Mengenal 'Job Hugging', Tren Dunia Kerja di Kalangan Gen Z dan Milenial
GH News August 25, 2026 12:09 PM
Jakarta -

Generasi Z dan milenial kini menghadapi tantangan baru di dunia kerja, salah satunya membuat banyak orang memilih bertahan di pekerjaan yang sebenarnya tidak lagi sesuai dengan keinginan. Kondisi ini dikenal sebagai .

Istilah ini berbeda dengan , yaitu kebiasaan berganti pekerjaan secara berkala untuk mendapat pengalaman baru, kenaikan gaji, dan perkembangan jenjang karier yang lebih cepat.

Apa Itu ?

merupakan kondisi saat seseorang tetap bertahan dalam suatu peran, meski mereka tidak bahagia atau merasa pekerjaan tersebut tidak memuaskan.

Dikutip dari laman NDTV, sederhananya, merujuk pada karyawan yang memilih untuk tetap berada di pekerjaan mereka saat ini, meski merasa kurang tertantang, kurang terlibat, atau tidak bahagia, terutama karena mereka takut akan ketidakpastian perubahan peran.

Tren ini menandai pergeseran yang signifikan dari lonjakan perekrutan pascapandemi, saat sering berpindah pekerjaan secara luas dianggap sebagai tanda ambisi dan pertumbuhan karier.

"Para pekerja tidak 'berpegangan' pada pekerjaan mereka karena mereka menyukainya. Mereka 'berpegangan' pada pekerjaan mereka karena, terus terang, alternatifnya terlihat lebih buruk," kata pendiri BoldHR, Rebecca Houghton.

Dikutip dari laman , kini banyak pekerja yang lebih memprioritaskan keamanan. Bukannya mengejar peluang baru, mereka memilih keandalan gaji tetap.

Perilaku ini lebih berkaitan dengan kehati-hatian dibandingkan loyalitas pada perusahaan. Di tengah ketidakpastian ekonomi, karyawan mungkin merasa bahwa mempertahankan peran yang sudah familiar lebih aman daripada mengambil risiko pada peran yang baru.

Mengapa Ngetren di Kalangan Para Pekerja?

Dikutip dari CNBC, ada beberapa faktor yang meningkatkan fenomena sebagian besar berasal dari perubahan yang lebih luas dalam ekonomi global dan pasar kerja.

  • Aktivitas perekrutan sudah melambat secara signifikan dan mencapai level terendah sejak tahun 2013. Dengan semakin sedikit peluang, para pekerja secara alami menjadi lebih berhati-hati dalam mengambil langkah karier.
  • Banyak karyawan semakin menyadari ketidakpastian ekonomi. Menurut ekonom ketenagakerjaan ZipRecruiter AS, Nicole Bachaud, para pekerja menyadari bahwa ketidakpastian pasar saat ini mendorong mereka mempertahankan posisi saat ini.

Apa Kata Psikolog?

Psikolog klinis, Dr Kaitlin Harkess, mengatakan terdapat risiko bagi pekerja yang melakukan . Ia mengatakan bahwa meski dapat memberikan rasa lega dalam jangka pendek melalui stabilitas dan keamanan, "dampaknya mungkin lebih besar" dalam jangka panjang.

"Pekerjaan dan lingkungan kerja yang tidak sesuai dapat mengikis kepercayaan diri dan motivasi. Mulai dari kehilangan keterlibatan hingga , kesehatan kita ikut terdampak," ujar Dr Harkess.

"Dari sudut pandang psikologis, bahayanya adalah semakin lama seseorang bertahan karena rasa takut dan , semakin merasa tidak berdaya dan terjebak," katanya.

Menurutnya, gejala kecemasan dan depresi dapat meningkat, begitu pula rasa percaya diri yang semakin menurun. Akibatnya, semakin sulit untuk beralih dan mengingat bahwa pekerjaan seharusnya bisa memberikan makna.

Kendati demikian, sekadar bertahan di suatu pekerjaan bukan berarti seseorang ikut dalam tren .

Misalnya, seseorang mungkin memilih untuk tetap bekerja di tempat yang sama karena stabilitas pekerjaan yang didapat memberi mereka kebebasan untuk fokus pada keluarga atau minat di luar pekerjaan.

Menurut Dr Harkess, dalam kondisi tersebut, seseorang bersedia menghadapi ketidaknyamanan sambil tetap bergerak menuju hal yang dianggap penting bagi dirinya.

Sementara itu, "" yang tidak sehat merupakan kebalikannya. Pekerja tetap bertahan karena tidak mampu menoleransi ketidakpastian perubahan.

"Perilaku ini mungkin terlihat sama dari luar, tetapi motivasi psikologis di baliknya, yakni antara rasa takut dan pilihan, membuat perbedaan besar terhadap kualitas hidup," ujarnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.