Laporan Wartawan TribunJatim.com, Yusron Naufal Putra
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Penutupan ajang Soekarno Cup 2026 berlangsung meriah di Stadion Gelora Bung Tomo Surabaya, Senin (24/8/2026) petang.
Laga pamungkas dalam ajang yang diikuti pemain muda ini berhasil dimenangkan oleh Banteng Jabar setelah menundukkan Banteng Bali lewat adu penalti.
Ajang yang diinisiasi oleh PDI Perjuangan ini sebelumnya diikuti oleh kontingen dari 16 DPD atau kepengurusan di tingkat provinsi. Jawa Timur memang menjadi tuan rumah dengan beberapa venue. Selain Surabaya, beberapa pertandingan digelar di Gresik dan Bangkalan.
Pada laga final sekaligus penutupan ajang ini, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri yang didampingi oleh putranya sekaligus inisiator Soekarno Cup, Prananda Prabowo hadir secara langsung. Acara penutupan berlangsung meriah dengan sejumlah penampilan.
Mulai dari tarian dari sejumlah kebudayaan yang tampil di tengah lapangan sebelum pertandingan berlangsung. Dijeda babak pertama dan kedua, penonton juga disuguhi penampilan dari Once Mekel. Once yang sebelumnya dikenal sebagai penyanyi, kini merupakan anggota DPR RI dari fraksi PDIP.
Baca juga: PDIP Bidik Kursi Gubernur Jatim 2029, Hasto: Kami Punya Banyak Kader Mumpuni
Penutupan ajang tersebut ditutup dengan penampilan dari penyanyi kondang asal Jawa Timur, Denny Caknan. Denny sukses menghibur ribuan penonton yang sedari siang sudah memadati Stadion GBT yang berada di Benowo, Kecamatan Pakal, Surabaya ini.
Ketua DPD PDI Perjuangan Jatim Said Abdullah mengatakan, Soekarno Cup menjunjung tinggi sportifitas dan merupakan bagian dari panggung bagi talenta muda pemain sepakbola.
"Dan menjadi contoh bagi perkembangan sepak bola di tanah air. Inilah sedikit, setitik sumbangsih PDI Perjuangan bagi perkembangan sepak bola untuk membentuk karakter bangsa lewat usia 17 tahun," kata Said.
Said mengapresiasi animo masyarakat yang dinilai luar biasa dalam menyaksikan ajang Soekarno Cup. Terutama, warga Surabaya.
"Tentu dalam penutupan kali kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada masyarakat Surabaya khususnya dan Jawa Timur pada umumnya," tandas Said.
Ketua Panitia Nasional Soekarno Cup, Komarudin Watubun, mengatakan, final turnamen yang diikuti 400 talenta muda itu terasa lebih istimewa karena dua hal. Pertama, final dilangsungkan di Surabaya kota kelahiran Bung Karno, sang proklamator dan Bapak Bangsa.
Kedua, final digelar di Gelora Bung Tomo, sebuah stadion yang namanya diambil dari salah satu tokoh penting dalam sejarah perjuangan arek-arek Suroboyo.
"Malam ini kita menyatukan dua nama besar yang menentukan Merah-Putihnya sejarah bangsa: Bung Karno dan Bung Tomo," ujarnya.
Ir Soekarno atau Bung Karno dilahirkan di Surabaya pada 6 Juni 1901. Bung Karno menghabiskan masa remaja di Surabaya dengan indekos di rumah tokoh Islam, HOS Tjokroaminoto. Adapun Bung Tomo adalah salah satu tokoh sentral yang berjasa menggerakkan keberanian rakyat Surabaya pada masa paling genting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.
Pada 10 November 1945, ketika Surabaya menghadapi kekuatan Sekutu, Bung Tomo melalui siaran radionya membakar semangat rakyat. Komarudin mengimajinasikan, Bung Karno dan Bung Tomo saat ini sedang menyaksikan anak-anak muda Indonesia bertanding dengan senyuman bangga.
”Mereka melihat api perjuangan yang dahulu mereka nyalakan, kini terus menyala di dada generasi muda,” ujar Komarudin dalam sambutan yang disambut gemuruh ribuan penonton yang hadir.
Komarudin menjelaskan, ketika ratusan anak muda dari berbagai penjuru Indonesia berkumpul di Surabaya untuk bertanding dan mengejar mimpi menjadi pesepak bola profesional, Soekarno Cup ingin mempertemukan sejarah perjuangan bangsa dengan cita-cita generasi masa depan melalui lapangan sepak bola.
”Saya mengingatkan sebuah pesan besar Bung Karno, yakni Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia. Pesan itu bukan sekadar kata-kata. Itu adalah keyakinan bahwa pemuda Indonesia memiliki tenaga, keberanian, kreativitas, dan semangat untuk membawa bangsa ini menjadi bangsa yang besar,” ujar Komarudin.
Sementara itu, partai final yang mempertemukan Banteng Jabar dengan Banteng Bali ini berlangsung sengit. Jual beli serangan dilakukan kedua tim. Namun, hingga babak pertama usai skor kacamata atau 0-0 masih bertahan. Belum ada satupun gol tercipta bahkan hingga menit ke-70 babak kedua.
Bukan tanpa peluang, namun kedua tim mampu menahan serangan yang masing-masing dilancarkan. Hingga 90 menit waktu normal ditambah perpanjangan waktu, belum juga ada gol yang tercipta. Tingginya intensitas pertandingan sempat diwarnai kartu merah yang diberikan kepada Banteng Bali akibat pelanggaran keras.
Namun hingga peluit panjang skor kacamata masih bertahan. Alhasil, kedua tim harus beradu keberuntungan melalui adu penalti untuk menentukan pemenang. Banteng Jabar keluar sebagai juara setelah menang adu penalti dengan skor 5-3.