TRIBUNMANADO.CO.ID - KOTAMOBAGU - Tragedi Drag Race Upai pada 9 Agustus 2026 kembali menjadi sorotan.
Kali ini, perhatian tertuju pada catatan final time Tian Ngantung, pengemudi Honda Jazz nomor peserta 680 yang terlibat dalam kecelakaan hingga menghantam penonton.
Berdasarkan data pada papan timer, yang diperoleh Tribunmanado.co.id, Senin 24 Agustus 2026, Tian mencatat waktu 00:08.487 pada race FFA.
Catatan tersebut justru lebih lambat dibanding sejumlah peserta lain di kelas yang sama.
Charol Lengkong, Banni Runtuwene, Harley Sigit dan Alan Bayo tercatat mampu menyelesaikan lintasan dengan waktu sekitar tujuh detik.
Data final time ini menjadi penting sebagai bahan pembanding bagi masyarakat.
Sebab, dalam beberapa kesempatan, orang tua dan kuasa hukum Tian Ngantung menyampaikan bahwa Tian merupakan korban dalam tragedi tersebut.
Di sisi lain, catatan waktu menunjukkan Tian bukan peserta dengan waktu tercepat.
Bahkan, waktunya berada lebih dari satu detik di bawah sejumlah peserta lain yang mampu menyelesaikan lintasan lebih cepat.
Perbedaan fakta tersebut tentu tidak serta-merta membuktikan Tian melakukan kesalahan.
Namun, kondisi itu menjadi alasan penting untuk menguji secara objektif apa yang sebenarnya terjadi sejak kendaraan meninggalkan garis start hingga keluar lintasan.
Pertanyaan utamanya adalah mengapa kendaraan Tian bisa keluar lintasan dan menghantam penonton, sementara peserta lain yang mencatat waktu lebih cepat mampu menyelesaikan lintasan?
Karena itu, penyelidikan tidak cukup hanya melihat soal kecepatan.
Polisi perlu mencocokkan data timing dengan rekaman video, kondisi kendaraan, sistem pengereman, kondisi lintasan, posisi kendaraan saat mendekati garis finis, serta teknik pengemudi dalam mengendalikan mobil.
Faktor human error atau kelalaian pembalap juga perlu diperiksa secara serius, termasuk kemungkinan kesalahan dalam mengendalikan kendaraan.
Pada saat yang sama, kemungkinan kerusakan teknis kendaraan maupun faktor keselamatan lintasan juga harus diuji.
Catatan waktu yang lebih lambat tidak otomatis berarti Tian lalai.
Begitu pula penyebutan Tian sebagai korban tidak otomatis menjawab penyebab kendaraan keluar lintasan.
Semuanya harus dibuktikan melalui pemeriksaan teknis dan bukti yang objektif.
Sementara itu, Kapolres Kotamobagu AKBP Abdul Kholik menegaskan kasus tersebut sudah diambil alih Polda Sulut.
"Penyelesaian kasus ini sudah ditangani Polda Sulut," katanya.
"Jadi kami sudah memberikan semua berkasnya ke Polda Sulut," ucap dia.
Sebelumnya, Kapolda Sulut Irjen Roycke Langie memberikan statement bahwa pebalap Tian Ngantung berpotensi jadi tersangka.
Hal tersebut disampailan jenderal dua bintang ini usai meninjau sejumlah korban di RSU Monompia, Kotamobagu.
"Kalau pengemudinya lalai bisa jadi tersangka," tegas Langie.
Meski begitu, hingga saat ini polisi belum menetapkan satu tersangka pun dalam tragedi drag race maut di Kotamobagu.
Insiden maut tersebut terjadi pada drag bike yang berlangsung di Kelurahan Ipai, Kecamatan Kotamobagu Utara, Kota Kotamobagu.
Berjarak sekitar 184 km dari Kota Manado, ibu kota Sulawesi Utara.
Kejadian Minggu 9 Agustus 2026 sekitar pukul 16.00 Wita.
Turnamen ini tercatat diikuti 590 starter kelas sepeda motor dan 337 starter kelas mobil.
Sementara mobil yang mengalami kecelakaan tersebut diketahui adalah pebalap dari tim Pangeran 05 McJoe bernama Tian Ngantung.
Ia turun di kelas Free For All (FFA) menggunakan mobil Honda Jazz.
Berdasarkan pantauan di lokasi, Tian awalnya melaju seperti biasa dalam lintasan balap.
Tidak terlihat adanya kendala saat mobil melaju menuju garis finis.
Namun, setelah melewati garis finis dan memasuki area pengereman sekitar 100 meter, mobil tersebut mengalami crash dan kemudian menabrak sejumlah penonton yang berdiri di sisi arena.
Benturan tersebut menyebabkan sejumlah penonton menjadi korban.
Pasca-insiden, pelaksanaan drag race di lokasi tersebut dihentikan.
Para korban kemudian dievakuasi ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.
Polisi juga sudah mengamankan mobil jenis Honda Jazz yang terlibat tragedi drag race.
Mobil milik tim Pangeran 05 McJoe yang dikendarai Tian Ngantung itu kini berada di Mapolres Kota Kotamobagu.
Ketua panitia drag race Lucky Sugeha sempat terlihat mendatangi para korban di RS.
Lucky Sugeha menegaskan siap bertanggungjawab atas musibah itu.
Ia juga akan menanggung sepenuhnya biaya pengobatan para korban di rumah sakit.
Risandi Mokoginta, anak Rina Longkun salah satu korban tragedi drag race maut di Kotamobagu mengaku kecewa.
Kekecewaan itu datang karena ibunya yang mengalami luka serius dan menjalani operasi masih membutuhkan biaya pengobatan.
Bahkan, hinhga saat ini biaya pengobatan ibunya sudah mencapai Tp 120an juta.
Risandi mengaku telah menghubungi ayah Tian, Danny Ngantung, untuk meminta bantuan biaya operasi.
Namun menurutnya belum mendapat respons seperti yang diharapkan.
Bagi keluarga korban, persoalan tidak berhenti pada santunan.
Masih ada korban yang membutuhkan perawatan medis dan biaya pengobatan lanjutan.
Karena itu, keluarga korban berharap tragedi Upai tidak hanya dilihat dari sisi siapa yang disebut sebagai korban, tetapi juga dari apa yang menyebabkan kendaraan kehilangan kendali dan keluar lintasan.
Pada akhirnya, masyarakat membutuhkan jawaban yang jelas dan berbasis bukti.
Apakah kecelakaan tersebut berkaitan dengan human error, kelalaian pembalap, kondisi kendaraan, sistem pengereman, kondisi lintasan atau faktor lainnya.
Jawaban itu penting agar penyebab sebenarnya dari tragedi Drag Race Upai dapat terungkap secara transparan dan proses hukum berjalan berdasarkan fakta, bukan asumsi maupun pernyataan sepihak. (nie)
Baca juga: Kuasa Hukum Thian Ngantung Sebut Tanggung Jawab Tragedi Drag Race Kotamobagu Bukan pada Pembalap