TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Bagi Pertamina Patra Niaga, menyalurkan bantuan ke wilayah terdampak bencana bukan sekadar mengirimkan logistik dari satu tempat ke tempat lain.
Di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), setiap bantuan harus melewati perjalanan panjang dan berbagai tantangan sebelum akhirnya sampai ke tangan masyarakat yang membutuhkan.
Hal itulah yang dilakukan tim relawan Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Maumere saat menyalurkan bantuan logistik dan kebutuhan dasar bagi sekitar 534 jiwa terdampak gempa di Pulau Palue, Jumat (21/8/2026).
Bantuan tersebut diberikan untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat yang terdampak kerusakan cukup parah di sejumlah wilayah Kecamatan Palue.
Baca juga: Korban Gempa Reo Dapat Bantuan Rp 42 Juta dari Keluarga Besar Pertamina di NTT
Bantuan yang dibawa meliputi kebutuhan pangan seperti beras, minyak goreng, air mineral, kopi, dan mi instan.
Selain itu, Pertamina juga membawa kebutuhan dasar lainnya, antara lain kasur lipat, selimut, handuk, lampu emergency, terminal listrik, tikar, sabun, sampo, pembalut wanita, hingga popok bayi.
Perjalanan untuk memastikan seluruh kebutuhan tersebut tiba di Palue tidak berlangsung mudah.
Semula, pengiriman bantuan direncanakan pada Rabu (19/8/2026). Namun, kondisi cuaca buruk membuat keberangkatan harus ditunda.
Di saat yang sama, kebutuhan masyarakat tidak dapat menunggu. Tim relawan Pertamina kemudian berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), PT ASDP Indonesia Ferry, kepolisian, serta berbagai pihak lainnya untuk mencari jalur terbaik agar bantuan tetap dapat dikirimkan.
“Bagi kami, yang terpenting adalah bagaimana bantuan yang sudah disiapkan dapat segera sampai kepada masyarakat yang membutuhkan. Meskipun akses menuju Palue tidak mudah, kami terus berkoordinasi dan mencari berbagai cara agar kebutuhan masyarakat pascagempa dapat terpenuhi,” ujar Roy, salah satu tim Pertamina Patra Niaga dalam penyaluran bantuan logistik pascagempa.
Melalui koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, bantuan akhirnya diberangkatkan menuju Palue menggunakan KMP Ile Ape. Perjalanan laut menuju Pulau Palue memakan waktu sekitar 5,5 jam.
Di tengah cuaca yang tak menentu dan kondisi perairan yang penuh tantangan, tim relawan Pertamina tetap berjuang agar bantuan dapat tiba di Palue.
Setiap perjalanan ditempuh dengan satu harapan, memastikan bantuan sampai kepada masyarakat yang tengah menanti dan membutuhkan dukungan di tengah situasi sulit pascagempa.
Setibanya di Palue, tantangan kembali muncul karena kendaraan pengangkut bantuan tidak dapat menjangkau seluruh posko yang tersebar di delapan titik.
Dengan dukungan Pemerintah Kecamatan, BPBD, dan kepolisian, bantuan kemudian didistribusikan hingga ke wilayah yang sulit diakses.
“Setiap perjalanan memiliki tantangannya sendiri. Namun, bagi kami, yang terpenting adalah memastikan bantuan dapat benar-benar sampai kepada masyarakat yang membutuhkan,” ujar Roy.
Pulau Palue merupakan wilayah kepulauan yang terpisah dari Pulau Flores. Posisi geografisnya yang berada jauh dari pusat distribusi barang menjadi tantangan tersendiri dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat, terlebih setelah gempa yang mengguncang wilayah Flores, NTT, pada 15 Agustus 2026.
Di tengah keterbatasan akses dan kondisi pascagempa, kehadiran bantuan menjadi dukungan penting bagi masyarakat Palue.
Camat Palue, Rudolfus Riba, menyampaikan apresiasinya atas bantuan yang diberikan Pertamina Patra Niaga.
“Kecamatan Palue mengalami kerusakan fatal. Dengan adanya bantuan dari Pertamina berupa logistik dan kebutuhan dasar lainnya, ini sangat membantu meringankan beban masyarakat kami. Terima kasih, Tuhan memberkati,” ujar Rudolfus.
Bagi Pertamina, perjalanan panjang tersebut menjadi bagian dari upaya untuk hadir di tengah masyarakat, terutama ketika akses menuju lokasi terdampak tidak mudah.
Bantuan yang dibawa bukan hanya berupa kebutuhan pangan dan perlengkapan sehari-hari, tetapi juga menjadi bentuk kepedulian untuk membantu masyarakat melewati masa sulit setelah bencana.
Terpisah, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, mengatakan bahwa Pertamina terus berkomitmen memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, termasuk melalui dukungan kemanusiaan dalam penanganan pascabencana.
“Dalam kondisi bencana, kebutuhan masyarakat harus segera dipenuhi, sementara akses menuju lokasi terkadang tidak mudah. Karena itu, koordinasi dan kolaborasi dengan berbagai pihak menjadi sangat penting. Kami berupaya memastikan bantuan yang telah disiapkan dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan, termasuk di wilayah seperti Palue,” ujar Ahad.
Bagi masyarakat Palue, perjalanan panjang bantuan melalui darat dan laut bukan sekadar tentang bagaimana logistik tiba di tujuan.
Di balik setiap perjalanan, ada upaya untuk memastikan bahwa di tengah keterbatasan dan situasi yang sulit, kebutuhan masyarakat tetap diperhatikan dan mereka tahu bahwa ada yang hadir, peduli, dan berusaha menjangkau mereka.