Jakarta (ANTARA) - Prof. Soner Başkaya, ekonom sekaligus guru besar pada Adam Smith Business School University of Glasgow, menilai transformasi kawasan transmigrasi menjadi pusat ekonomi baru tepat untuk memanfaatkan peluang Indonesia di tengah perubahan rantai pasok global.

Ia menilai Indonesia memiliki posisi yang menguntungkan karena letaknya strategis dalam perdagangan dunia, kekayaan sumber daya alam, serta posisi politik yang relatif netral.

“Posisi Indonesia saat ini sangat menguntungkan di mata dunia. Indonesia memiliki posisi politik yang relatif netral, jalur perdagangan yang strategis, serta kekayaan alam penting seperti nikel yang sangat dibutuhkan industri masa depan,” kata Başkaya dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Selasa.

Dalam Transmigration Executive Dialogue (TED) bertajuk “Dari Transmigrasi Menuju Transformasi Regional yang Produktif” di Jakarta, Senin (24/8), Başkaya mengatakan kondisi tersebut membuat transformasi transmigrasi semakin relevan di tengah perubahan ekonomi dan geopolitik global.

Ia menyebut pendekatan baru transmigrasi sebagai the right programme at the right time atau program yang tepat pada waktu yang tepat.

Menurut dia, peluang tersebut dapat diterjemahkan menjadi manfaat ekonomi yang lebih luas apabila investasi di kawasan transmigrasi terhubung dengan penciptaan pekerjaan produktif, peningkatan keterampilan masyarakat, pertumbuhan usaha lokal, serta akses menuju industri dan pasar.

Kawasan transmigrasi juga perlu ditunjang pusat pengolahan hasil bumi, jaringan logistik, fasilitas modern, akses pembiayaan, dan ekosistem inovasi agar lebih banyak nilai tambah dapat tercipta di daerah.

Dengan rantai nilai yang semakin lengkap, masyarakat tidak hanya berperan sebagai pemasok bahan mentah, tetapi juga memperoleh manfaat dari kegiatan produksi, pengolahan, distribusi hingga pemasaran.

Menurut Başkaya, pendekatan tersebut juga dapat membuka lebih banyak pilihan pekerjaan bagi masyarakat tanpa harus selalu berpindah ke kota besar.

Petani dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berpeluang memperoleh teknologi, pembiayaan, mitra usaha, serta akses pasar yang lebih luas.

Ia menilai keberhasilan transformasi kawasan dapat tercermin dari bertambahnya pekerjaan produktif, peningkatan pendapatan dan keterampilan masyarakat, tumbuhnya usaha lokal, serta perkembangan perekonomian daerah secara berkelanjutan.

Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara mengatakan pandangan tersebut sejalan dengan paradigma baru pemerintah yang mengutamakan penciptaan kegiatan ekonomi dan lapangan pekerjaan sebelum perpindahan penduduk.

“Masa depan transmigrasi bukan memindahkan orang terlebih dahulu lalu berharap peluang ekonomi menyusul. Kita harus menciptakan peluang ekonomi, menyiapkan pekerjaan dan kehidupan yang layak, baru mobilitas penduduk mengikuti secara sukarela, aman, dan dengan kepastian masa depan,” ujar Iftitah.

Menurut dia, kawasan transmigrasi diarahkan menjadi ekosistem ekonomi yang menghubungkan masyarakat, lahan, ilmu pengetahuan, teknologi, investasi, industri, dan pasar.

Ekosistem tersebut mencakup seluruh rantai nilai mulai dari riset dan pembibitan, produksi, pengolahan, pengemasan, logistik hingga pemasaran agar nilai tambah lebih banyak diciptakan dan dinikmati masyarakat di daerah.

Iftitah mencontohkan konsumsi durian di China yang disebut mencapai sekitar Rp137 triliun per tahun sebagai peluang untuk membangun ekosistem industri komoditas tersebut di Indonesia, bukan hanya mengekspor bahan mentah.

“Kita tidak boleh berhenti pada menanam dan mengekspor komoditas mentah. Kita harus membangun seluruh ekosistem ekonominya di Indonesia, mulai dari riset dan pembibitan hingga budidaya, pengolahan, logistik, produk hilir, dan pemasaran global,” katanya.

Paradigma baru transmigrasi dijalankan melalui lima program unggulan, yakni Trans Tuntas untuk kepastian hukum lahan, Trans Lokal untuk pemberdayaan masyarakat setempat, Trans Patriot untuk penguatan SDM dan teknologi, Trans Karya Nusantara untuk investasi dan penciptaan pekerjaan, serta Trans Gotong Royong untuk memperkuat kolaborasi pemangku kepentingan.

“Transmigrasi hari ini tidak bisa berjalan sendirian. Kepastian lahan, infrastruktur, konektivitas, energi, investasi, pasar, tata kelola, dan sumber daya manusia harus dibangun bersama dalam satu ekosistem,” tutur Iftitah.

Ia menegaskan masyarakat setempat harus menjadi tuan rumah, pelaku utama, sekaligus penerima manfaat pembangunan kawasan. Pertumbuhan investasi dan industri harus diikuti peningkatan nilai tambah, pekerjaan, pengetahuan, serta kesejahteraan di daerah.

Sebagai bagian dari penguatan SDM kawasan, Kementerian Transmigrasi pada 2026 menerjunkan 1.476 peserta Tim Ekspedisi Patriot (TEP) yang tergabung dalam 246 tim ke 53 kawasan transmigrasi.

Sebanyak 53 lokasi tersebut terdiri atas 41 kawasan prioritas nasional, dua kawasan prioritas Kementerian Transmigrasi, dan 10 kawasan di Papua.

Peserta TEP 2026 terdiri atas 39 guru besar, 158 doktor, 263 lulusan magister, dan 1.016 sarjana yang ditugaskan menindaklanjuti pemetaan potensi kawasan melalui riset, pendampingan, serta penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Iftitah mengatakan para patriot diharapkan tidak berhenti pada penelitian dan laporan, tetapi memahami potensi serta persoalan di lapangan, mendampingi masyarakat, dan menghubungkan potensi lokal dengan teknologi, industri, investasi, serta pasar.

“Para patriot adalah mata dan telinga kita di lapangan. Hasil kerja mereka akan menjadi salah satu fondasi penting bagi kebijakan dan pembangunan kawasan transmigrasi ke depan,” ucapnya.