SRIPOKU.COM, SEKAYU - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) melaporkan bahwa tinggi muka air (TMA) Sungai Musi di wilayah Kecamatan Sekayu mengalami penyusutan mencapai sekitar 1,5 hingga 2 meter akibat musim kemarau.
"Beberapa wilayah ada yang sampai kekeringan, bahkan tim pemadam kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) sempat terkendala karena tidak ada sumber mata air," ujar Kalaksa BPBD Muba Marko Susanto, kepada Sripoku.com Senin (24/8/2026).
Untuk kondisi saat ini, BPBD Muba tidak lagi melaksanakan pengukuran karena kondisi air sungai sudah sangat surut, bahkan di beberapa tempat sudah terlihat dasar yang mengering berupa pasir.
"Penurunan debit air ini dipengaruhi minimnya curah hujan selama musim kemarau, sehingga pasokan air dari wilayah hulu berkurang. Fenomena ini umum terjadi saat musim kemarau. Meski demikian, kondisi tersebut masih terus kami pantau untuk mengantisipasi dampak yang dapat ditimbulkan," jelasnya.
Dampak kekeringan ini sudah mulai dirasakan sebagian wilayah yang mengandalkan embung sebagai sumber air bersih.
Baca juga: Prakiraan Cuaca Sumsel 19 Agustus, Hujan Berpotensi di 3 Daerah, Warga Diminta Antisipasi Kekeringan
Hal tersebut diakui Direktur Utama Perumda PDAM Tirta Randik Muba Azmi Julian. Ia mengatakan debit air baku yang berasal dari Sungai Musi dan embung saat ini memang mengalami penurunan.
"Sejauh ini masih normal untuk suplai ke masyarakat, karena pipa kita berada jauh di bawah titik air. Kami memastikan pasokan air bersih kepada pelanggan hingga kini masih aman," ungkapnya.
Saat ini pihaknya mengandalkan sumber dari sungai yang memang masih tersedia.
Sebab daerah yang menggunakan sumber air baku dari embung sebagian sudah tidak dapat beroperasi lagi karena kekeringan.
"Tercatat, sebanyak 9 PDAM yang menggunakan embung tidak bisa lagi mengirim air lewat perpipaan," katanya.
Adapun ke sembilan embung tersebut, yakni:
- PDAM Lokajaya,
- Bukit Pangkuasan,
- Air Putih Ilir,
- Warga Mulya,
- Sidorahayu,
- Bukit Indah,
- Kramat Jaya,
- Jirak, dan
- Sinar Jaya.
"Air bakunya hanya bisa untuk stok di ground PDAM tersebut dan bisa digunakan untuk masyarakat atau pelanggan yang mengambilnya langsung," ujarnya.
Baca juga: Sawah Kekeringan di OKI, Petani Lubuk Seberuk Rogoh Kocek Rp100 Ribu per Hari untuk Kebutuhan Air
Azmi menyebutkan, pemantauan kualitas air baku terus dilakukan karena pada musim kemarau tingkat kekeruhan air Sungai Musi menurun.
Ditambah tingkat keasaman (pH) cenderung ikut turun selama musim kemarau yang berlangsung panjang.
"Sebagai langkah antisipasi, kita telah menyediakan layanan pengambilan air bersih secara gratis bagi masyarakat terdampak. Warga cukup membawa jeriken ke kantor unit PDAM terdekat tanpa dikenakan biaya. Masyarakat juga kita imbau menggunakan air secara hemat dan mematikan keran jika tidak digunakan," ungkap Azmi.