Peringatan terkait virus Zika di Bali oleh Amerika Serikat dibantah Kementerian Kesehatan RI. Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes Andi Saguni memastikan belum ada temuan kasus zika hingga saat ini.
Meski demikian, epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman menyinggung risiko under detection lantaran mayoritas infeksi virus zika tidak menimbulkan gejala atau asimptomatik.
Dicky menuturkan, sebagian besar orang yang terinfeksi tidak mengalami gejala atau 'hanya' mengalami penyakit ringan.
"Kemudian gejala Zika ini overlap, sering disalahartikan sebagai dengue, chikungunya, influenza, atau viral syndrome daripada langsung melakukan pemeriksaan Zika Virus," ujar Dicky ketika dihubungi detikcom, belum lama ini.
Meski secara umum efek infeksinya ringan, Dicky menuturkan efeknya bisa serius jika dialami kelompok rentan seperti ibu hamil. Infeksi Virus Zika dapat berdampak pada janin, salah satunya komplikasi neurologis yang berbahaya, meskipun sangat jarang terjadi.
Apabila akhirnya infeksi Virus Zika menimbulkan gejala, maka tanda yang paling umum adalah demam ringan di bawah 38,5 derajat celsius dan kemunculan ruam pada kulit. Selain itu, gejala lain yang mungkin muncul adalah mata merah hingga nyeri sendi.
"Gejalanya juga biasanya berlangsung sekitar 2-7 hari. Yang paling karakteristik selain demam ringan adalah ruam makulopapular namanya. Akhirnya mirip-mirip kayak demam berdarah kan," ungkap Dicky.
"Kemudian ada conjunctivitis non purulent atau mata merah, ada nyeri sendi atau atralgia tadi. Ada nyeri otot, ada sakit kepala, ada kelemahan, ada kadang pembengkakan edema di sekitar sendi," sambungnya.
Meski demikian, infeksi virus ini yang bersifat asimptomatik dan ringan, menjadi tantangan epidemiologis tersendiri. Orang yang tidak terlihat sakit tetap dapat terinfeksi dan berkontribusi dalam proses transmisi penularan.
Ini membuat kasus virus yang utamanya menular lewat gigitan nyamuk tersebut secara klinis dapat terlihat sangat sedikit dibandingkan jumlah infeksi yang sebenarnya.
Sebelumnya, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menerbitkan 'Travel Health Notice Level 2' yang memfokuskan perhatian pada Pulau Bali per 7 Agustus 2026. Ini dilakukan menyusul temuan infeksi kasus virus Zika pada wisatawan yang kembali dari Bali.
Terkait peringatan ini, Kementerian Kesehatan RI memastikan tidak ada temuan kasus hingga saat ini. Kepada detikcom, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes Andi Saguni menyebut peringatan tersebut bermula dari buletin European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC) pada minggu ke-16 atau periode 11-17 April 2026.
Dalam buletin tersebut disebutkan adanya wisatawan asal Prancis dan Jerman yang dinyatakan positif Zika setelah melakukan perjalanan ke Bali. Namun, data yang disampaikan ECDC disebut tidak merinci lokasi yang dikunjungi para wisatawan tersebut selama berada di Bali.
"Saat berita buletin ECDC dinaikkan lagi oleh CDC Amerika Serikat, langsung ditindaklanjuti melalui pertemuan dengan CDC Indonesia dan CDC Amerika Serikat," ujar Andi.
Ia menambahkan, hingga 10 Agustus 2026 pukul 21.00 WIB, Indonesia juga belum menerima notifikasi melalui mekanisme International Health Regulations (IHR) dari Prancis maupun Jerman terkait kasus Zika tersebut.
"Sampai saat ini pun tidak ada notifikasi IHR terkait Zika dari negara-negara tersebut," pungkasnya.





