Ketika Cahaya Maulid Berhadapan dengan Gelapnya Zaman
Edi Sumardi August 25, 2026 07:22 PM

Sudarmin Tandi Pora’ 

Guru MTsN 1 Tana Toraja

TIDAK ada yang benar-benar sama ketika sebuah peringatan keagamaan bertemu dengan zaman yang sedang gelisah.

Maulid Nabi Muhammad SAW tahun ini hadir ketika banyak orang sedang berhadapan dengan kenyataan hidup yang tidak selalu mudah.

PHK, bencana alam, kebakaran, kekeringan, persoalan pendidikan, hingga kegaduhan di ruang digital menjadi bagian dari percakapan sehari-hari.

Di tengah semua itu, kita kembali mengenang seorang manusia yang lebih dari empat belas abad lalu membawa masyarakatnya keluar dari kegelapan menuju cahaya.

Hari ini, 25 Agustus 2026, bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1448 Hijriah, umat Islam kembali memeringati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Salawat dilantunkan, sirah dibacakan, ceramah disampaikan, dan berbagai tradisi Maulid kembali hidup di tengah masyarakat.

Namun, barangkali ada pertanyaan yang lebih penting daripada sekadar bagaimana kita memperingatinya: apakah cahaya yang dibawa Rasulullah itu masih benar-benar menerangi cara kita menjalani kehidupan hari ini?

Pertanyaan tersebut terasa relevan ketika kita melihat keadaan di sekitar kita.

Indonesia sesungguhnya tidak sedang berada dalam satu warna.

Ada kemajuan yang patut diapresiasi.

Ekonomi nasional tetap tumbuh.

Pada triwulan II 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan. Ini menunjukkan bahwa di tengah berbagai persoalan, roda perekonomian nasional masih bergerak.

Banyak sektor berkembang, pembangunan terus berlangsung, teknologi melahirkan peluang baru, dan masyarakat semakin memiliki akses terhadap berbagai bentuk layanan dan informasi.

Tetapi angka pertumbuhan ekonomi tentu tidak selalu identik dengan rasa aman yang dirasakan setiap keluarga.

Di balik angka statistik, ada pekerja yang kehilangan pekerjaan, keluarga yang harus mengatur ulang pengeluaran, anak-anak yang kebutuhan pendidikannya tetap berjalan, dan orang tua yang diam-diam cemas memikirkan masa depan.

Tingkat Pengangguran Terbuka Indonesia pada Mei 2026 berada di angka 4,65 persen.

Angka itu penting sebagai data, tetapi di baliknya terdapat manusia dengan cerita masing-masing.

Di saat yang sama, alam seolah semakin sering mengingatkan kita bahwa kehidupan tidak sepenuhnya berada dalam kendali manusia.

Gempa, kebakaran, kekeringan, banjir dan berbagai bencana masih terjadi di sejumlah daerah.

Tentu kita tidak bijaksana jika setiap bencana langsung disebut sebagai hukuman Tuhan.

Bencana memiliki banyak faktor: kondisi alam, perubahan iklim, tata ruang, pengelolaan lingkungan, hingga perilaku manusia.

Justru di sinilah agama mengajarkan kedewasaan berpikir.

Bencana semestinya tidak hanya mengundang rasa takut, tetapi juga mengajak kita melakukan introspeksi.

Apa yang telah kita lakukan terhadap alam?

Sebab manusia bukan pemilik mutlak bumi. Kita hanya diberi amanah untuk mengelolanya.

Kita sering memahami jahiliah sebagai masa sebelum Nabi Muhammad SAW.

Masa ketika ketidakadilan, fanatisme kesukuan, penindasan dan berbagai persoalan moral menguasai kehidupan masyarakat Arab.

Tetapi jangan-jangan kita terlalu nyaman menganggap jahiliah sebagai cerita masa lalu.

Jahiliah hari ini mungkin tidak hadir dalam bentuk patung-patung yang disembah.

Ia bisa muncul dalam bentuk keserakahan, kebencian, korupsi, kekerasan verbal, budaya pamer, konsumtivisme, penyebaran hoaks, dan hilangnya kepedulian kepada sesama.

Teknologi membuat manusia semakin mudah berkomunikasi, tetapi kedekatan sosial tidak selalu ikut bertambah.

Kita bisa terhubung dengan ribuan orang melalui media sosial, tetapi belum tentu mengetahui tetangga yang sedang kesulitan.

Kita memiliki akses kepada begitu banyak pengetahuan, tetapi masih mudah percaya pada informasi yang belum tentu benar.

Kita bisa berbicara tentang agama dengan sangat lantang di ruang digital, tetapi terkadang lupa bahwa akhlak justru diuji ketika berhadapan dengan orang yang berbeda pendapat.

Di sinilah maulid menjadi lebih dari sekadar perayaan.

Kelahiran Nabi Muhammad SAW membawa pesan bahwa perubahan sebuah masyarakat tidak cukup dimulai dari kemajuan teknologi atau kekuatan ekonomi.

Perubahan juga membutuhkan manusia yang memiliki akhlak, integritas dan kepedulian.

Salah satu ruang yang paling penting untuk membaca kembali pesan maulid adalah pendidikan.

Data PISA 2022 menunjukkan bahwa kemampuan literasi dan numerasi peserta didik Indonesia masih menghadapi pekerjaan besar.

Dalam perbandingan delapan negara ASEAN yang mengikuti PISA, Indonesia berada pada posisi keenam.

Data tersebut tentu tidak boleh digunakan untuk menyalahkan guru atau sekolah.

Sebaliknya, ia harus menjadi cermin bahwa pendidikan kita masih membutuhkan banyak pembenahan.

Pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan anak yang mampu menjawab soal.

Pendidikan seharusnya membantu anak membaca kehidupan, berpikir kritis, menghargai perbedaan, memiliki kepedulian terhadap lingkungan, dan mampu membedakan antara sesuatu yang benar dengan sesuatu yang sekadar populer.

Ada kabar baik yang patut kita lihat.

Minat sebagian orang tua untuk memberikan pendidikan agama kepada anak-anak mereka masih kuat, bahkan cenderung mendapatkan perhatian lebih besar.

Ini menunjukkan bahwa masyarakat mulai menyadari bahwa kecerdasan tanpa karakter dapat kehilangan arah.

Namun pendidikan agama sendiri menghadapi tantangan baru.Anak-anak kita tidak hanya belajar dari guru dan orang tua.

Mereka belajar dari layar yang hampir selalu berada dalam genggaman. 

Media sosial menyediakan pengetahuan, kreativitas dan peluang, tetapi juga menghadirkan candu, budaya perbandingan, konsumtivisme, perundungan dan berbagai konten yang belum tentu sesuai dengan perkembangan mereka.

Karena itu, persoalannya bukan apakah anak harus dijauhkan dari teknologi.

Yang lebih penting adalah bagaimana mendidik mereka agar mampu menggunakan teknologi tanpa kehilangan kendali atas dirinya.

Tugas pendidikan hari ini bukan memusuhi zaman, melainkan membekali generasi agar tidak menjadi korban dari zamannya sendiri.

Mungkin salah satu ujian terbesar manusia modern adalah kecintaan kepada dunia. Islam tidak pernah mengajarkan manusia untuk membenci dunia.

Bekerja, memiliki harta, mengejar pendidikan, membangun karier dan menikmati kehidupan adalah bagian dari ikhtiar manusia.

Yang menjadi persoalan adalah ketika dunia berubah dari sarana menjadi tujuan.

Kita mulai mengukur keberhasilan dari apa yang terlihat.

Rumah, kendaraan, jabatan, pakaian, perjalanan, jumlah pengikut, bahkan kehidupan keluarga dapat berubah menjadi bahan pertunjukan.

Media sosial memperkuat kecenderungan itu.

Kita tidak hanya menjalani kehidupan, tetapi juga merasa perlu memperlihatkan kehidupan kepada orang lain.

Di tengah budaya semacam ini, maulid mengingatkan kita pada kesederhanaan teladan Rasulullah. 

Beliau adalah pemimpin, tetapi tidak kehilangan kerendahan hati.

Beliau memiliki pengaruh besar, tetapi tidak menjadikan kekuasaan sebagai alasan untuk merendahkan orang lain.

Beliau mengajarkan agama, tetapi juga memperlihatkan kasih sayang kepada anak-anak, keluarga, tetangga, orang miskin, bahkan kepada mereka yang berbeda dengan dirinya.

Maka mencintai Nabi seharusnya tidak berhenti pada banyaknya selawat yang kita lantunkan.Cinta itu mestinya terlihat dalam cara kita memperlakukan manusia.

Terlihat dalam kejujuran seorang pedagang, amanah seorang pemimpin, kesabaran seorang guru, kasih sayang orang tua, kepedulian seorang tetangga, dan tanggung jawab kita terhadap alam.

Karena itu, Maulid tahun ini mungkin tidak perlu menjadi momentum untuk mencari siapa yang paling bersalah atas berbagai persoalan bangsa.

Pemerintah tentu memiliki tanggung jawab.

Dunia pendidikan memiliki pekerjaan besar.

Dunia usaha harus memperhatikan manusia di balik angka keuntungan.

Tokoh agama perlu terus menghadirkan agama yang menyejukkan.

Media memiliki tanggung jawab menjaga ruang publik tetap sehat.

Tetapi masyarakat juga memiliki bagian.

Kita tidak bisa terus-menerus meminta orang lain berubah sementara diri sendiri tidak pernah bercermin.

Ketika seseorang kehilangan pekerjaan, apakah kita masih memiliki kepedulian untuk membantu?

Ketika lingkungan rusak, apakah kita hanya menyalahkan keadaan? 

Ketika berbeda pandangan, apakah kita masih mampu menghormati?

Ketika anak-anak kita kecanduan gawai, apakah kita hadir sebagai pendamping atau justru menyerahkan seluruh pendidikan mereka kepada algoritma?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu mungkin lebih dekat dengan makna maulid daripada sekadar kemeriahan seremonial.

Sebab cahaya kenabian tidak dimaksudkan hanya untuk menerangi sebuah peristiwa sejarah.

Ia seharusnya menerangi perilaku manusia dari generasi ke generasi.

Indonesia hari ini memang sedang menghadapi banyak ujian.

Namun ujian bukan alasan untuk kehilangan harapan.

Justru dalam situasi seperti inilah kita membutuhkan lebih banyak manusia yang tetap jujur ketika kejujuran terasa mahal, tetap peduli ketika kepedulian tidak menghasilkan keuntungan, dan tetap berbuat baik ketika dunia seolah memberi alasan untuk bersikap sebaliknya.

Mungkin itulah cara paling sederhana memahami Maulid Nabi di zaman kita.  

Bukan sekadar mengenang kelahiran seorang manusia mulia di Makkah lebih dari empat belas abad lalu, tetapi menghadirkan kembali nilai-nilai kenabian dalam kehidupan yang kita jalani hari ini.

Zaman boleh berubah.

Teknologi boleh berkembang.

Cara manusia berkomunikasi boleh berganti.

Tetapi manusia tetap membutuhkan kejujuran, kasih sayang, ilmu, keadilan, keteladanan dan harapan.

Barangkali kita tidak sedang kekurangan cahaya. Kita hanya perlu kembali belajar menyalakannya—mulai dari diri sendiri.

Selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Semoga kecintaan kepada Rasulullah tidak berhenti di lisan, tetapi tumbuh menjadi akhlak yang hidup dalam keseharian.

Sebab cahaya maulid bukan hanya untuk dikenang.

Ia untuk menerangi zaman.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.