Barcode Pertalite Dipakai Orang Lain, Driver Ojol di Kendari Hanya Bisa Isi BBM Rp100 Ribu
Desi Triana Aswan August 24, 2026 11:50 PM

TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Seorang pengemudi mobil online di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), Adji mengaku menjadi korban dugaan penyalahgunaan barcode pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite.

Barcode miliknya diduga digunakan orang lain sehingga kuota Pertalite berkurang ketika hendak mengisi BBM di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Kendari.

Adji mengatakan kejadian tersebut diketahui saat antrean Pertalite mulai ramai pada akhir Juni 2026.

Ketika hendak mengisi BBM, petugas SPBU menyebut barcode miliknya telah digunakan pada hari yang sama.

“Pas saya mau mengisi, orang Pertamina bilang, ‘Kita sudah mengisi tadi pagi toh, Pak?’ Padahal hari itu saya belum mengisi,” kata Adji kepada TribunnewsSultra.com, Senin (24/8/2026).

Baca juga: Bawa Bekal hingga Rela Menginap, Warga Antre BBM Pertalite di SPBU Anggoeya Kendari

Ia kemudian mendapati kuota Pertalite yang tersisa hanya 10 liter.

Dengan jumlah tersebut, Adji menyebut dirinya hanya dapat mengisi BBM senilai Rp100 ribu.

Padahal selama ini, ia berupaya menjaga barcode tersebut agar tidak disalahgunakan.

Bahkan hanya menyimpannya dalam bentuk digital di ponsel dan hanya menggunakannya ketika melakukan pengisian BBM.

Menurutnya, barcode tersebut seharusnya terhubung dengan nomor polisi kendaraan yang telah didaftarkan.

Dengan demikian, satu barcode digunakan untuk satu kendaraan dan tidak semestinya dapat dipakai pada mobil dengan pelat nomor berbeda.

Baca juga: Update Harga BBM di Sulawesi Tenggara, Pertamax Berkurang Rp350 per Liter Menjadi Rp16.300

“Barcode BBM itu satu barcode satu pelat atau satu BBM. Artinya, barcode hanya bisa dipakai mobil itu saja. Di luar dari pelat itu tidak bisa,” ujarnya.

Ia pun berharap kejadian serupa tidak dialami pengemudi lainnya, terutama mereka yang mengandalkan Pertalite untuk menunjang aktivitas sehari-hari.

Apalagi disituasi sekarang, di seluruh SPBU Kendari mengalami antrean pertalite yang panjang.

“Jadi barcode itu tidak benar-benar privat hitungannya, karena masa orang lain bisa gunakan barcodenya,” jelasnya. (*)

(TribunnewsSultra.com/Dewi Lestari)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.