mereka tetap hidup.

Mereka memanfaatkan sumber air yang masih tersedia di sekitar permukiman maupun aliran sungai yang dapat dijangkau.

Upaya tersebut tentu membutuhkan tambahan tenaga dan biaya. 

Kondisi itu akhirnya dapat memengaruhi biaya produksi dan harga sayuran di tingkat pasar. (Pet)

Baca juga: Empat Remaja Tenggelam di Pantai Tuturuga Minahasa, Ini Imbauan BPBD Minahasa dan Basarnas Sulut

(TribunManado.co.id/Pet)

-

WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.