BANJARMASINPOST.CO.ID - Tinggalkan Depok, Jawa Barat, pedangdut Ayu Ting Ting kini dikabarkan pindah ke kawasan Jakarta Selatan (Jaksel).
Adanya kabar terkait kekasih Muhammad Kevin Gusnadi ini sempat menghebohkan publik.
Bahkan, media sosial ramai dengan berbagai meme dan video lucu yang menyebut warga Depok ‘berduka’ karena kehilangan sang ikon kota.
Menanggapi kehebohan tersebut, pelantun lagu Sambal Balado ini akhirnya membuat klarifikasi melalui kanal YouTube miliknya.
Ayu mengaku awalnya mengetahui kabar tersebut dari media sosial yang mendadak heboh membicarakan kepindahannya.
Baca juga: Sikap Rekan Artis pada Ruben Onsu yang Kini Terjerat Kasus Penipuan Terungkap, Machi: Sungkan Dia
Ayu menegaskan bahwa kepindahannya semata-mata demi kenyamanan putri semata wayang, Bilqis Khumairah Razak, yang kini sudah memasuki jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Ia membeberkan bahwa rumah di Jakarta tersebut sebenarnya sudah lama ia miliki.
Namun, ia baru memutuskan untuk menempatinya sekarang agar jarak tempuh ke sekolah Bilqis tidak terlalu jauh.
"Rumah Jakarta tuh emang udah ada lama, Qiss You. Memang belum sempat ditempatin karena memang niatnya adalah nunggu Bilqis sampai masuk di SMP. Dan alhamdulillah, udah waktunya Bilqis sekolah di SMP, jadi aku mulai menempati rumah itu dan mulai pindah ke rumah Jakarta," jelas Ayu.
Ia juga menambahkan bahwa perjalanan dari Depok menuju sekolah sang anak di Jakarta kerap memakan waktu lama akibat kemacetan lalu lintas.
"Kenapa pindah ke Jakarta, ya itu alasannya, gitu, supaya lebih dekat. Dari sana aja Bilqis tuh berangkat sekolah tuh masih yang jam setengah tujuh. Kalau lewat dari situ ya udah macet banget kan," sambungnya.
Pedangdut berusia 34 tahun ini juga meluruskan anggapan bahwa dirinya telah meninggalkan Depok sepenuhnya. Ayu menegaskan bahwa kepindahannya tidak bersifat permanen.
"Gua pasti di Jakarta itu Senin sampai Jumat. Weekend gua balik ke Depok. Jadi gua pasti akan menyapa semua warga Depok, tenang aja. Gua sekeluarga gak pindah lu, tenang aje," pungkas Ayu.
Depok memiliki sejarah panjang dan unik, bahkan sebelum Indonesia merdeka tahun 1945 silam.
Pada masa Pemerintahan Hindia Belanda, Depok menjadi daerah khusus yang memiliki presiden resmi sendiri.
Bukti-bukti sejarah tersebut tersimpan rapi di Gedung Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC), Jalan Pemuda, Kecamatan Pancoran Mas, Depok.
Di lokasi tersebut, pengunjung dapat melihat langsung foto dan nama Presiden Kaoem Depok dari masa ke masa.
Pengurus YLCC Bidang Pendidikan, Suzana Legia Leander menjelaskan, Presiden Kaoem Depok pada masa itu sudah dipilih secara demokratis.
Sejarah ini berawal dari seorang pengusaha Belanda, Cornelis Chastelein membeli sebidang tanah di kawasan yang sekarang dikenal dengan nama Pancoran Mas, Depok sekira tahun 1696.
Kemudian, Cornelis membawa 150 budak atau pekerja untuk mengurusi bisnisnya di wilayah tersebut.
Selang beberapa waktu, Cornelis lantas memerdekakan budak-budaknya tersebut dan membaptisnya untuk memeluk agama Kristen.
Usai dimerdekakan dan memeluk agama Kristen, pekerja Cornelis dikelompokkan dalam 12 marga nama baptis.
“Boleh saya sebut, Jonathans, Soedira, Laurens, Bacas, Leander, Joseph, Tholense, Jacob, Loen, Isakh, Samuel, dan Zadokh,” kata Suzana, Rabu (27/8/2025).
Dalam perkembangannya, anggota 12 marga tersebut diberikan kebun-kebun oleh Cornelis hingga hingga mendirikan negara.
“Jadi kami punya presiden, karena pada saat itu, khususnya di Eropa dibolehkan negara di dalam negara,” ungkapnya.
Tercatat, Presiden Ke-1 Kaoem Depok (1913) bernama Gerit Jonathans dan berakhir di kepemimpinan Presiden ke-5, Johanes Mathijs Jonathans sebelum sepenuhnya jatuh ke pangkuan NKRI.
“Istana negaranya itu di Rumah Sakit Harapan, namanya Kementer Bestuur, jadi kami sudah mengenal demokrasi ya sejak saat itu,” pungkasnya.
(Banjarmasinpost.co.id/Grid.id)