TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Gegara asap karhutla bikin kualitas udara Pantai Amal Tarakan tidak sehat, DLH sebut PM2.5 Capai 101.
Dinas Lingkungan Hidup atau DLH Tarakan mencatat adanya parameter kualitas udara yang melebihi baku mutu, berdasarkan hasil pengujian di Kelurahan Pantai Amal, Kota Tarakan, Kalimantan Utara.
Pengujian dilakukan selama 24 jam nonstop, pada Jumat 21 Agustus 2026, hingga Sabtu 22 Agustus 2026, menggunakan alat High Volume Air Sampler (HVAS).
Kabid Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup Kota Tarakan, Chaizir Zein, mengatakan pengujian dilakukan untuk mengukur sejumlah parameter kualitas udara, terutama partikulat yang berkaitan dengan paparan asap karhutla.
Baca juga: Dinkes Tarakan: Kasus ISPA-Pneumonia Naik, Warga Pantai Amal Diminta Pakai Masker Imbas Karhutla
"Untuk hasil uji kualitas udara ya yang di Amal, selama 24 jam non-stop mengunakan alat High Volume Air Sampler (HVAS) PM2.5, PM10, dan TSP.
Itu untuk mengukur parameter yang itu ya, PM10, PM2.5, dan TSP. Kemudian ada juga Ozon (O3) dan Carbon Monoxide (CO)," kata Chaizir Zein kepada TribunKaltara.com di Tarakan, Senin 24 Agustus 2026.
Dari hasil pengujian tersebut, DLH Tarakan menemukan salah satu parameter yang melebihi baku mutu, yakni PM2.5.
"Perlu disampaikan memang ada parameter yang melebihi baku mutu, yaitu PM2.5.
Nah itu kan sebenarnya sama juga kayak di stasiun kita di sini.
Kurang lebih cuma nilainya lebih tinggi," katanya.
Berdasarkan indeks kualitas udara, nilai PM2.5 yang terpantau di Pantai Amal mencapai 101.
"101 dia.
Kalau di indeks itu 101, dia kualifikasinya itu sudah kuning," jelas Chaizir.
Ketika dikonfirmasi mengenai kategori tersebut, ia menegaskan kondisi tersebut masuk kategori tidak sehat.
"Tidak sehat.
Ya, tidak sehat untuk tanggal 21-22 kemarin.
Itu juga mungkin berlaku di beberapa hari selanjutnya, apabila kualitas udara atau intensitas asapnya tidak menurun, seperti itu," lanjutnya.
Chaizir menjelaskan kondisi kualitas udara di wilayah pertengahan Kota Tarakan masih berada dalam kategori baik, berdasarkan alat pemantauan yang beroperasi di stasiun DLH Tarakan.
"Tapi kalau untuk wilayah pertengahan kota, kita hitungannya di sini, karena kan kita SPKU-A nya di sini, itu masih baik.
Masih baik dengan indeks itu fluktuatif ya, mulai sekitar 60-70 lah.
Kalau terpantau kemarin itu kan 69," sambung Chaizir.
Perbedaan kondisi tersebut, menurutnya, berkaitan dengan banyaknya titik api di wilayah Pantai Amal.
"Jadi memang kecenderungan kualitas udara sesuai dengan inilah, titik apinya di mana," jelasnya.
Dengan status kualitas udara yang berada pada kategori tidak sehat, masyarakat di sekitar Pantai Amal juga diimbau melakukan langkah pencegahan.
Chaizir mengatakan hasil pemantauan tersebut telah disampaikan kepada Wali Kota Tarakan.
Baca juga: Jalan Amal Lama Ditutup, Polres Tarakan Siapkan Rekayasa Lalu Lintas Dampak Karhutla Bakar Batu Bara
"Jadi tadi malam sudah disampaikan ke Pak Wali.
Kemudian arahan Pak Wali itu dari Dinkes untuk bisa menyampaikan, khususnya untuk di faskes-faskes ya," katanya.
Kondisi kualitas udara di Pantai Amal juga dapat dipengaruhi oleh perubahan cuaca.
Hujan yang turun dengan intensitas sedang hingga tinggi disebut dapat membantu menurunkan konsentrasi partikulat di udara.
Namun, ia mengakui hujan yang turun tidak merata di seluruh wilayah.
"Nah, jadi hujan ini dengan intensitas sedang-tinggi itu, sedang ke tinggi, itu cukup sangat mempengaruhi.
Namun beda lagi jika kembali panas.
Apalagi intensitas hujannya turun lagi alias tidak terjadi hujan.
Ketika ditanya apakah alat tersebut mengukur debu atau asap, ia menjelaskan parameter yang diukur berupa partikulat.
"PM2.5 tuh partikulat ya, debu.
Ukurannya 2,5 mikro, mikron. Jadi sangat kecil," jelas Chaizir.
Menurutnya, ukuran PM2.5 yang sangat kecil membuat partikulat tersebut dapat masuk hingga ke paru-paru ketika terhirup.
"Kalau yang 2,5 ini kan dia kalau kita bernapas itu bisa langsung masuk ke paru-paru.
Makanya penyebabnya ISPA, bisa nyebabkan ISPA," ujarnya.
Sementara partikulat berukuran lebih besar seperti TSP atau PM10 masih dapat tersaring melalui hidung.
"Kalau yang TSP atau PM10 itu dia masih bisa tersaring di hidung kita. Ya," katanya.
Baca juga: Breaking News, Jalan Amal Lama Tarakan Ditutup Total, Imbas Karhutla Bakar Batu Bara Bawah Tanah
Selain Pantai Amal, DLH Tarakan juga mempertimbangkan melakukan pengujian kualitas udara di wilayah lain, termasuk Juata.
Chaizir mengatakan arahan untuk melakukan pengujian di kawasan Juata, telah disampaikan oleh Kepala DLH Tarakan.
"Kita lihat ke depannya ini.
Memang Pak Kadis arahkan kita untuk lakukan pengujian juga di area Juata.
Cuma kita lihat dulu ini trennya seperti apa," ujarnya.
Pemantauan tersebut akan melihat perkembangan tren kabut asap, sekaligus mengumpulkan data angka indeks kualitas udara.
"Tapi sebenarnya kita ini sudah bisa memperkirakan sebenarnya, cuma kan kita butuh angka, indeksnya itu kan.
Butuh data-data dulu," katanya.
Jika sewaktu-waktu terjadi kiriman asap dari wilayah lain dengan kondisi yang lebih pekat, DLH akan kembali mengimbau masyarakat melakukan langkah pencegahan.
"Antisipasinya kita imbau masyarakat untuk menggunakan masker ya.
Menggunakan masker, kemudian mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama masyarakat yang punya sensitivitas seperti asma atau penyakit-penyakit yang berkaitan dengan pernapasan," lanjutnya.
DLH Tarakan juga memastikan pemantauan kualitas udara akan terus dilakukan.
Baik iyang sudah beroperasi di kantor selama 24 jam.
"Ataupun nanti kita pasang di titik-titik yang nanti ditentukan, diujikan," jelasnya.
Untuk perkembangan terbaru, Chaizir menyebut indeks kualitas udara yang sebelumnya berada pada angka 75 telah turun menjadi 69 pada hari ini di wilayah perkotaan yang terjangkau ISPU.
Masyarakat dapat memantau perkembangan indeks kualitas udara secara langsung melalui aplikasi ISPU Net.
"Datanya realtime," pungkasnya.
(*)
Penulis: Andi Pausiah