Wamenko Pangan Pantau Debit Air Riam Kanan Kalsel, PLN: Air Waduk Bisa Bertahan Hingga November
Irfani Rahman August 24, 2026 11:52 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU- Kondisi Bendungan Riam Kanan menjadi perhatian serius pemerintah di tengah maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan. 

Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, turut memantau langsung ketersediaan air di waduk yang menjadi salah satu sumber air utama bagi masyarakat tersebut.

Hanif mengatakan, berdasarkan penjelasan Manajer PLTA Riam Kanan, hampir 29 hari terakhir belum terjadi tambahan debit air dari hujan. 

Kondisi ini membuat penggunaan air harus dilakukan secara hati-hati.

“Karena itu, kehati-hatian kita terkait sumber air utama kita yaitu Bendungan Riam Kanan ini perlu menjadi perhatian kita semua,” ujar Hanif Faisol.

Baca juga: Atasi Karhutla Jangka Panjang di Kalsel, Menteri LH: Pemerintah Rencanakan Bangun Sumur Bor

Menurut Hanif, air dari Riam Kanan saat ini memiliki banyak fungsi. Selain digunakan sebagai sumber air baku PDAM, alirannya juga dimanfaatkan untuk perikanan air tawar dan kebutuhan persawahan.

Namun, kebutuhan air semakin besar karena saat ini sebagian besar aliran juga digunakan untuk mendukung penanganan karhutla, terutama untuk pembasahan lahan yang terbakar.

“Yang paling krusial hari ini, kita menggunakan penuh aliran ini untuk melakukan pembasahan dalam kebakaran hutan dan lahan,” katanya.

Hanif mengingatkan, situasi tersebut harus menjadi perhatian bersama karena Kalsel menghadapi kondisi iklim yang kering. Apabila debit air terus berkurang, kemampuan penanganan karhutla juga akan semakin terbatas.

Pihaknya pun mengajak masyarakat menggunakan air secara bijaksana sekaligus mencegah munculnya titik api baru.

“Jangan sampai terjadi kebakaran hutan dan lahan, apapun alasannya. Baik karena puntung rokok, obat nyamuk, maupun upaya membuka lahan,” tegasnya.

Hanif menilai waktu yang tersedia untuk melakukan pemadaman tidak boleh disia-siakan. Selama sumber air masih tersedia, penanganan api harus dilakukan secepat mungkin.

Sebab, menurutnya, ketersediaan anggaran maupun logistik tidak akan banyak membantu jika sumber air untuk pemadaman semakin terbatas.

“Tidak akan banyak bermanfaat sumber dana yang kita miliki karena tidak ada yang bisa mematikan api kecuali air,” ujarnya.

Dari data yang dihimpun pemerintah, Hanif menyebut hampir 99 persen kejadian karhutla di Kalsel dipicu faktor antropogenik atau aktivitas manusia.

Karena itu, ia meminta setelah api yang ada berhasil dipadamkan, tidak boleh lagi muncul kebakaran baru akibat kesengajaan maupun kelalaian.

Diperkirakan Bertahan hingga November

Manager PLN Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Barito, Nyoman Sukma Aryawan, dikonfirmasi juga Senin (24/8/2026) mengatakan, berdasarkan kondisi terkini, ketersediaan air diperkirakan masih mampu menopang aliran hingga akhir November.

“Ketersediaan air diperkirakan masih bisa mengalir hingga akhir bulan November,” katanya.

Pihaknya berharap hujan segera turun pada akhir November. 

Namun, sembari menunggu datangnya hujan, pengelola PLTA akan berupaya memperpanjang masa ketersediaan air dengan melakukan pengaturan alokasi.

Water Bombing Tetap Dibutuhkan

Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq juga menyoroti penggunaan water bombing dalam penanganan karhutla. 

Menurutnya, setiap metode pemadaman memiliki efektivitas berbeda sesuai karakteristik lokasi kebakaran.

Water bombing dinilai sangat efektif untuk kebakaran di lahan mineral, khususnya wilayah yang sulit dijangkau pasukan darat.

Namun, metode tersebut memiliki keterbatasan ketika diterapkan pada lahan gambut. Air dari udara lebih banyak membantu meredakan api di permukaan, sementara bara yang berada di dalam tanah tetap membutuhkan pembasahan secara langsung dan dalam jumlah besar.

“Untuk kebakaran di gambut, water bombing itu bermanfaat untuk meredakan api permukaan. Api di dalam tanahnya tetap harus dilakukan dengan pembasahan melalui memberikan air yang sebanyak-banyaknya,” urai Hanif.

Kondisi tersebut, lanjutnya, menjadi persoalan serius bagi Kalsel karena kebutuhan air untuk membasahi lahan gambut cukup besar, sementara sumber air semakin terbatas.

Karena itu, ia meminta pemadaman di kawasan rawa, terutama di sekitar Bandara Syamsudin Noor, dilakukan secara maksimal selagi sumber air dari Riam Kanan masih tersedia. 

Modifikasi Cuaca Bukan Andalan Utama

Di sisi lain, Hanif mengatakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) belum bisa dijadikan tumpuan utama untuk mengatasi kondisi kekeringan hingga beberapa bulan ke depan.

Berdasarkan kajian saintifik BMKG dan para ahli, kondisi atmosfer saat ini belum mendukung terbentuknya awan hujan dalam jumlah yang memadai. Karena itu, pelaksanaan OMC hingga November dinilai akan menghadapi kendala.

“Kalaupun nanti bisa dilakukan Operasi Modifikasi Cuaca, anggap itu bonus,” katanya.

Pemerintah, lanjut Hanif, tetap mengandalkan pengerahan tim darat dan water bombing untuk menangani titik-titik karhutla di seluruh kabupaten/kota di Kalsel.

“Tidak ada selain itu. Kita dengan seefektif mungkin melakukan pergerakan tim darat di semua kabupaten/kota di Kalimantan Selatan,” runutnya.

(Banjarmasin Post/Nurholis Huda)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.