Keterbatasan Bukan Halangan, Kisah Aniq Islamiati Mantap Tempuh S-1 Sosiologi UT Majene
Ilham Mulyawan August 24, 2026 06:10 PM

TRIBUN-SULBARCOM, MAJENE - Seorang mahasiswi melihat ke arah kamera, ketika Direktur Universitas Terbuka (UT) Majene, Devi Ayuni memasangkan jas kuning almamater.

Namanya Aniq Islamiati Darwis, mahasiswi UT Majene dengan Nomor Induk Mahasiswa (NIM) 056922552.

Baca juga: Laka Maut di Desa Salugatta Mateng Pick Up Hilang Kendali Hantam Revo 1 Tewas dan 1 Patah Tulang

Baca juga: Diduga Ulah Anak-anak Bermain Api, Lahan Warga di Rangas Mamuju Hangus

Merupakan seorang mahasiswi penyandang disabilitas yang resmi menempuh pendidikan pada Program Studi S1 Sosiologi di Universitas Terbuka (UT) Majene.

Aniq membuktikan, keterbatasan fisik bukan alasan untuk memadamkan tekad meraih pendidikan tinggi.

Lewat sistem pembelajaran berbasis teknologi, Aniq membuktikan bahwa ruang belajar kini makin ramah dan inklusif bagi siapa saja.

Keputusannya memilih UT Majene didasari oleh motivasi kuat terhadap akses pendidikan yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat. 

Sistem perkuliahan terbuka dan fleksibel menjadi kunci utama yang memudahkannya mengikuti alur perkuliahan. 

Ditambah, kehadiran teknologi digital dalam platform pembelajaran UT memungkinkan Aniq mengakses materi, berdiskusi, serta menyelesaikan tugas dari mana saja tanpa harus terkendala oleh hambatan mobilitas fisik.

"Motivasi paling utama saya berkuliah di UT Majene adalah aksesnya yang terbuka. Sebagai disabilitas, teknologi perkuliahan di UT sangat membantu saya mengikuti kelas dari mana saja meski dengan keterbatasan yang ada," ujar Aniq.

Selain aksesibilitas yang inklusif, faktor keterjangkauan biaya perkuliahan juga menjadi pertimbangan penting. 

UT Majene menawarkan skema biaya yang fleksibel di luar biaya admisi dan registrasi mata kuliah, sehingga mahasiswa dapat menyesuaikan rencana studi sesuai dengan kemampuan finansial masing-masing.

Pada kesempatan sama, Direktur UT Majene, Devi Ayuni menyebutkan UT Majene terus berkomitmen untuk menghadirkan iklim akademik yang ramah disabilitas, meniadakan sekat-sekat pembatas, dan memastikan setiap warga negara memiliki hak serta kesempatan yang sama dalam meraih gelar sarjana. 

"Kehadiran sosok seperti Aniq Islamiati Darwis menjadi bukti nyata bahwa pendidikan inklusif bukan sekadar wacana, melainkan realitas yang terus hidup dan berkembang di Majene," kata Devi. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.