Tiga Tradisi Peringatan Maulid Nabi di Jawa Tengah: Ada di Pati, Kendal dan Kudus
Muhammad Fatoni August 24, 2026 06:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM - Bulan Rabiul Awal atau yang lebih dikenal sebagai bulan Mulud dalam penanggalan Jawa membawa ruang sukacita tersendiri bagi umat Islam di Nusantara.

Peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW ini tidak hanya menjadi tradisi keagaamaan tetapi menjadi ruang partisipasi masyarakat yang memadukan nilai-nilai spiritual dengan kearifan kebudayaan lokal. 

Wujud kecintaan kepada Rasulullah ini terekspresikan secara lekat melalui ragam tradisi Maulid di berbagai daerah di Jawa Tengah. 

Perayaan Maulid Nabi menjadi tradisi yang terus dirawat secara turun-temurun.

Berikut tiga tradisi masyarakat dalam memperingati Maulid Nabi di Jawa Tengah:

Baca juga: 3 Amalan yang Dianjurkan MUI untuk Sambut Maulid Nabi Muhammad


1. Tradisi Meron di Pati

Perayaan Meron merupakan salah satu tradisi khas dan monumental yang digelar oleh masyarakat Kabupaten Pati. 

Guna menyambut bulan suci kelahiran Rasulullah, antusiasme warga terlihat sangat masif melalui kegiatan membuat dan mengarak gunungan yang berisi aneka ragam hasil bumi.

Gunungan hasil bumi ini melambangkan kemakmuran alam dan keberkahan tanah setempat.

Sedangkan, arak-arakan Meron secara tradisi dilakukan sebagai wujud syukur warga sekaligus bentuk sukacita yang mendalam atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Baca juga: Sekaten, Tradisi Turun-temurun Keraton Yogyakarta Sambut Maulid Nabi

2. Ampyang Maulid di Kudus

Bergeser ke daerah Kudus, mereka memiliki cara tersendiri yang sarat akan nilai kebersamaan dalam merayakan Maulid Nabi.

Dikutip dari situs resmi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, syiar ini diwujudkan melalui sebuah tradisi bernama Ampyang Maulid.

Gelaran budaya ini, melibatkan masyarakat secara langsung dengan membagikan ratusan porsi nasi kepal.

Uniknya, nasi kepal beserta beraneka macam lauk-pauk tradisional tersebut ditata sedemikian rupa hingga membentuk sebuah gunungan besar atau yang lazim disebut ampyang.

Sebelum didistribusikan kepada masyarakat yang hadir, gunungan makanan ini didoakan secara bersama-sama oleh para pemuka agama dan warga setempat sebagai medium untuk meraih keberkahan hidup.

Baca juga: Wajib Coba! Ini 4 Makanan Khas Maulid Nabi di Yogyakarta


3. Tradisi Weh-wehan di Kendal

Interaksi sosial yang erat untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad juga tercermin dengan sangat jelas di Kabupaten Kendal.

Warga di sana memiliki tradisi Maulid melalui kegiatan interaktif bertajuk Weh-wehan.

Tradisi ini berpusat pada sebuah ajang saling bertukar dan berbagi makanan tradisional serta hantaran antartetangga di lingkungan tempat tinggal mereka.

Pelaksanaan Weh-wehan tidak hanya merepresentasikan kebahagiaan warga dalam menyambut hari raya kelahiran Nabi, tetapi juga berfungsi sebagai upaya untuk menjaga kedekatan di Masyarakat.

Prosesi saling memberi ini dapat menyambung dengan erat tali silaturahmi, meruntuhkan sekat-sekat sosial, dan memperkuat ikatan persaudaraan antarmasyarakat di Kaliwungu.

(MG Fuza Nihayatul Chusna)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.