AS Luncurkan Operasi Pengasingan Ekonomi, Iran Dibidik dari Lima Jalur Vital
SERAMBINEWS.COM – Amerika Serikat (AS) kembali meningkatkan tekanan terhadap Iran melalui kampanye ekonomi besar-besaran yang bertujuan memutus sumber pendapatan Teheran.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan kampanye tersebut pada Senin dan menyebutnya sebagai “Operasi Pengasingan Ekonomi”.
Dikutip Serambinews melalui Aljazeera (25/8/2026), kampanye tersebut dirancang untuk menargetkan berbagai jalur keuangan Iran di seluruh dunia, termasuk pendapatan dari sektor minyak.
Bessent mengatakan AS akan berusaha memutus setiap jalur ekonomi yang dianggap menopang pemerintahan Iran.
“Di seluruh dunia, tujuan kami adalah untuk memutuskan setiap jalur ekonomi yang menopang rezim tirani ini sampai Teheran berdiri sendiri,” kata Bessent.
Ia juga memperingatkan negara dan perusahaan yang masih melakukan transaksi dengan Iran.
Menurut Bessent, pihak yang membantu Iran mengubah minyak menjadi pendapatan untuk membiayai pemerintahannya dapat menjadi sasaran sanksi AS.
Baca juga: Senator AS Sebut Iran Menang Perang, Sanksi Baru Trump Disebut “Hiasan Jendela” Putus Asa
Bessent menegaskan tidak ada pihak yang kebal terhadap sanksi Amerika Serikat.
Washington juga memperingatkan negara dan perusahaan yang menjadi mitra bisnis Iran mengenai kemungkinan terkena sanksi sekunder.
Artinya, perusahaan atau negara yang melakukan transaksi dengan entitas Iran dapat menghadapi pembatasan dari AS, meskipun mereka bukan bagian langsung dari pemerintahan Iran.
Bessent mengatakan negara-negara di seluruh dunia harus menentukan posisi mereka.
Menurutnya, negara yang memilih bekerja sama dengan AS akan mendapatkan keuntungan dari hubungan tersebut.
Sebaliknya, pihak yang tetap mendukung Iran harus bersiap menghadapi konsekuensi ekonomi.
Meski demikian, gelombang sanksi terbaru yang diumumkan pada Senin belum secara langsung menyasar lembaga ekonomi internasional utama yang berhubungan dengan Iran.
Bessent menggambarkan kebijakan tersebut sebagai peringatan keras bagi perusahaan dan negara di berbagai belahan dunia.
Baca juga: Trump Ketar-ketir! Jika Demokrat Kuasai Kongres, Ia Ramal Bakal Dimakzulkan Lagi
Departemen Keuangan AS mengatakan sanksi terbaru akan difokuskan pada lima sektor yang dianggap sebagai jalur penting bagi perekonomian Iran.
Kelima sektor tersebut adalah aset digital, teknologi, emas, penerbangan, dan perkapalan.
Selain itu, Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi terhadap sekitar 60 entitas, kapal, dan individu yang berada di berbagai negara.
Sasaran tersebut tersebar di antaranya di Uni Emirat Arab, Hong Kong, China, Singapura, dan Swiss.
Washington menuduh pihak-pihak tersebut membantu Iran mempertahankan jaringan ekonomi dan perdagangan internasionalnya.
Kebijakan itu menjadi bagian dari upaya AS untuk mempersempit ruang gerak ekonomi Iran.
Sektor minyak tetap menjadi perhatian utama karena merupakan salah satu sumber pendapatan penting bagi Teheran.
Baca juga: Trump Ultimatum Negara Pendukung Iran, Ancam Sanksi Besar, Teheran Sebut AS Telah Gagal
Bessent menggunakan istilah “hari-H ekonomi” untuk menggambarkan kampanye tersebut.
Istilah itu merujuk pada pendaratan pasukan Sekutu di Normandia, Prancis, pada Perang Dunia II.
Dengan istilah tersebut, Bessent ingin menggambarkan kebijakan baru itu sebagai serangan besar dari sisi ekonomi terhadap Iran.
Namun, ketika ditanya mengenai risiko kebijakan tersebut terhadap negara lain, Bessent mengatakan Washington tidak ingin menghancurkan sistem keuangan global.
Ia mengatakan AS memberikan kesempatan kepada negara dan perusahaan untuk mengubah perilaku mereka sebelum terkena sanksi.
Kebijakan sanksi sekunder tetap menimbulkan kekhawatiran karena dapat memberikan dampak terhadap perdagangan dan perekonomian internasional.
Kampanye ekonomi tersebut diluncurkan hampir enam bulan setelah perang antara AS, Israel dan Iran dimulai.
Serangan AS dan Israel sebelumnya menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei serta sejumlah pejabat senior Iran.
Namun, serangan tersebut tidak berhasil menggulingkan pemerintahan di Teheran.
Iran kemudian melakukan serangan balasan menggunakan rudal dan pesawat tanpa awak ke sejumlah wilayah.
Teheran juga memperketat kendalinya atas Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia.
Gangguan di jalur tersebut menyebabkan harga minyak dan gas mengalami kenaikan serta meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Berbagai putaran pertempuran dan diplomasi hingga kini belum berhasil menyelesaikan krisis.
Baca juga: Trump Ultimatum Negara Pendukung Iran, Ancam Sanksi Besar, Teheran Sebut AS Telah Gagal
Washington berharap tekanan ekonomi dapat mendorong Iran membuat sejumlah konsesi.
Salah satu tuntutan utama AS adalah Iran menghentikan program nuklirnya dan menghentikan serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Pada April lalu, AS juga mengumumkan blokade terhadap sejumlah pelabuhan Iran.
Namun, Iran tetap menolak menyerah meskipun menghadapi tekanan dan pengepungan laut.
Sina Toossi, peneliti Center for International Policy, mengatakan tekanan tersebut memang berdampak terhadap Iran, khususnya sektor ekspor minyak.
Namun, menurutnya, kebijakan tersebut belum menghasilkan perubahan politik yang diinginkan Washington.
“Iran belum menyerah,” kata Toossi kepada Al Jazeera.
Ia menilai kampanye ekonomi terbaru kemungkinan merupakan upaya AS untuk meningkatkan tekanan setelah operasi militer sebelumnya belum menghasilkan keputusan yang menentukan.
Baca juga: VIDEO - Balas Trump, Iran Sebut California Wilayah Barunya
Pemerintah Iran menolak kampanye baru Washington tersebut.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan sanksi ekonomi bukan sesuatu yang baru bagi negaranya.
Menurutnya, AS hanya mengulangi kebijakan lama karena tidak menemukan solusi lain untuk menghadapi Iran.
Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan Iran tidak akan mampu bertahan jika tekanan ekonomi terus meningkat.
Hegseth memperkirakan Teheran pada akhirnya tidak memiliki pilihan selain kembali ke meja perundingan untuk membahas program nuklirnya.
Meski fokus utama Washington saat ini adalah tekanan ekonomi, Hegseth tidak menutup kemungkinan AS kembali melakukan serangan militer.
Ia mengatakan AS akan menggunakan kekuatan militer jika Iran melakukan tindakan yang dianggap membahayakan atau mengganggu pasukan Amerika.
Namun, untuk saat ini, Hegseth menilai tekanan ekonomi merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk melemahkan Iran.
Kampanye “Operasi Pengasingan Ekonomi” kini menjadi strategi terbaru pemerintahan Trump untuk memaksa Teheran mengubah kebijakannya, sekaligus mempersempit akses Iran terhadap sumber pendapatan dan jaringan ekonomi internasional.
Baca juga: Trump Ingin Kuasai Selat Hormuz, Peta “Wilayah Baru AS” Picu Kemarahan Iran
(Serambinews.com/Sri Anggun Oktaviana)