Zelenskyy: Jalur Laut Hitam Ukraina Belum Sepenuhnya Diblokir Rusia
Nuryanti August 25, 2026 11:25 AM

TRIBUNNEWS.COM - Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1.644 pada Selasa (25/8/2026).

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy membantah bahwa koridor maritim Ukraina di Laut Hitam telah sepenuhnya terblokir oleh serangan Rusia.

Menurutnya, Rusia memang berupaya menghambat jalur tersebut dengan menyerang infrastruktur pelabuhan, tetapi aktivitas pelayaran masih berlangsung.

“Saat ini tidak ada blokade total; ada upaya blokade total, tetapi tiga atau empat kapal sehari masuk dan keluar dari Odesa Raya, meskipun mereka menyerang infrastruktur pelabuhan,” kata Zelenskyy dalam konferensi pers setelah KTT Koalisi Sukarelawan (The Coalition of the Willing) di Kyiv, Senin (24/8/2026).

Odesa Raya mencakup tiga pelabuhan utama Ukraina, yakni Odesa, Chornomorsk, dan Pivdennyi.

Namun, intensitas serangan Rusia telah membuat aktivitas ekspor Ukraina menurun tajam; pada awal Agustus, gangguan terhadap kapal, pelabuhan, dan terminal turut memengaruhi pengiriman gandum serta minyak.

Zelenskyy sebelumnya juga menyatakan bahwa Rusia menjadi pihak yang lebih dulu kembali menyerang koridor ekspor gandum Ukraina.

Kyiv kemudian menilai serangan terhadap ekspor pertanian Rusia sebagai tindakan yang dapat dibenarkan.

Di tengah situasi tersebut, Ukraina telah mengusulkan penghentian bersama serangan terhadap kapal sipil di Laut Hitam.

Namun, menurut Zelenskyy, Moskow belum bersedia menyepakatinya karena Rusia ingin kesepakatan tersebut turut mencakup penghentian serangan Ukraina terhadap infrastruktur minyak Rusia.

Baca juga: Rusia Peringatkan Potensi Senjata Nuklir Prancis Dikerahkan ke Swedia: Bisa Jadi Target Prioritas

Untuk menjaga kelancaran ekspor, Ukraina kini mempertimbangkan sejumlah opsi, termasuk negosiasi dan memperkuat pertahanan udara di sekitar koridor maritim.

Zelenskyy mengatakan beberapa negara akan turut membantu upaya tersebut, sementara mitra internasional Ukraina juga menjanjikan paket bantuan militer dan energi.

Empat Gudang Ozon di Rusia Kembali Diserang Drone Ukraina, Operasional Lumpuh

Ukraina kembali menargetkan fasilitas logistik Ozon, salah satu perusahaan e-commerce terbesar di Rusia, dalam serangkaian serangan drone yang membuat enam fasilitas perusahaan terdampak dalam tiga hari.

Pusat logistik Ozon di Makhachkala, Dagestan, terbakar dan operasionalnya dihentikan setelah serangan yang menyebabkan sejumlah orang terluka.

Fasilitas lain di Enem, Adygeysk, dan Nevinnomyssk juga mengalami kebakaran atau harus mengevakuasi pekerja.

Ozon menyebut serangan tersebut berdampak langsung pada aktivitas logistik perusahaan, sementara sahamnya anjlok hampir 30 persen pada Senin.

Gudang E-Commerce Jadi Sasaran Drone Ukraina, Putin Siapkan Langkah Ambil Alih Perusahaan

Serangkaian serangan terhadap fasilitas Ozon dan Wildberries mendorong pemerintah Rusia menyiapkan langkah baru untuk mengendalikan perusahaan yang dinilai tidak mampu melindungi fasilitas strategisnya.

Berdasarkan dekrit presiden, negara dapat mengambil alih aset fisik maupun keuangan perusahaan yang dianggap gagal menjaga fasilitas penting atau lambat melakukan pemulihan setelah serangan.

Kebijakan tersebut mencakup sektor energi, bahan bakar, industri, komunikasi, transportasi, dan logistik.

Sebelumnya, Vladimir Putin juga menjanjikan bantuan negara untuk memulihkan fasilitas yang rusak "pada tingkat teknologi baru".

Ukraina Klaim Hantam MiG-29 dan Dua Kapal Rusia di Laut Hitam

Militer Ukraina mengklaim kembali menyerang aset militer Rusia di Laut Hitam dengan menargetkan sebuah pesawat tempur MiG-29 dan dua kapal Rusia.

Komandan pasukan drone Ukraina, Robert Brovdi, mengatakan salah satu kapal yang diserang merupakan kapal tanker, sedangkan lainnya adalah kapal pengangkut barang curah.

"Ini adalah pesawat tempur Rusia ketiga yang diserang dalam dua hari," demikian klaim Brovdi dalam pernyataannya di Telegram.

Pabrik Bahan Bakar Roket Rusia di Rostov Diserang Drone Ukraina

Ukraina juga mengklaim menyerang sebuah fasilitas industri militer Rusia di Kamensky, wilayah Rostov, yang disebut memproduksi bahan bakar roket padat untuk persenjataan Rusia.

Serangan tersebut dilaporkan memicu kebakaran di area pabrik.

Staf Umum Ukraina menyatakan fasilitas itu menjadi salah satu sasaran dalam rangkaian serangan terhadap infrastruktur yang mendukung kemampuan militer Rusia.

Diserang Drone Ukraina, Kilang Minyak Besar Rusia Terpaksa Hentikan Operasi

Kilang minyak Perm, salah satu kilang terbesar di Rusia berdasarkan kapasitas produksi, terpaksa menghentikan sebagian operasinya setelah terkena serangan drone Ukraina pada 21 Agustus.

Unit penyulingan utama CDU-4 yang menyumbang hampir 40 persen kapasitas kilang berhenti beroperasi dan perbaikannya diperkirakan membutuhkan waktu satu hingga dua minggu.

Unit CDU-5 yang memiliki porsi sekitar 34 persen kapasitas juga masih tidak beroperasi setelah serangan sebelumnya pada 29 Juli.

Jika gangguan berlangsung lama, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi produksi bensin dan solar Rusia.

Ukraina Butuh Lebih Banyak Rudal Patriot, Sekutu Didesak Buka Persediaan

Dukungan pertahanan udara untuk Ukraina kembali menjadi perhatian setelah Andy Burnham mendesak negara-negara sekutu untuk mengirim lebih banyak rudal pencegat Patriot.

Ia menilai Ukraina membutuhkan bantuan segera untuk melindungi masyarakat dari serangan Rusia.

"Ukraina membutuhkan lebih banyak bantuan untuk melindungi rakyatnya saat ini," ujar Burnham.

Ia juga meminta Amerika Serikat meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Rusia di tengah persoalan defisit anggaran dan penurunan pendapatan minyak negara tersebut.

10 Tawanan Perang Ukraina yang Sempat Hilang Akhirnya Dibebaskan

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengumumkan pembebasan 10 tawanan perang Ukraina yang sebelumnya dinyatakan hilang dalam pertempuran.

Para tawanan tersebut dibebaskan melalui Belarus, salah satu sekutu dekat Rusia, dalam sebuah pertukaran tawanan.

Zelenskyy tidak menyebut Rusia secara langsung dalam pernyataannya, sementara Moskow belum segera memberikan keterangan mengenai apakah tentara Rusia juga telah dikembalikan dalam pertukaran tersebut.

Latar Belakang Perang Rusia-Ukraina

Perang Rusia-Ukraina yang berubah menjadi invasi skala penuh pada 24 Februari 2022 merupakan puncak dari ketegangan politik dan keamanan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Akar konflik dapat ditelusuri sejak Ukraina merdeka setelah runtuhnya Uni Soviet pada 1991, terutama terkait hubungan Ukraina dengan Rusia serta orientasi politik dan keamanannya terhadap negara-negara Barat.

Ketegangan semakin meningkat ketika Ukraina memperkuat hubungan dengan negara-negara Barat dan menunjukkan keinginan untuk semakin dekat dengan NATO.

Rusia memandang perluasan pengaruh NATO ke kawasan Eropa Timur sebagai ancaman terhadap keamanan dan kepentingan strategisnya.

Konflik mencapai titik penting pada 2014, ketika terjadi perubahan pemerintahan di Ukraina. Rusia kemudian mengambil alih dan mencaplok Krimea, sementara pertempuran terjadi di wilayah Donetsk dan Luhansk antara pasukan Ukraina dan kelompok separatis yang mendapat dukungan Rusia.

Berbagai upaya diplomatik, termasuk kesepakatan perdamaian, telah dilakukan untuk menghentikan konflik, tetapi tidak berhasil menciptakan perdamaian yang bertahan lama.

Pada 24 Februari 2022, Rusia melancarkan invasi besar-besaran ke Ukraina. Pemerintah Rusia menyebut perlindungan masyarakat berbahasa Rusia dan kepentingan keamanan sebagai sejumlah alasan tindakannya, termasuk kekhawatiran terhadap semakin kuatnya pengaruh NATO.

Namun, Ukraina dan sebagian besar negara Barat menolak alasan tersebut dan menyebut invasi sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan serta integritas wilayah Ukraina.

Sejak perang berlangsung, Ukraina mendapatkan dukungan dari berbagai negara Barat berupa bantuan militer, ekonomi, kemanusiaan, dan diplomatik. Sementara itu, Rusia menghadapi berbagai sanksi internasional yang menargetkan sektor ekonomi, perdagangan, energi, teknologi, serta industri strategis.

Konflik tersebut juga menimbulkan dampak global. Gangguan pasokan energi dan pangan, masalah rantai pasok, serta perubahan harga komoditas turut memberikan tekanan terhadap perekonomian berbagai negara.

Hingga kini, upaya diplomatik untuk mengakhiri perang masih terus dilakukan, tetapi belum menghasilkan kesepakatan yang dapat menyelesaikan seluruh persoalan.

Dalam sejumlah perundingan, Rusia antara lain menuntut Ukraina tidak bergabung dengan NATO, menerima klaim Rusia atas wilayah tertentu, dan membatasi kemampuan militernya.

Sementara itu, Ukraina tetap mempertahankan haknya untuk menjaga kemerdekaan, kedaulatan, dan keutuhan wilayah berdasarkan prinsip hukum internasional. 

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.