TRIBUNNEWSSULTRA.COM – Keluarga salah satu korban pembunuhan di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra) mengungkapkan awal mula menemukan jasad hingga tersadar bahwa JR dibunuh.
Hal tersebut diungkap, E (31) kepada TribunnewsSultra.com lewat sambungan telepon belum lama ini.
E menyebut bahwa ibu korban tetiba didatangi salah satu tetangga sekitar pukul 01.00 wita, Rabu (19/8/2026).
"Didatangi sama tetangga, jam satu malam, dibilang coba periksa, kayaknya itu JR yang jatuh di kansofa (sebutan masyarakat lokal) dia tidak sadarkan diri. Cek dulu apakah benar atau tidak. Jadi dia pergi mamanya dengan adiknya,” tutur E.
E juga ikut ke lokasi tersebut bersama dengan keluarga besar lainnya.
Namun saat diperiksa oleh pihak keluarga, JR tak memberikan respon apa pun.
“Setelah itu kami pergi mi ternyata sudah tidak bernyawa lagi,” kata E.
Saat itu, pihak keluarga memilih untuk membawa JR ke rumah. Sejauh ini pula, keluarga masih berpikir JR adalah korban kecelakaan.
Baca juga: Dugaan Pemicu Penganiayaan Brutal Berujung Kematian 2 Warga Wakatobi, Pengaruh Miras dan Tersinggung
“Karena sunyi, dan yang temukan itu tanya apakah mau dipanggilkan ambulance, jadi mamanya bilang tidak usah,” kata E menceritakan kejadian malam tersebut.
Keluarga pun berdatangan ke rumah duka saat jasad JR disemayamkan.
Jenazah JR pun dibawa pulang ke rumahnya yang terletak di Desa Numana, Kecamatan Wangiwangi Selatan.
Proses pembersihan jenazah dilakukan perlahan.
“Sampai di rumah, sudah banyak keluarga, kita buka celananya kita gunting celananya,” tutur E.
Namun tak lama setelah itu, teman-teman JR yang bersamanya saat malam kejadian tetiba datang.
Mereka menginformasikan kejadian yang sempat menimpa JR sebelum ditemukan tewas.
“Teman-temannya ini bilang ‘coba periksa dulu belakangnya. Karena kami ini habis dijaga sama orang’,” kata E menirukan ucapan teman JR.
Barulah, sejumlah keluarga korban menggunting perlahan baju JR.
Terlihat darah segar yang masih mengucur deras malam itu.
Merasa ada yang janggal pada jasad JR, pihak keluarga langsung mengadukannya ke pihak kepolisian.
“Akhirnya, kami lapor ke polisi, sudah terlanjur buka bajunya segala macam. Polisi bilang jangan diapa-apakan (jenazahnya),” jelas E.
Sampai pada akhirnya matahari pagi mulai terlihat, dokter pun datang melakukan visum di rumah duka didampingi pihak kepolisian.
Usai proses visum dan pembersihan jenazah, JR dimakamkan sebelum dzuhur pada hari yang sama dirinya ditemukan tewas.
Menurut E, ibu JR sangat terpukul atas insiden pilu yang menimpa anaknya ini. Terlebih kehidupan keluarga JR bukan dari keluarga yang mampu. Mereka memiliki kisah pelik perjuangan kehidupan.
“Dia (ibu) sangat terpukul tidak henti-hentinya dia menangis,” jelas E.
Sejak kecil, JR sudah ditinggalkan oleh ayahnya. Sehingga, sang ibu yang berusaha mati-matian menghidupi keempat anaknya. JR adalah anak kedua.
Saat sudah beranjak dewasa, JR merantau untuk membantu keluarganya.
Ia bekerja di salah satu tambang di Sulawesi Tenggara.
Dari hasuil kerja kerasnya itu, Jeri bisa membeli motor impiannya.
“Tapi sayangnya kamu pakai (motor) baru 17 hari kaasi,” kata keluarganya yang lain dalam unggahan di akun Facebook pribadinya, dikutip TribunnewsSultra.com, Senin (24/8/2026).
Dalam unggahan tersebut juga diceritakan pilunya kehidupan JR, bahkan untuk baju yang dikenakan sehari-hari korban sampai meminjam ke teman-temannya.
Namun di saat sudah mandiri dan bekerja, JR justru tewas mengenaskan karena dibunuh.
“Di akhir-akhir hidupmu kamu sudah bisa memberi senyum untuk ibu dan adik-adikmu dari yg sebelumnya kalian hidup penuh air mata kaasi saking sulitnya kalian bertahan hidup, sampai impian-impian sederhanamu untuk bikin rumah yang layak untuk ibu dan adik-adikmu, tapi ternyata senyum yang kamu berikan itu hanya sementara karena dengan membabi butanya para pembunuh itu merenggut semuanya kaasi,” sambung tulisan tersebut.
Tiga hari menjelang kepergiannya, JR selalu pamit pada ibunya sebelum keluar rumah.
Ia bahkan sampai mencium pipi ibunya, begitu pula dengan adiknya yang dipeluk sebelum dirinya keluar rumah.
Kini, kasus pembunuhan ini tengah ditangani pihak Polres Wakatobi.
Kasus ini bermula saat penemuan dua mayat pria di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Rabu (19/8/2026).
Satu mayat berinisial E ditemukan di jalan menuju Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 2 Wangiwangi, Kelurahan Mandati III, Kecamatan Wangiwangi Selatan.
Ia disebut merupakan pemuda yang berdomisili di Kelurahan Mandati II.
Masih pada hari yang sama, mayat lainnya berjenis kelamin laki-laki juga ditemukan di jalan poros menuju Desa Wungka, dekat Desa Komala.
Desa ini berjarak sekitar 9,1 kilometer atau ditempuh dengan waktu perjalanan 15 menit, baik menggunakan roda dua atau empat dari lokasi penemuan mayat sebelumnya.
Belakangan diketahui, mayat yang ditemukan di Desa Wungka itu berinisial JR alias JS.
Korban lainnya berinisial A alias AP dirawat intensif di rumah sakit.
Total ada tiga korban dalam insiden mencekam yang masih misterius di Wakatobi ini.
Kepolisian menetapkan 3 tersangka dan 2 anak bermasalah hukum (ABH) dalam 2 kasus pembunuhan di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra).
Dua korban tewas dalam penganiayaan sadis dalam semalam di 2 lokasi berbeda pula, yakni JR dan EZ.
Satu korban lainnya yakni AP mengalami luka-luka dan masih menjalani perawatan medis.
Update penanganan perkara ini disampaikan Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Kepolisian Resort (Kasat Reskrim Polres) Wakatobi, AKP Risman, dalam keterangannya, Senin (24/08/2026).
“Pada kejadian pertama yang mengakibatkan meninggalnya JR pelakunya tunggal yakni IG alias IA,” kata mantan Kepala Satuan Reserse dan Narkoba (Kasat Resnarkoba) di polres yang sama ini.
“Sedangkan, kejadian korban kedua yakni almarhum ES kelima orang tersebut turut serta,” jelas Perwira Pertama Kepolisian Republik Indonesia (Pama Polri) ini menambahkan.
Selain IA alias IG, penyidik menetapkan AG alias J sebagai tersangka, serta AD alias AK atau D.
Sedangkan, dua anak di bawah umur yang berstatus ABH dalam kasus ini masing-masing FW dan AB.
“Perkara ini kami telah rampungkan dan telah melakukan koordinasi dengan pihak JPU (Jaksa Penuntut Umum),” ujarnya didampingi Kasi Humas Polres Wakatobi, Aiptu Asbar.
(*)
(TribunnewsSultra.com/Desi Triana)