Laporan Wartawan TribunGayo. com Alga Mahate Ara | Aceh Tengah
TRIBUNGAYO.COM, TAKENGON - Asap hitam memang sudah padam sejak Minggu (9/8/2026) sore.
Namun, luka di hati warga Kampung Jeget Ayu, Kecamatan Jagong Jeget, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh belum sepenuhnya berakhir.
Ditengah puing-puing sisa amukan api dan duka yang mendalam, secercah harapan hadir dari Dapur Umum Dinas Sosial (Dinsos) Aceh Tengah yang digerakkan bersama para pejuang kemanusiaan dari Taruna Siaga Bencana (Tagana).
Selama dua pekan atau 14 hari terhitung mulai Minggu, 9 Agustus 2026 hingga Sabtu, 22 Agustus 2026 dapur umum ini tak pernah padam.
Ia menjadi bukti nyata bahwa di saat paling gelap, selalu ada tangan-tangan yang mengulurkan kehangatan.
Kebakaran hebat yang meluluhlantakkan 96 rumah dengan total 104 Kepala Keluarga (KK) dan ratusan jiwa di Jeget Ayu, Jagong Jeget, merenggut segalanya dalam hitungan menit.
Pakaian, tempat berlindung, dapur, hingga impian lenyap dalam sekejap.
Tanpa menunggu lama, di malam musibah itu terjadi, jajaran Dinsos Aceh Tengah bersama pilar-pilar sosial Tagana langsung bergerak mendirikan dapur umum.
"Kami datang bukan membawa solusi besar. Kami datang membawa nasi, lauk, dan pelukan," ujar Tengku Mancang, salah seorang anggota Tagana, sembari mengaduk sayur di atas tungku darurat.
Setiap harinya, para relawan memasak lebih dari 350 porsi makanan untuk memenuhi kebutuhan para penyintas.
Pagi, siang, hingga malam, menu sederhana seperti nasi, sayur, ikan, dan telur disiapkan dengan penuh ketulusan.
Bagi para korban, hidangan tersebut bukan sekadar pengganjal perut, melainkan rasa rumah yang sempat hilang.
Selama dua pekan beroperasi, dapur umum ini menyimpan cerita-cerita mengharukan dari para warga terdampak,
Seorang ibu bernama Ramlah (58) setiap pagi datang paling awal ke dapur umum bukan untuk meminta makanan, melainkan untuk membantu mengupas bawang.
"Biar terasa saya masih berguna. Biar duka ini ada temannya," ujarnya sambil menahan air mata.
Anak-anak penyintas, mereka yang sempat diliputi rasa trauma, perlahan kembali tersenyum sambil mengantre membawa piring untuk menerima makanan dari relawan Tagana.
Warga di pojok tenda, bapak-bapak yang duduk termenung menatap kosong, perlahan kembali bersemangat saat menerima secangkir kopi hangat disertai bisikan penguatan, "Sabar ya, Pak".
Kepala Dinas Sosial Aceh Tengah, Windi Darsa yang memantau langsung proses tersebut menegaskan bahwa posko ini melampaui fungsi administratifnya.
"Ini bukan sekadar dapur umum. Ini adalah dapur kemanusiaan.
Di sini kita belajar bahwa musibah menyatukan kita. Yang kehilangan rumah, kami beri makan.
Yang punya tenaga, kami ajak membantu. Yang berat, jadi ringan karena kita pikul bersama," tutur Windi.
Dari 9 Agustus hingga 22 Agustus 2026, para relawan mengabdikan diri tanpa kenal lelah.
Hujan, cuaca panas, hingga kendala padamnya listrik tak menyurutkan langkah mereka.
Para personel Tagana tidur di tenda darurat dan bangun sejak pukul 04.00 WIB demi menyiapkan santapan pagi bagi ratusan jiwa.
Mereka bukanlah orang-orang yang mencari panggung, melainkan anak-anak daerah berhati besar yang mendedikasikan waktu dan tenaganya untuk sesama.
Pada Sabtu (22/8/2026) malam, dapur umum resmi ditutup.
Penutupan ini dilakukan bukan karena duka telah usai sepenuhnya, melainkan karena sebagian besar warga terdampak sudah mulai berangsur pulih.
Dan kembali beraktivitas, serta memilih tinggal di hunian sementara atau menyewa tempat tinggal agar bisa hidup lebih mandiri.
Suasana haru dan tangis pun pecah saat doa bersama dipanjatkan sebagai penutup.
Air mata itu bukan lagi karena lapar, melainkan bentuk perpisahan dengan orang-orang yang selama dua minggu telah menjadi keluarga baru mereka.
Musibah kebakaran Jeget Ayu meninggalkan luka yang mendalam, tetapi ia juga meninggalkan pelajaran berharga, bahwa kemanusiaan tidak akan pernah padam selama masih ada pihak yang mau menyalakan tungku kepedulian.
Terima kasih untuk Dinas Sosial, terima kasih untuk pilar sosial Tagana, dan terima kasih untuk setiap butir nasi yang menguatkan.
"Dari abu, kita tanam harapan. Dari duka, kita hidupkan cinta," pungkas Windi Darsa.
Dari kepulan asap kebakaran Jeget Ayu, lahir kehangatan dapur umum dan jalinan kebersamaan yang menguatkan sesama untuk bangkit kembali. (*)
Baca juga: SAKSI KATA: Aksi Heroik Ismawati Selamatkan Balita dari Kobaran Api di Jagong Jeget Aceh Tengah
Baca juga: BREAKING NEWS: Puluhan Rumah di Jagong Jeget Aceh Tengah Terbakar, Dua Korban Dilarikan ke RS