Wali Kota Pangkalpinang Dorong Budaya Nganggung Dikembalikan ke Tradisi Aslinya
Ardhina Trisila Sakti August 25, 2026 03:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Pemerintah Kota (Pemkot) Pangkalpinang mendorong pelestarian tradisi Nganggung agar tetap berjalan sesuai nilai dan bentuk aslinya di tengah perubahan zaman.

Wali Kota Pangkalpinang Saparudin mengatakan, salah satu upaya yang akan dilakukan yakni mendorong tokoh-tokoh budaya di Tuatunu untuk mendokumentasikan tradisi Nganggung dalam sebuah buku.

Menurut Saparudin, dokumentasi tersebut penting untuk menjadi rujukan masyarakat dalam memahami kembali bagaimana tradisi Nganggung yang sesungguhnya.

"Mudah-mudahan nanti saya sudah meminta kepada tokoh-tokoh budaya di Tuatunu untuk membuat satu buku tentang budaya Nganggung ini sendiri," kata Saparudin kepada awak media usai menghadiri Festival Nganggung 2026 di Tuatunu, Pangkalpinang, Selasa (25/8/2026).

Ia mengatakan, buku tersebut diharapkan dapat dirilis pada tahun mendatang.

Saparudin menyebut Lembaga Adat Melayu (LAM) Tuatunu sebelumnya juga telah menerbitkan buku terkait budaya setempat.

Ia berharap dokumentasi tersebut dapat menggambarkan secara lebih lengkap sejarah serta tata cara tradisi Nganggung, sehingga masyarakat tidak kehilangan pemahaman mengenai akar budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.

"Nanti itu akan menggambarkan bagaimana sebetulnya budaya Nganggung ini. Sehingga nanti kita kembalikan bagaimana budaya Nganggung ini yang sesungguhnya di tengah-tengah masyarakat," ujarnya.

Dorongan untuk mendokumentasikan tradisi Nganggung tersebut tidak terlepas dari perkembangan pelaksanaan tradisi di tengah masyarakat.

Saparudin menanggapi kondisi dulang yang dalam sejumlah kegiatan mulai tergantikan dengan makanan dalam kotak atau nasi kotak.

Menurutnya, dokumentasi budaya menjadi salah satu langkah untuk menjaga agar masyarakat tetap memahami bentuk dan nilai asli Nganggung.

Hal tersebut juga menjadi bagian dari semangat Festival Nganggung 2026 yang mengusung tema "1000 Pintu 1000 Dulang".

Saparudin mengatakan, tema tersebut menggambarkan semakin banyaknya masyarakat yang peduli terhadap budaya lokal.

Bagi dia, dulang bukan sekadar wadah untuk membawa makanan, tetapi menjadi simbol gotong royong, sinergitas dan silaturahmi masyarakat.

"Maknanya kita menggambarkan semakin banyak masyarakat yang bisa ikut dalam sinergitas, gotong royong ini. Semakin ramai masyarakat kan semakin baik," ujarnya.

Ia berharap semangat kebersamaan yang tercermin dalam tradisi Nganggung dapat turut memperkuat pembangunan Kota Pangkalpinang.

Nganggung Jadi Ruang Memperkuat Silaturahmi

Festival Nganggung 2026 digelar bersamaan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Tuatunu.

Saparudin berharap momentum tersebut tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga menjadi ruang mempererat ukhuwah dan silaturahmi masyarakat.

Ia mengatakan nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW dapat terus diterapkan dalam kehidupan masyarakat, baik dalam kehidupan sosial maupun kehidupan beragama.

"Mudah-mudahan ini menjadi barakah bagi kita, penyambung ukhuwah kita, dan tentunya kita semakin kuat untuk terus menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan," katanya.

Saparudin juga berharap Pangkalpinang ke depan semakin baik, kehidupan masyarakat semakin rukun dan damai, serta perekonomian terus meningkat.

Dengan begitu, nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Nganggung tidak berhenti pada sebuah perayaan tahunan, tetapi tetap hidup dalam keseharian masyarakat.

"Di tengah perubahan bentuk dan cara masyarakat menjalankan tradisi, upaya mendokumentasikan Nganggung menjadi penting agar generasi berikutnya tidak hanya mengenal dulang sebagai bagian dari sebuah festival, tetapi juga memahami nilai gotong royong, berbagi dan silaturahmi yang menjadi ruh dari tradisi tersebut," jelas Saparudin.

(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.