*Oleh: Kaipal Wahyudi
MASJID merupakan tempat ibadah umat Islam di seluruh dunia. Namun, di Aceh, masjid memiliki perjalanan sejarah yang jauh lebih panjang daripada sekadar tempat untuk melaksanakan salat.
Sejak Islam berkembang di Tanah Rencong, masjid telah menjadi ruang bertemunya agama, adat, pendidikan, kebersamaan, dan sejarah masyarakat. Di dalamnya orang belajar mengaji, mendengar nasihat ulama, bermusyawarah, menerima tamu, membantu sesama, hingga mencari perlindungan ketika bencana datang.
Karena itu, melihat masjid dari sudut pandang antropologi bukan hanya melihat bentuk bangunan, atap, kubah, tiang atau menaranya, tetapi juga memahami bagaimana masyarakat memberi makna terhadap ruang tersebut dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Perjalanan itu dapat ditelusuri sejak masa awal Islamisasi Aceh. Perlak yang berkembang sejak abad ke-9, Samudera Pasai pada abad ke-13 hingga abad ke-16, serta temuan makam-makam Islam di Lamreh, Aceh Besar, menunjukkan bahwa perkembangan Islam di Aceh tidak berlangsung dalam ruang kosong.
Islam tumbuh melalui hubungan perdagangan, pendidikan, kekuasaan dan pergaulan antarmasyarakat. Para pedagang, ulama dan pendatang bertemu dengan masyarakat lokal yang telah memiliki tradisi dan kebudayaan sendiri.
Dalam proses tersebut, Islam tidak selalu menghapus kebiasaan lama, tetapi sering memberikan makna baru terhadap bentuk dan ruang yang sebelumnya telah dikenal masyarakat.
Hal itu dapat dilihat dari perkembangan arsitektur masjid tua di Aceh dan Nusantara. Sebelum kubah menjadi bentuk yang sangat dikenal seperti sekarang, atap bertingkat atau atap tumpang telah digunakan dalam pembangunan masjid.
Masjid Tuha Indrapuri merupakan salah satu contoh penting yang memperlihatkan hubungan antara peninggalan masa sebelumnya dengan perkembangan Islam. Bangunan tersebut memiliki keterkaitan dengan struktur lama yang kemudian digunakan sebagai masjid.
Dari sini terlihat bahwa perubahan keagamaan dapat berlangsung melalui proses penyesuaian dengan kebudayaan setempat. Bagi antropologi, bangunan seperti ini bukan sekadar benda peninggalan, tetapi ruang yang menyimpan lapisan sejarah, ingatan dan perubahan kehidupan masyarakat.
Keterbukaan tersebut juga terlihat pada Masjid Pulo Kameng di Aceh Selatan. Masjid ini didirikan pada 28 Ramadan 1285 Hijriah atau 12 Januari 1869 Masehi, pada masa Teuku Kejruen Amansyah, dan pembangunannya melibatkan sejumlah kampung.
Bentuk bangunannya memperlihatkan pertemuan berbagai unsur budaya, termasuk unsur lokal, pengaruh Cina serta unsur Hindu-Buddha pada bentuk atap tumpang.
Kenyataan ini menunjukkan bahwa masyarakat Aceh sejak dahulu hidup dalam ruang perjumpaan budaya. Pengaruh dari luar tidak selalu diterima secara mentah, tetapi disesuaikan dengan lingkungan, kebutuhan dan kehidupan masyarakat setempat.
Memasuki masa Kesultanan Aceh Darussalam, kedudukan masjid semakin penting. Masjid, meunasah dan dayah membentuk jaringan sosial yang membuat Islam tidak hanya hadir dalam kegiatan ibadah, tetapi juga dalam pendidikan dan kehidupan masyarakat.
Pada masa Sultan Iskandar Muda, yang memerintah pada 1607–1636, Masjid Raya Baiturrahman memiliki posisi penting dalam lingkungan kesultanan dan kehidupan keagamaan masyarakat. Masjid tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari ruang yang mempertemukan penguasa, ulama dan rakyat.
Sejarah Masjid Raya Baiturrahman kemudian berjalan bersama pengalaman panjang Aceh menghadapi kolonialisme. Ketika Belanda menyerang Kutaraja pada 10 April 1873, masjid menjadi bagian dari kawasan yang berkaitan erat dengan kehidupan dan perjuangan masyarakat Aceh.
Masjid tersebut kemudian terbakar dalam peperangan. Pemerintah kolonial membangunnya kembali pada 1879 dan pembangunannya selesai pada 1881 dengan bentuk arsitektur yang berbeda dari sebelumnya, termasuk pengaruh Indo-Saracenic atau Mughal.
Perubahan tersebut menarik jika dilihat dari perspektif antropologi. Sebuah bangunan tidak selamanya memiliki makna yang sama dengan tujuan awal pembangunnya. Masyarakat dapat memberikan makna baru berdasarkan pengalaman yang mereka lalui.
Baiturrahman yang dibangun kembali pada masa kolonial kemudian justru berkembang menjadi salah satu simbol identitas Aceh yang sangat kuat. Ia menjadi saksi berbagai perubahan kekuasaan, pengalaman perang dan perjalanan sejarah masyarakat. Karena itu, ingatan masyarakat terhadap Baiturrahman menjadi bagian dari memori sosial yang melekat pada bangunan tersebut.
Perjalanan arsitektur Baiturrahman terus mengalami perubahan. Perkembangan dan perluasan berlangsung pada 1935, 1936, 1957 dan 1979. Perubahan itu menunjukkan bahwa masjid tidak pernah berhenti menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman.
Bentuk bangunan berubah, kapasitas bertambah, tetapi kedudukannya sebagai ruang penting masyarakat tetap dipertahankan. Kajian BRIN dalam Purbawidya pada 2026 juga memperlihatkan bahwa arsitektur Masjid Raya Baiturrahman dapat dibaca dalam hubungan dengan politik, kekuasaan dan selera penguasa.
Dengan demikian, bentuk sebuah masjid juga dapat menjadi cermin perjalanan sosial dan politik masyarakat yang menggunakannya.
Makna masjid semakin terasa ketika gempa bumi dan tsunami menghantam Aceh pada 26 Desember 2004. Ketika rumah, jalan dan berbagai fasilitas masyarakat hancur diterjang bencana, sejumlah masjid tetap berdiri.
Masjid Raya Baiturrahman, Masjid Baiturrahim Ulee Lheue dan sejumlah masjid lainnya kemudian dikenang sebagai simbol ketahanan dan harapan. Pada saat itu, fungsi masjid berkembang jauh melampaui tempat ibadah. Masjid menjadi ruang perlindungan, tempat berkumpul, lokasi menerima bantuan dan tempat masyarakat menghadapi kesedihan serta trauma secara bersama-sama.
Kekuatan masjid dalam situasi bencana tidak hanya terletak pada kekuatan fisik bangunannya. Ada hubungan emosional dan ikatan sosial yang membuat masyarakat merasa dekat dengan masjid.
Masyarakat mengetahui tempatnya, terbiasa berkumpul di sana dan menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari. Dalam perspektif antropologi, kedekatan tersebut merupakan modal sosial yang sangat penting.
Ketika bencana datang, ruang yang selama ini digunakan untuk beribadah dapat berubah menjadi tempat bertahan, saling membantu dan membangun kembali kehidupan.
Setelah tsunami, Aceh memasuki masa rekonstruksi, perdamaian dan pembangunan. Perkembangan tersebut turut memengaruhi wajah masjid. Banyak masjid dibangun lebih besar dengan kubah, menara dan fasilitas yang semakin lengkap.
Kajian terhadap 90 masjid di delapan kabupaten pada jalur Aceh bagian utara-timur menunjukkan kuatnya pengaruh Masjid Raya Baiturrahman sebagai salah satu rujukan visual, terutama dalam bentuk atap.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa Baiturrahman bukan hanya bangunan bersejarah, tetapi juga menjadi bagian dari imajinasi masyarakat Aceh ketika membayangkan sebuah masjid yang megah dan representatif.
Namun, modernisasi tidak semestinya membuat bangunan lama kehilangan nilai sejarahnya. Masjid tua seperti Masjid Pulo Kameng, Masjid Tuha Indrapuri dan masjid-masjid bersejarah lainnya merupakan bagian dari warisan kebudayaan Aceh.
Renovasi tentu diperlukan agar bangunan tetap dapat digunakan, tetapi pelestarian nilai sejarah juga harus menjadi perhatian. Masjid-masjid tersebut mengingatkan kita bahwa perkembangan Islam di Aceh memiliki hubungan yang erat dengan kebudayaan lokal dan proses perjumpaan berbagai tradisi.
Pada masa sekarang, masjid juga menghadapi perubahan pola kehidupan masyarakat. Generasi muda memperoleh pengetahuan agama bukan hanya dari masjid, meunasah dan dayah, tetapi juga melalui media sosial dan berbagai teknologi digital. Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus peluang. Masjid perlu tetap menjadi tempat ibadah, tetapi juga harus mampu menjadi ruang pendidikan, literasi, pembinaan generasi muda, kegiatan sosial dan pelayanan kemanusiaan.
Pada akhirnya, sejarah masjid di Aceh adalah bagian dari sejarah masyarakat Aceh itu sendiri. Dari atap tumpang hingga kubah, dari bangunan kayu hingga beton dan marmer, dari ruang ibadah hingga tempat perlindungan saat tsunami, masjid terus berubah mengikuti perjalanan zaman. Perubahan bentuk tersebut tidak berarti hilangnya makna. Justru melalui perubahan itulah terlihat bagaimana masyarakat Aceh mempertahankan hubungan antara agama, budaya, sejarah dan kehidupan sosial.
Masjid Raya Baiturrahman menjadi gambaran yang paling jelas mengenai perjalanan tersebut. Bangunannya pernah terbakar dalam perang pada 1873, dibangun kembali pada 1879 dan terus mengalami perubahan pada masa-masa berikutnya. Namun, maknanya tidak ikut hilang. Dari perjalanan panjang itu, Baiturrahman tumbuh menjadi simbol agama, sejarah, perjuangan dan identitas Aceh.
Karena itu, tantangan ke depan bukan hanya membangun masjid yang besar dan megah. Yang lebih penting adalah memastikan masjid tetap hidup bersama masyarakat. Masjid harus tetap berakar pada sejarah, terbuka terhadap perubahan, dekat dengan generasi muda dan mampu menjadi ruang ibadah sekaligus ruang kebersamaan.
Sebab, selama masjid tetap menjadi tempat manusia mendekatkan diri kepada Allah, belajar, bermusyawarah, saling membantu dan membangun solidaritas, selama itu pula masjid akan tetap menjadi bagian penting dari wajah Aceh. (*)
*) Penulis adalah Mahasiswa Program Doktor (S3) Studi Islam, Pascasarjana, UIN Ar-raniry, Banda Aceh