TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Perjalanan seorang atlet tidak selalu dimulai dari cita-cita besar.
Bagi Amirah Shazia Avrila Nurakhman, basket justru pertama kali masuk ke dalam hidupnya karena sebuah alasan sederhana: melihat temannya bermain.
Kini, pemain bernomor punggung 18 itu telah berkembang menjadi salah satu sosok penting di skuad putri SMAN 1 Manyar Gresik. Pada Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-North, Shazia menjalankan peran sebagai point guard sekaligus kapten tim.
Perannya terlihat saat SMAN 1 Manyar Gresik meraih kemenangan 18-11 atas SMAN 20 Surabaya di DBL Arena Surabaya, Minggu, 23 Agustus 2026. Dalam pertandingan tersebut, Shazia mencatatkan 7 poin, 3 rebound, dan 2 assist.
Sebagai pengatur permainan, Shazia tidak hanya bertugas membawa bola dan membangun serangan. Ia juga harus mampu membaca keadaan di lapangan, terutama ketika rekan setim mulai kehilangan konsentrasi.
Salah satu situasi itu terjadi setelah seorang pemain SMAN 1 Manyar melakukan turnover. Shazia melihat rekannya mulai tidak fokus sehingga ia berupaya mengantisipasi kesalahan berikutnya dengan mengubah penjagaan.
“Seharusnya aku waktu itu minta dia untuk switch defense. Jadi gantiin peran dia untuk jaga anak satu ini. Biar enggak terjadi yang buruk karena dia emang aku lihat udah enggak fokus,” ujar Shazia.
Baca juga: Maskot Rusa Biru Jadi Simbol Santeria Dukung Saints Berlaga di Honda DBL with Kopi Good Day 2025
Kemampuan menjaga ketenangan menjadi hal yang penting bagi Shazia sebagai kapten. Ia menyadari beberapa rekannya masih merasakan ketegangan ketika pertandingan berlangsung. Karena itu, komunikasi menjadi salah satu cara yang ia gunakan agar tim tetap berada dalam kendali.
Saat memiliki kesempatan untuk berkumpul, para pemain saling menguatkan dan mengingatkan satu sama lain.
“Kalau misalnya grogi, kita bakal grouping. Kita bakal ngingetin satu sama lain. Tenang, tenang,” katanya.
Arahan itu juga terus terdengar ketika pertandingan berlangsung.
“Ayo, guys, tenang. Lebih tenang lagi,” lanjutnya.
Musim 2026 menjadi penampilan kedua Shazia di kompetisi DBL sekaligus musim terakhirnya bersama tim SMA. Sebagai siswa kelas XII, ia melihat ada perkembangan dalam permainan SMAN 1 Manyar dibandingkan musim sebelumnya.
Menurut Shazia, kemampuan para pemain kini semakin merata, terutama dari segi kecepatan dan kelincahan. Hal tersebut membuat timnya merasa lebih siap menghadapi persaingan.
Namun, sebelum menjadi kapten dan salah satu pengatur permainan tim, Shazia memulai semuanya tanpa target besar.
Ia mengenal basket sejak duduk di kelas VII SMP. Ketertarikannya muncul setelah melihat seorang teman bermain. Menurutnya, olahraga tersebut tampak menyenangkan sehingga ia memutuskan untuk ikut mencoba.
“Dulu aku ikut basket karena FOMO (fear of missing out) teman aku. Ngeliat dia main basket tuh kayak seru. Ya udah, aku ikut join aja,” ceritanya.
Menariknya, teman yang pertama kali membuat Shazia tertarik pada basket akhirnya berhenti bermain. Sebaliknya, Shazia memilih untuk melanjutkan perjalanannya.
Dari sekadar ikut mencoba, basket perlahan menjadi bagian penting dalam kesehariannya. Ia mulai menikmati permainan, suasana kompetisi, hingga berbagai emosi yang dirasakan ketika bermain bersama tim.
“Seru sih. Kayak pelan-pelan kebiasaan emosinya juga enak banget, senang gitu,” ujarnya.
Ketertarikan itu terus berlanjut hingga SMA. Selain berlatih bersama sekolah, Shazia juga menjalani program latihan melalui klub. Dalam satu pekan, ia dapat berlatih hingga lima kali.
Program latihannya pun beragam, mulai dari workout dengan sejumlah repetisi hingga jogging sejauh 3 sampai 5 kilometer sesuai arahan pelatih. Rutinitas tersebut menjadi bagian dari persiapannya sebagai pemain. Meski begitu, Shazia memiliki satu kebiasaan sederhana sebelum bertanding.
Ia selalu menyiapkan dua kotak kecil dark chocolate sebelum masuk lapangan. Kebiasaan itu menjadi salah satu bagian dari persiapannya menghadapi pertandingan.
Rasa gugup pun tetap bisa muncul. Namun, bagi Shazia, perasaan tersebut merupakan sesuatu yang wajar dan tidak perlu dibiarkan mengganggu permainannya.
“Grogi iya, tapi waktu main ya udah. Cuek aja. Mau gimana lagi, grogi itu wajar,” tuturnya.
Kini, waktu Shazia bersama tim basket SMAN 1 Manyar Gresik mulai memasuki masa akhirnya. Sebagai pemain kelas XII, ia ingin meninggalkan dorongan bagi para pemain yang akan melanjutkan perjalanan tim pada musim berikutnya.
Pesannya sederhana: terus meningkatkan intensitas latihan dan membawa tim tampil lebih baik.
“Lebih rajin lagi untuk latihan dan bisa lebih keras lagi tahun depan. Bisa lebih on fire daripada tahun ini,” katanya.
Perjalanan Shazia menjadi bukti bahwa ketertarikan terhadap suatu hal tidak selalu lahir dari impian besar sejak awal. Langkahnya bermula ketika ia melihat seorang teman bermain basket dan memutuskan untuk ikut mencoba.
Sang teman kemudian berhenti, tetapi Shazia memilih bertahan.
Keputusan sederhana itu membawanya terus berkembang hingga akhirnya berdiri sebagai point guard sekaligus kapten SMAN 1 Manyar Gresik. Kini, ia bukan hanya menjalani permainan untuk dirinya sendiri, tetapi juga memikul tanggung jawab untuk menjaga rekan-rekannya tetap tenang ketika pertandingan berjalan dalam tekanan.
Dari sekadar ikut teman, basket akhirnya menjadi perjalanan yang terus ia pilih untuk jalani.