Derita Warga Paniki Dua Manado, Batal Pengucapan Syukur di Rumah Gegara Krisis Air Bersih
Gryfid Talumedun August 25, 2026 02:22 PM

 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Minggu (23/8/2026) adalah giliran kota Manado menggelar hari Pengucapan Syukur.

Namun sejumlah warga Kelurahan Paniki Dua, Lingkungan 1, Kecamatan Mapanget, tak merayakannya.

Hal ini disebabkan krisis air bersih yang menimpa kawasan tersebut akibat kemarau panjang.

Perigi, yang merupakan satu-satunya sarana warga untuk beroleh air, kering, sejak pertengahan Juli 2026.

Baca juga: Sosok Zevanya Valentine Mumu, Mahasiswi Unsrat Manado yang Gemar Mencoba Hal Baru: Saya Ingin Terus

KRISIS AIR - Suasana kelurahan Paniki Dua Lingkungan 1 yang kekurangan air.
KRISIS AIR - Suasana kelurahan Paniki Dua Lingkungan 1 yang kekurangan air. (Tribun Manado/Arthur_Rompis)

Sejak lama wilayah itu tak terjamah PDAM.

"Yah mau buat pengucapan di rumah  bagaimana dalam keadaan tak ada air," kata Yohana salah satu warga kepada Tribunmanado Selasa (25/8/2026).

Menurut Yohana, ia hanya mengikuti pengucapan bersama di Gereja.

Ungkap dia, krisis air membuat warga hidup dalam keterbatasan.

Mereka terpaksa nyicil air.

"Kalau mau mandi yah mungkin satu orang hanya beberapa gayung saja, begitu pun untuk mencuci," katanya.

Pernah, katanya, mereka coba untuk mencuci ke sungai yang berada tak jauh dari sana.

Ternyata sungai juga kering.

Sebut dia, krisis air bersih kerap kali terjadi di sana pada musim kemarau.

Pihaknya berharap ada solusinya, bisa jangka pendek dengan pengiriman air bersih dan jangka panjang lewat pembuatan sumur bor.

"Kami berharap ada solusinya," kata dia.

Seorang warga yang enggan disebut namanya menuturkan, krisis air di tempat itu sering mengundang datangnya politisi di saat kampanye.

Semua janji menguap saat musim kampanye lewat.

"Hanya ada satu dua yang peduli, dan kerap kirim air," katanya.

Kiriman Air Bersih

Yohana dan sejumlah warga Kelurahan Paniki Dua, Lingkungan 1, Kecamatan Mapanget, Kota Manado, provinsi Sulut, menanti truk pembawa air, Selasa (25/8/2026) pagi.
Mereka duduk di pekarangan rumah, sembari menatap ke arah jalan masuk pemukiman.

Suara kendaraan akan membuat mereka bersikap awas, jangan jangan itu kendaraan truk yang dinanti.

"Kami menanti pembawa air," kata dia.

Ia mengaku stok air warga sudah menipis.

Mereka sangat butuh pasokan air bersih.

Warga Paniki Dua Lingkungan 1 mengalami krisis air bersih di musim kemarau ini.

Semua perigi kering. 

Selama ini warga mengandalkan perigi untuk beroleh air bersih.

PDAM tak masuk kesana.

"Perigi kering," katanya.

Yohana menunjukkan perigi miliknya di samping kanan rumah.

Penutupnya digeser dan tampaklah isinya berupa lubang hitam dengan tanah pada dasarnya.

"Perigi ini dalamnya empat meter, kami tutup terus agar bisa ada air, tapi akhirnya kering juga," kata dia.

Ungkap dia, truk pengangkut air datang tak tentu. 

Frekuensinya rata rata sepekan sekali.

Jika tak ada pasokan air dari truk, warga terpaksa beli air.

"Harganya Rp 120 ribu per tong," katanya.

Kadang pula, sebut dia, warga minta air pada SPPG di seputaran pemukiman itu.

Air di SPPG berasal dari sumur bor.

"Mereka kasih, tapi kan tak selalu buka," katanya.

Yohana berharap agar ada bantuan air yang lebih intens di pemukiman tersebut.

Warga, sebut dia, sudah sangat menderita karena kekurangan air.

"Kami juga berdoa kepada Tuhan agar segera menurunkan hujan, agar perigi kami kembali penuh," kata dia.

Mayer warga lainnya mengaku kerap merasa senang saat lihat awan hitam di langit.

Awan itu tampak beberapa hari yang lalu.

"Namun hujan belum juga turun," kata dia.

Ungkap dia, kekurangan air membuat warga bersiasat.

Untuk mandi, ia mencontohkan, air dicicil. Satu orang untuk tiga hingga empat gayung. 

"Begitu pun untuk mencuci," katanya.

Warga juga bergotong royong dalam mengatasi kekurangan air.

Yang berlebih membagi kepada yang kekurangan.

"Kadang tetangga yang dapat banyak air membagi ke yang sedikit," katanya.

Seorang warga lainnya yang enggan disebut namanya mengatakan, pasokan air dari truk kadang tak cukup.

Karena jumlah warga yang butuh terbilang banyak.

Pernah ia hanya kebagian satu ember saja.

"Mungkin ini harus ditambah airnya, karena banyak warga disini yang betul betul menderita karena kekurangan air," katanya. (Art)

-

WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.