SURYA.co.id, SURABAYA - Kreativitas Twyster, kelompok suporter SMAN 20 Surabaya, kembali mencuri perhatian di tribun DBL Arena Surabaya.
Dalam penampilan terbarunya di Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-North, Twyster melanjutkan tema Mesir Kuno yang sebelumnya sudah mereka tampilkan.
Kali ini, mereka mengangkat adegan Musa membelah lautan bersama para pengikutnya dalam sebuah koreografi berukuran 20 x 9 meter.
Visual tersebut hadir ketika Srikandi Twenty, julukan tim basket SMAN 20 Surabaya, berhadapan dengan SMAN 1 Manyar. Pada pertandingan tersebut, Twenty harus mengakui keunggulan lawan dengan skor 11-18.
Bagi Twyster, gambaran lautan yang terbelah bukan sekadar elemen visual. Adegan tersebut menjadi simbol keberanian dan pertolongan ketika menghadapi rintangan besar.
Bintang Samudra, capo Twyster, mengatakan tema Mesir Kuno sudah dipilih sejak awal karena memiliki banyak cerita yang bisa dikembangkan menjadi konsep koreografi.
“Menurut pandangan saya, sebelumnya belum ada yang mengambil tema Mesir. Anak-anak Twyster pengin ambil tema Mesir karena sejarahnya banyak,” ujar Bintang.
Kisah Musa kembali dipilih Twyster untuk koreografi mereka. Jika sebelumnya perjalanan Musa digunakan untuk menggambarkan perjuangan menghadapi berbagai rintangan, kali ini fokusnya berada pada momen ketika lautan terbelah.
Konsep tersebut kemudian dikaitkan dengan perjuangan tim basket SMAN 20 Surabaya di lapangan.
Bagi Twyster, lautan yang menjadi penghalang menggambarkan pertahanan lawan. Untuk melewatinya, para pemain membutuhkan kerja sama serta strategi yang tepat.
“Kerja sama dan strategi yang matang menjadi kunci utama untuk membobol pertahanan lawan serta mengatasi segala rintangan untuk meraih kemenangan di lapangan,” jelas Bintang.
Agar gambaran lautan terasa lebih hidup, Twyster tidak hanya mengandalkan bentangan koreografi utama. Mereka menyiapkan sekitar 50 properti berbentuk ombak yang ikut digerakkan oleh para suporter di tribun.
“Kita bikin properti ombak supaya massanya enggak sepi. Pas di tribun ada yang gerak juga,” imbuhnya.
Koreografi tersebut disiapkan dalam waktu sekitar satu minggu. Proses paling menantang bagi Twyster terjadi ketika memasuki tahap finishing dan detailing.
Mereka harus mengerjakan gradasi di sejumlah bagian agar hasil akhir sesuai dengan rancangan yang sudah dibuat.
Seluruh pengerjaan dilakukan di sekolah dan ditargetkan selesai sebelum pukul 20.00 WIB.
Para anggota Twyster ikut terlibat langsung dalam proses tersebut. Alumni juga memberikan masukan selama persiapan koreografi.
Bagi Bintang, kebersamaan selama proses pengerjaan justru menjadi salah satu hal yang paling berkesan.
“Kita ngerjain bareng-bareng koreonya. Kita saling support. Sama-sama kerja,” tuturnya.
Meski kembali membawa tema Mesir Kuno, perjalanan konsep Twyster belum selesai. Mereka sudah menyiapkan ide untuk pertandingan berikutnya.
Namun, Bintang belum mau membocorkan detail koreografi yang akan ditampilkan.
“Yang pasti tunggu kejutan untuk match berikutnya. Kita bakal bawa yang belum pernah dikonsepkan tahun ini,” pungkas Bintang.