Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Aris Ninu
TRIBUNFLORES.COM,MAUMERE-Gempa yang melanda Pulau Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026 pagi mengisahkan banyak cerita dan perjuangan warga guna menyelamatkan diri.
Warga berada di dalam rumah berusaha menyelamatkan diri dengan berlari keluar. Ada yang berlindung sambil berlindung di tempat berduka.
Ada juga keluar rumah melalui jendela dan pintu. Ada juga yang bertahan di dalam rumah lalu pasrah.
Tetapi kisah yang dialami Rudolfus Rugi, warga Desa Nitung Lea, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka NTT ini sungguh mengharukan dan menyedihkan.
Baca juga: Pascagempa Flores, Kakanwil Imigrasi NTT Datangi Maumere dan Beri Semangat kepada Pegawai
Rudolfus, pria tangguh dari kaki Gunung Rokatenda Palue ini memilih cerita tersendiri.
Yang mana pria 3 orang ini yang sudah ditinggal pergi sang istri karena meninggal dunia ini berusaha menyelamatkan cucunya malah tertindih bangunan rumahnya.
"Saya saat gempa mau selamatkan cucu saya di kamar tapi malah ada material bangunan rumah yang jatuh dan menindih saya di belakang. Saya lalu ke kamar ternyata mereka sudah keluar. Mereka terjebak di dalam. Beruuntung dinding tembok rumah batu kami roboh lalu mereka keluar lewat dinding tembok. Setelah keluar mereka lalu berlindung di tempat yang aman. Saya lalu tidak bisa keluar lewat pintu utama. Saya terpaksa keluar lewat jendela,” ujar Rudolfus.
Setelah keluar dari jendela rumah, ia pun bersama anak kandung, menantu cucu berlindung karena masih ada gempa.
“Setelah gempa reda saya hanya bisa lihat rumah kami roboh bagian dinding. Saya luka di bagian punggung belakang. Setelah itu pada keesokan harinya, Minggu, 16 Agustus 2026 saya ke tukang urut lalu punggung saya baik,” paparnya.
Setelah keluarganya aman, ia pung merasa tidak tenang karena salah satu putranya sedang berada di Kecamatan Wewaria, Ende.
“Anak saya yang ketiga ketika gempa tidak ada di Palue. Ia libu di rumah adik saya di Wewaria. Saya lalu mendapat informasi kalau anak saya Libertus Moy mengalami luka,” ungkapnya.
Kabar Libertus terluka itu membuat ia pun memutuskan naik kapal motor dari Palue ke Wewaria.
“Sampai di Wewaria anak saya sudah dirawat di puskesmas. Saya lalu putuskan bawa anak saya ke Maumere.Kami sewa mobil ke Maumere karena lukanya serius. Kami tiba di Maumere, Sabtu, 22 Agustus 2026. Usai mendapatkan perawatan anak saya mulai membaik,” ujarnya.
Sore itu, Minggu, 23 Agustus 2026 Rudolfus yang mengenakan baju kaos hitam tetap tenang dan duduk di samping tempat tidur.
Di tempat tidur, anaknya sedang terbaring dibawah tenda berwarna merah di depan IGD RSUD Maumere di Jalan Wairklau Maumere, Sikka NTT. Ia tampak tenang dan tak banyak bicara.
Sore itu pun ia bersama anaknya, Libertus mendapat berkat dan doa dari Uskup Maumere, Mgr.Martinnus Ewaldus Sedu.
Uskup Maumere, pemimpin tinggi umat katolik di Kabupaten Sikka ini datang menyapa semua pasien baik korban gempa dan bukan korban gempa.
Semua pasien di tenda darurat dan di dalam ruangan perawatan disapa, didoakan dan diberkati,
Desa Nitung Lea adalah satu desa di Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka NTT.
Desa ini berada di kaki Gunung Berapi Rokatenda Palue. Yang mana desa ini berada di Pantai Utara Flores yang berdekatan dengan pusat gempa Flores di Kabupaten Nagekeo.
Jika ke desa ini harus menggunakan kapal motor dengan jarak tempuh dari Pelabuhan Lorens Say Maumere memakan waktu 5 jam.
Untuk ke desa ini akses harus melewati laut Jika melalui Pantai Maurole di Kecamatan Maurole, Kabupaten Ende jarak tempuh 1 jam.
Namun pelayaran ke desa ini sering terkendala gelombang tinggi dan cuaca di laut tidak bersahabat.(ris)