Kemarau Panjang Hantam Pasangkayu, Sawit Mengering dan Petani Terancam Kehilangan Pendapatan
Abd Rahman August 25, 2026 10:08 AM

 

 

TRIBUN-SULBAR.COM,PASANGKAYU-Musim kemarau yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Pasangkayu mulai berdampak pada sektor pertanian dan kehidupan masyarakat. 

Berkurangnya ketersediaan air tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari warga, tetapi juga menekan produktivitas perkebunan dan pendapatan petani.

Mahasiswa asal Pasangkayu, Ardiansa R. Mochtar, melakukan penelusuran lapangan terkait kondisi masyarakat di Kecamatan Sarudu yang mulai merasakan dampak kekeringan. 

Baca juga: Bocah Diterkam Buaya di Mamuju Tengah, Tetua Adat Gelar Ritual Lepas Ayam Jantan Putih

Baca juga: Pelajar 16 Tahun Tabrak Motor IRT di Polewali Pasangkayu, Tiga Orang Luka-luka

Berdasarkan hasil pengamatannya, kemarau menyebabkan berkurangnya sumber air yang selama ini menjadi kebutuhan utama masyarakat.

Saat dikonfirmasi Tribun-Sulbar.com, Selasa (25/8/2026), Ardiansa mengatakan persoalan kekeringan saat ini tidak hanya berkaitan dengan cuaca, tetapi telah memengaruhi kondisi ekonomi masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan perkebunan.

"Air mulai mengering, hasil panen juga berkurang. Mau memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sudah berat, apalagi ketika pendapatan dari kebun dan pertanian ikut menurun. Kemarau seperti ini benar-benar menambah beban masyarakat," ujar Ardiansa.

Ia menjelaskan, kebutuhan air pada tanaman kelapa sawit cukup tinggi, terutama saat memasuki musim kemarau. 

Ketika curah hujan menurun dan ketersediaan air terbatas, pertumbuhan tanaman dapat terganggu sehingga berdampak pada hasil produksi.

Dampak kemarau, kata dia, mulai dirasakan petani di sejumlah wilayah Pasangkayu. 

Di Desa Doda, masyarakat mengeluhkan daun sawit yang mulai mengering dan menurunnya hasil panen. 

Sementara di Desa Patika, sebagian petani memilih tidak menanam padi karena keterbatasan air dan tingginya risiko gagal panen.

Kondisi serupa juga terjadi di Dusun Bukit Panjang, Desa Polewali, Kecamatan Bambalamotu. 

Warga setempat mengalami kesulitan mendapatkan air bersih hingga pemerintah desa mengajukan bantuan distribusi air kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pasangkayu.

Menurut Ardiansa, berkurangnya hasil pertanian dan perkebunan secara langsung memengaruhi pendapatan masyarakat. 

Di sisi lain, kebutuhan rumah tangga tetap harus dipenuhi, mulai dari biaya pendidikan anak, kebutuhan pokok, hingga biaya operasional kebun.

"Ketika hasil panen turun, pemasukan keluarga ikut berkurang. Namun kebutuhan sehari-hari tidak bisa berhenti. Bahkan masyarakat harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mendapatkan air ketika sumber air mulai sulit ditemukan," katanya.

Selain berdampak pada sektor pertanian, krisis air juga memengaruhi aktivitas rumah tangga. 

Masyarakat membutuhkan air untuk minum, memasak, mandi, mencuci, dan berbagai kebutuhan lainnya. 

Saat sumber air mulai berkurang, sebagian warga harus mencari sumber alternatif atau menempuh jarak lebih jauh untuk memperoleh air bersih.

Ardiansa menilai kondisi tersebut harus menjadi perhatian bersama. 

Menurutnya, pemerintah dan masyarakat perlu memperkuat upaya pengelolaan sumber daya air serta menyiapkan langkah antisipasi menghadapi musim kemarau yang diperkirakan masih berlangsung dalam beberapa waktu ke depan.

"Persoalan kemarau bukan hanya soal cuaca. Ini berkaitan dengan ketersediaan air, produksi pertanian, pendapatan petani, hingga kebutuhan dasar masyarakat. Karena itu perlu ada langkah bersama agar dampaknya bisa diminimalkan," tutupnya.(*)


Laporan wartawan Tribun-Sulbar.com Taufan

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.