SERAMBINEWS.COM – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperingatkan para pendukungnya bahwa dirinya berpotensi kembali menghadapi proses pemakzulan jika Partai Republik kehilangan kendali atas Kongres dalam pemilihan paruh waktu atau midterm election November 2026.
Trump menyampaikan peringatan tersebut saat menghadiri rapat umum kampanye di Myrtle Beach, South Carolina, Jumat malam.
Dikutip Serambinews melalui GB News (24/8/2026), Trump mengatakan kemenangan Partai Demokrat dalam pemilihan paruh waktu dapat membuat dirinya kembali menjadi sasaran upaya pemakzulan.
Trump bahkan menyebut proses tersebut dapat terjadi hanya dalam beberapa bulan setelah pemilihan.
“Saya akan dimakzulkan. Mereka akan memakzulkan saya. Mereka tidak tahu alasannya,” kata Trump kepada para pendukungnya.
Trump juga meminta para pemilih tetap memberikan dukungan kepada Partai Republik agar partainya mampu mempertahankan kendali atas Kongres.
Menurut Trump, jika Partai Demokrat berhasil menguasai salah satu atau kedua kamar Kongres, berbagai kebijakan yang selama ini menjadi prioritas pemerintahannya dapat terancam.
Baca juga: Iran Naik Pitam Ultimatum Negara Pendukung Trump: Ikut Perang Ekonomi, Bersiap Hadapi Balasan
Dalam pidatonya, Trump memperingatkan bahwa kemenangan Partai Demokrat akan berdampak besar terhadap agenda pemerintahannya.
Ia meminta para pendukungnya membayangkan apa yang akan terjadi jika Partai Republik kehilangan mayoritas di Kongres.
“Jika kita kalah, kalian akan kehilangan perbatasan, kalian akan kehilangan pemotongan pajak, kalian akan kehilangan semua yang telah kita lakukan,” ujar Trump.
Trump kemudian menyebut sejumlah kebijakan yang menurutnya telah memberikan keuntungan bagi masyarakat Amerika.
Ia menyinggung kebijakan mengenai penghapusan pajak atas pendapatan dari tip, pengurangan pajak terhadap manfaat Jaminan Sosial bagi warga lanjut usia, serta penghapusan pajak atas penghasilan lembur.
Trump memperingatkan bahwa kebijakan tersebut dapat dibatalkan apabila Partai Demokrat menguasai Kongres.
“Pajak Anda akan naik. Gaji Anda akan turun. Pekerjaan Anda akan hilang. Banyak usaha akan tutup. Bisnis Anda akan pindah,” katanya.
Pernyataan tersebut menjadi bagian dari upaya Trump untuk mendorong pemilih Partai Republik agar datang ke tempat pemungutan suara pada pemilihan paruh waktu November mendatang.
Baca juga: Tegas! Hakim Federal AS Batalkan Kebijakan Trump, Cabut Larangan Visa Imigran dari 75 Negara
Trump memiliki sejarah unik dalam politik Amerika Serikat karena menjadi satu-satunya presiden AS yang telah dua kali dimakzulkan.
Namun, kedua proses tersebut tidak berujung pada pencopotan dirinya dari jabatan presiden.
Dalam masa jabatan keduanya, sejumlah anggota parlemen dari Partai Demokrat juga telah mengajukan pasal-pasal pemakzulan terhadap Trump.
Meski demikian, hingga kini upaya tersebut belum menghasilkan proses pemakzulan yang berhasil.
Kekhawatiran Trump mengenai kemungkinan pemakzulan kembali berkaitan erat dengan hasil pemilihan paruh waktu.
Pemilu paruh waktu biasanya menjadi ujian besar bagi presiden yang sedang berkuasa karena seluruh kursi DPR dan sebagian kursi Senat diperebutkan.
Jika partai oposisi berhasil merebut mayoritas, presiden akan menghadapi kesulitan lebih besar untuk meloloskan agenda legislatifnya.
Baca juga: Trump Ultimatum Negara Pendukung Iran, Ancam Sanksi Besar, Teheran Sebut AS Telah Gagal
Menurut laporan yang dikutip GB News dari The Wall Street Journal, Partai Demokrat sendiri disebut masih berbeda pendapat mengenai apakah pemakzulan kembali terhadap Trump merupakan langkah yang tepat.
Sebagian anggota Demokrat khawatir tindakan tersebut justru dapat menimbulkan reaksi negatif dari pemilih.
Mereka mempertimbangkan kemungkinan bahwa masyarakat Amerika sudah lelah melihat proses politik yang berulang kali berujung pada upaya untuk menjatuhkan Trump.
Selain itu, sebagian Demokrat menilai proses pemakzulan dapat mengalihkan perhatian publik dari isu yang dianggap lebih penting, terutama persoalan ekonomi dan upaya menurunkan harga kebutuhan sehari-hari.
Di sisi lain, ada pula pihak yang melihat pemakzulan sebagai salah satu instrumen politik dan konstitusional untuk mengawasi pemerintahan Trump apabila Demokrat memperoleh mayoritas di Kongres.
Situasi politik tersebut menjadi semakin penting karena sejumlah jajak pendapat menunjukkan Partai Demokrat memiliki peluang untuk merebut kembali Dewan Perwakilan Rakyat.
Demokrat juga disebut memiliki keunggulan tipis dalam sejumlah persaingan untuk mendapatkan kursi Senat.
Jika Demokrat berhasil menguasai salah satu kamar Kongres, kemampuan Trump untuk menjalankan agenda pemerintahannya dapat berkurang secara signifikan.
Kondisi tersebut mirip dengan situasi yang pernah dialami mantan Presiden Barack Obama ketika Partai Republik menguasai Kongres pada periode 2014 hingga 2016.
Dengan adanya mayoritas oposisi, berbagai rancangan undang-undang yang menjadi prioritas presiden dapat menghadapi hambatan lebih besar.
Baca juga: Iran Ancam Sasar Pangkalan Militer AS di Eropa jika Trump Eskalasi Perang
Trump menyampaikan pernyataan tersebut ketika berada di South Carolina untuk mendukung Darline Graham dalam persaingan politik di negara bagian tersebut.
Graham sebelumnya ditunjuk untuk mengisi kursi Senat setelah saudara laki-lakinya, Lindsey, meninggal dunia.
Di Amerika Serikat, ketika seorang senator meninggalkan jabatannya sebelum masa jabatan berakhir, pengganti sementara umumnya dapat ditunjuk oleh gubernur negara bagian sesuai aturan negara bagian masing-masing.
Pengganti tersebut kemudian dapat menghadapi pemilihan untuk mendapatkan mandat dari pemilih.
Graham kini berusaha mempertahankan kursinya melalui pemilihan November.
Namun, perjalanan politiknya tidak mudah karena ia harus menghadapi pemilihan putaran kedua setelah gagal memperoleh kemenangan langsung dalam pemilihan pendahuluan.
Persaingan tersebut juga menjadi ujian terhadap pengaruh Trump di dalam Partai Republik.
Graham menghadapi sorotan setelah penampilannya dalam debat yang mendapat kritik.
Dalam debat tersebut, ia mengakui bahwa dirinya “tidak terlalu paham tentang keamanan nasional” ketika ditanya mengenai Taiwan.
Pernyataan tersebut kemudian menjadi bahan kritik lawan politiknya.
Kampanye Graham juga berlangsung setelah beberapa kandidat yang mendapat dukungan Trump mengalami kekalahan dalam pemilihan sebelumnya.
Kondisi itu membuat hasil pemilihan di South Carolina dipandang sebagai salah satu ukuran seberapa besar pengaruh Trump terhadap pemilih Partai Republik.
Trump pun kembali meminta dukungan langsung dari para pemilih.
“Yang benar-benar saya inginkan adalah Anda berpura-pura bahwa saya ada di surat suara. Datang saja dan berikan suara Anda,” ujar Trump.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Trump tidak hanya berupaya memenangkan kandidat yang didukungnya, tetapi juga ingin menjadikan pemilihan paruh waktu sebagai referendum tidak langsung terhadap kepemimpinannya.
Jika Partai Republik kehilangan mayoritas Kongres, Trump berpotensi menghadapi tekanan politik yang jauh lebih besar selama sisa masa jabatannya, termasuk kemungkinan munculnya kembali wacana pemakzulan.
Baca juga: VIDEO - Iran Ngamuk Trump Unggah Peta Selat Hormuz Bertuliskan "Wilayah Baru AS"
(Serambinews.com/Sri Anggun Oktaviana)