Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Komisi I DPRD Provinsi Lampung mendorong penguatan pencegahan kebakaran lahan yang melanda Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur.
Baca juga: Kebakaran Hutan di Taman Nasional Way Kambas Lampung Timur Hanguskan 673 Hektare Lahan
Pasalnya, area tersebut merupakan kawasan konservasi yang menjadi habitat gajah, badak, rusa hingga harimau Sumatera, serta berbagai flora dan fauna lainnya.
Oleh karena itu, penanganan dinilai bukan hanya dilakukan ketika api sudah muncul, tetapi juga penguatan pencegahan selama musim kemarau.
Selain itu, pihak berwajib juga didorong untuk mendalami penyebab kebakaran, termasuk dugaan unsur kesengajaan.
Ketua Komisi I DPRD Provinsi Lampung, Garinca Reza Pahlevi, mendorong pemerintah provinsi, Pemkab Lampung Timur, BPBD, TNI-Polri, petugas kehutanan dan masyarakat memperkuat kolaborasi dalam mencegah kebakaran di wilayahnya.
Menurut Garinca, kondisi kemarau meningkatkan potensi munculnya titik api, sehingga pengawasan di kawasan rawan perlu dilakukan lebih intensif.
"Kalau itu persoalan alam atau persoalan iklim, kita bersama-sama semua stakeholder, pemerintah provinsi maupun pemerintah Kabupaten Lampung Timur, aparat penegak hukum baik itu polisi, TNI, kalaupun misalnya ada titik-titik merah api bisa segera dipadamkan," kata Garinca, Senin (24/8/2026).
Ia juga meminta BPBD dan unsur terkait segera turun apabila ditemukan titik api agar kebakaran tidak meluas.
Garinca turut menyoroti dugaan adanya unsur kesengajaan dalam kebakaran di kawasan TNWK.
Di mana, pihak Balai TNWK menyampaikan dugaan kebakaran terbaru terjadi akibat kesengajaan.
Namun, dugaan tersebut masih membutuhkan pembuktian melalui penyelidikan aparat kepolisian.
Garinca menegaskan, apabila nantinya ditemukan unsur kesengajaan, penegakan hukum harus dilakukan terhadap pihak yang terbukti bertanggung jawab.
"Terkait dengan ada indikasi baik itu sengaja maupun tidak sengaja, ini harus digali temuan-temuan di lapangan. Kalau memang ada oknum-oknum, ya harus segera penegak penegak hukum untuk bisa menindak tegas," ujarnya.
Menurut dia, langkah hukum penting untuk memberikan efek pencegahan agar kebakaran tidak terus berulang.
Selain penindakan, Garinca menilai pencegahan harus dimulai dari kesadaran masyarakat, terutama selama musim kemarau.
Ia meminta petugas kehutanan dan kepolisian hutan meningkatkan edukasi kepada masyarakat yang beraktivitas di sekitar kawasan hutan.
Hal sederhana seperti memastikan api benar-benar padam setelah digunakan juga dinilai penting.
"Ketika di musim kemarau ini pemerintah, dalam hal ini TNWK-nya atau polisi hutannya juga untuk bisa mengimbau masyarakat untuk tidak beraktivitas di kawasan hutan," katanya.
Garinca juga mengingatkan potensi kebakaran akibat kelalaian.
Menurutnya, kondisi vegetasi yang kering ditambah cuaca tanpa hujan membuat api lebih mudah menyebar.
"Kalau sudah namanya hutan kering, segala macam itu cepat, ditambah cuaca panas enggak ada hujan," imbuhnya.
Garinca menilai dampak kebakaran TNWK tidak bisa hanya dilihat dari luas kawasan yang terbakar.
Menurutnya, keberadaan satwa menjadi salah satu persoalan paling penting karena TNWK merupakan habitat berbagai satwa dilindungi.
"Yang jadi persoalan di TNWK ini kan bukan cuma sekadar hutannya terbakar, tapi yang paling penting itu kan gajah dan hewan lainnya, ekosistemnya yang terganggu," kata dia.
Ia menyebut gajah, badak, rusa hingga harimau Sumatera sebagai satwa yang harus mendapat perhatian dalam penanganan kebakaran.
"Ada gajah, ada badak, ada rusa, ada harimau kan, ada Harimau Sumatera," ujarnya.
Karena itu, ia berharap kebakaran tidak sampai mengganggu kawasan yang menjadi habitat satwa tersebut.
"Kita berharap cepat konservasinya, yang khususnya untuk gajah, badak, harimau itu enggak kena lah, enggak terganggu," katanya.
Untuk mencegah kebakaran meluas, Garinca mendorong Balai TNWK meningkatkan patroli, terutama ketika memasuki periode kemarau.
Selain patroli, kesiapan sarana pemadaman juga perlu diperkuat sehingga petugas dapat bergerak cepat ketika menemukan titik api.
"Kalaupun misalnya itu ada indikasi bakal kebakar, ya itu bisa antisipasi, Taman Nasional Way Kambas-nya meningkatkan patroli dan sebagainya ataupun siapkan cepat pemadam kebakaran sebanyak-banyaknya," ujarnya.
(Tribunlampung.co.id/Hurri Agusto)