Tribunlampung.co.id, Maumere - Harga komoditas ikan di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengalami lonjakan harga yang sangat drastis dalam beberapa hari terakhir. Kenaikan harga ini dipicu oleh dampak pascagempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang kawasan Flores pada Sabtu (15/8/2026).
Baca juga: Warga di Tenda Pengungsian di NTT Kocar-kacir Imbas Teriakan "Ada Gempa!"
Kelangkaan pasokan menjadi alasan utama meroketnya harga ikan di pasaran. Sebagian besar nelayan lokal dilaporkan masih memilih bertahan di posko-posko pengungsian dan belum berani kembali turun untuk melaut.
Saiful, seorang pedagang ikan asal Desa Talibura, mengungkapkan bahwa harga ikan yang biasanya dijual dengan kisaran Rp500 ribu hingga Rp600 ribu per box, kini melonjak drastis menjadi Rp800 ribu hingga mencapai Rp1 juta per box.
“Nelayan masih di posko pengungsian. Jadi kita jual ini ikan dari Larantuka. Dari Maumere belum ada, kosong. Harganya meningkat, satu box yang dulunya Rp500 ribu sampai Rp600 ribu, sekarang Rp800 ribu sampai Rp1 juta,” ujar Saiful saat dikonfirmasi, Senin (24/8/2026), dilansir Tribunflores.com.
Akibat lumpuhnya aktivitas nelayan lokal di Maumere, para pedagang di Sikka terpaksa hanya mengandalkan pasokan ikan dari luar daerah, yakni dari Kabupaten Flores Timur (Larantuka).
Lonjakan harga modal ini tentu memberikan pukulan telak bagi para pedagang eceran di pasar. Sejumlah lapak penjualan ikan tampak kosong melompong lantaran pedagang tidak mendapatkan pasokan.
Selain itu, banyak pedagang yang mengaku kesulitan untuk memutar modal guna membeli ikan dengan harga tebusan yang jauh lebih tinggi dari biasanya.
Berdasarkan pantauan di lapangan hingga Senin (24/8/2026), banyak warga pesisir yang rumahnya terdampak gempa memilih untuk tetap tinggal di posko pengungsian.
Warga biasanya hanya datang sebentar ke rumah masing-masing sekadar untuk mengecek kondisi bangunan, lalu kembali lagi ke posko karena masih dibayangi rasa trauma.
Kondisi psikologis dan belum pulihnya kawasan pesisir ini membuat rantai pasok sektor perikanan di Kabupaten Sikka terganggu secara signifikan, yang pada akhirnya membuat harga ikan di tingkat pedagang melambung tinggi dan memberatkan konsumen.
Untuk diketahui, gempa bumi di Kabupaten Sikka berdampak pada 21 kecamatan, dengan sekitar 352 ribu jiwa merasakan guncangan.
Data sementara Pemkab Sikka mencatat 3.942 rumah rusak, terdiri dari 854 rusak berat, 824 rusak sedang, dan 2.264 rusak ringan. Data tersebut masih dalam proses verifikasi bersama BNPB dan Kementerian Pekerjaan Umum.
Kerusakan juga terjadi pada fasilitas pendidikan, kesehatan, pemerintahan, jalan, jembatan, rumah ibadah, serta sarana air bersih dan sanitasi.
Di Kecamatan Palue, krisis air bersih menjadi perhatian serius setelah sejumlah bak penampungan air hujan mengalami keretakan akibat gempa.
Sementara itu, jalur Sikka–Ende dan sejumlah jembatan mengalami kerusakan serta longsor. Kondisi ini diperparah keterbatasan alat berat untuk penanganan di lapangan.
Hingga Minggu (23/8/2026), sebanyak 19.737 jiwa mengungsi secara mandiri di 19 kecamatan, sementara 1.264 jiwa berada di pengungsian terpusat Gelora Samador.
Pemerintah terus melakukan asesmen, memenuhi kebutuhan dasar warga, dan mempercepat pemulihan infrastruktur vital pascagempa.
Gempa Flores ini juga berdampak pada tujuh Kabupaten di Flores yakni Sikka, Ende, Nagekeo, Mbay, Manggarai Timur, Manggarai (Tengah) dan Manggarai Barat.