TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Badan Geologi memperluas radius bahaya menyusul meningkatnya aktivitas vulkanik Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Radius bahaya yang ditetapkan sebelumnya 2 kilometer, kemudian diperluas menjadi 3 kilometer di sektor selatan dan tenggara.
"Berdasarkan data pemantauan visual dan instrumental, menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik, terutama aktivitas aliran lava ke sektor selatan dan tenggara," ujar Kepala Badan Geologi, Lana Saria dalam keterangannya, Selasa (25/8/2026).
Adapun berdasarkan laporan pos Pengamat Gunung Api (PGA) Ile Lewotolok, pada periode Senin (24/8/2025) pukul 00.00 Wita -24. 00 Wita, terdeteksi 327 kali letusan dengan tinggi kolom 200-400 meter dan warna asap putih dan kelabu.
Erupsi disertai lontaran material pijar dan aliran lava.
Lontaran material pijar teramati dalam radius kawah.
Aliran lava teramati ke sektor selatan tenggara sejauh 1.400 meter, dan ke sektor timur laut melucur sejauh 600 meter dari bibir kawah.
Status Gunung Ile Lewotolok
Lana menegaskan bahwa saat ini tingkat aktivitas Gunung Ile Lewotolok berada pada level II waspada.
Ia mengimbau warga sekitar mewaspadai potensi ancaman bahaya guguran atau longsoran lava dan awan panas pada sektor selatan dan tenggara, sektor barat, serta sektor timur.
Masyarakat sekitar juga diimbau menggunakan masker pelindung mulut dan hidung serta perlengkapan lain untuk melindungi mata dan kulit untuk menghindari gangguan pernapasan maupun gangguan kesehatan akibat abu vulkanik.
Ia juga mengingatkan warga sekitar untuk tidak panik jika mendengar suara gemuruh atau dentuman dari kawah Gunung Ile Lewotolok.
Menurut dia, suara tersebut merupakan ciri aktivitas gunung api yang sedang dalam fase erupsi.
"Suara dentuman yang keras dapat mengakibatkan getaran yang kuat pada beberapa bagian bangunan terutama jendela kaca dan pintu," pungkasnya.
Sumber: Kompas.com