Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Robert Ropo
TRIBUNFLORES.COM, BORONG---Video berdurasi 1.38 detik memperlihatkan banyak orang atau massa sedang membakar terpal berwarna merah yang tertumpuk di tengah halaman kantor Camat Lamba Leda di Benteng Jawa, Desa Tengku Leda, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, NTT.
Sejumlah massa juga tampak seperti memegang pipa besi diduga rangka dari tenda untuk posko pengungsian korban terdampak gempa Flores.
Dalam video itu, juga terdengar warga berteriak-teriak. "Oe! oe! oe! pulang! pulang!, suruh pulang mereka!". Bahakan ada sampai meluapkan kata kasar. Sementara di saat yang sama juga tampak masuk di area lapangan Camat Lamba Leda Vitalis Edmundus Buru Lana, bersama sejumlah anggota TNI/Polri.
"Mati semua kami disini!, dari tadi kami tunggu disini. Anak-anak kami bawa kesini, istri kami bawa kesini," teriak warga lainya.
Baca juga: Gerakan Komix Herbal Peduli Hadir Dukung Masyarakat Terdampak Gempa Flores NTT
"Anak-anak semua sudah dari tadi disini!, bohong,"sahut warga lainya.
"Sudah susah, tambah lagi susah!," teriak lagi warga.
"Apa bedanya kami dengan mereka, dengan bantuan ini saja tidak pas!,teriak warga lainya.
Video aksi massa ini viral di media sosial. Diduga massa ini merupakan para korban dampak gempa Flores yang kecewa karena tidak mendapatkan bantuan setelah sekian lama menunggu kedatangan bantuan.
Mantan Anggota DPRD Kabupaten Manggarai Timur juga Relawan Bencana Gempa Flores Bernadus Nuel juga turut memposting video itu di media tiktok miliknya.
Bernadus ketika dikonfirmasi TRIBUNFLORES.COM, Senin 24 Agustus 2026 malam, mengatakan peristiwa itu terjadi di Benteng Jawa dimana massa yang merupakan para korban dampak gempa Flores meluapkan kekecewaan karena kecewa setelah lama menunggu kedatangan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa untuk datang membawa bantuan tanggap darurat batal.
"Mereka kecewa karena tunggu lama Gubernur Jawa Tengah katanya hadir di lokasi tapi batal karena Gubernur diarahkan untuk ke kampung Lamba Keli terlebih dahulu. Sehingga warga kecewa dan membakar bantuan Pemerintah Daerah itu,"ujarnya.
Camat Lamba Leda, Vitalis Edmundus Buru Lana, ketika dikonfirmasi TRIBUNFLORES.COM melalui sambungan telepon, Senin malam juga membenarkan aksi warga terdampak gempa Flores itu. Ia menerangkan, peristiwa itu terjadi Senin 24 Agustus 2026 siang tadi.
Kata dia, warga meluapkan kekecewaan dengan membakar terpal yang terkumpul di area lapangan tempat posko pengungsian di halaman kantor Camat di Benteng Jawa.
Camat Vitalis juga menerangkan, aksi warga itu sebagai bentuk kekecewaan karena Gubernur Jawa Tengah batal menemui mereka di posko itu. Gubernur hanya menemui para korban di posko Lamba, Desa Lamba Keli sekaligus menyerahkan bantuan logistik untuk korban, karena waktu Gubernur terbatas.
"Mereka buat seperti ini karena ungkapan kekecewaan karena tidak jadi Gubernur Jawa Timur Ibu Kofifah temui mereka. Agenda Gubernur Jawa Tengah di Benteng Jawa itu hanya 1 jam, sehingga kita sudah alokasikan waktu setengah jam di Lamba Keli setengah jam di Tengku Leda.
Namun karena massa di Lamba Keli tidak bisa terbendungi saat menyambut kedatangan Gubernur mereka minta foto dan selfie-selfie, maka waktu terpotong habis untuk Desa Tengku Leda, sehingga tidak ada waktu lagi, karena Ibu Gub harus balik ke Labuan Bajo untuk terus pulang ke Surabaya. Jadi itu hanya ungkapan kekecewaan karena tidak ketemu dengan ibu Gubernur saja,"terangnya.
Camat Vitalis menegaskan, meski Gubernur Jawa Tengah batal menemui warga terdampak gempa di Tengku Leda, namun bantuan dari Gubernur Jawa Timur itu tetap sampai dan sudah langsung dibagikan oleh pihaknya kepada warga terdampak korban sore tadi.
Kapolres Manggarai Timur AKBP Haryanto, S.H., S.I.K., M.M., CPHR melalui Kasat Reskrim Polres Manggarai Timur, Iptu Ahmad Zacky Shodri, S.H, kepada TRIBUNFLORES.COM, menerangkan, Senin (24/82026) pukul 11.30 WITA, telah terjadi insiden keributan Massa yang berujung pada pembakaran terhadap dua unit tenda pengungsian yang dibangun oleh BNPB di depan Kantor Camat Lamba Leda, Desa Tengku Leda. Aksi pembakaran itu dilakukan oleh sejumlah massa.
Zacky juga mengatakan, kejadian keributan warga berujung pada pembakaran terhadap dua tenda pengungsian tersebut diduga dipicu oleh kekecewaan warga atas batalnya kunjungan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa di posko depan Kantor Camat Lamba Leda.
Zacky juga menerangkan kronologi, dimana Minggu (23/8/2026) warga Benteng Jawa, memperoleh informasi dari pihak Kecamatan Lamba Leda bahwa pada Senin (24/8/2026) Gubernur Khofifah bersama rombongan akan mengunjungi Posko Kampung Lamba, Desa Lamba Keli, dan Posko di depan Kantor Camat Lamba Leda, Benteng Jawa, Desa Tengku Leda.
Kemudian Senin, (24/8/2026) Gubernur Khofifah bersama rombongan hanya mengunjungi Posko Kampung Lamba, Desa Lamba Keli. Setelah itu, rombongan meninggalkan Benteng Jawa dan melanjutkan perjalanan menuju Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat.
Setelah mengetahui bahwa kunjungan Gubernur Jawa Timur bersama rombongan ke Posko di depan Kantor Camat Lamba Leda dibatalkan, sejumlah massa melakukan aksi protes yang berujung pada pembakaran terhadap 2 tenda pengungsian yang dibangun oleh BNPB.
Atas kejadian pembakaran tersebut, Bhabinkamtibmas Kecamatan Lamba Leda, Aiptu Yoh K. Pati, bersama pihak terkait segera melakukan pengamanan dan memberikan imbauan kepada massa. Situasi kemudian berhasil dikendalikan dan warga selanjutnya membubarkan diri dengan tertib.
Kecamatan Lamba Leda ini adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Manggarai Timur, NTT. Kecamatan ini berada utara Pulau Flores yang terkena dampak bencana gempa tanggal 15 Agustus 2026 pagi.(rob)