Jakarta (ANTARA) -

Dewan Pimpinan Daerah Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies atau Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Nusa Tenggara Timur (NTT) akan menyalurkan bantuan hasil penggalangan dana kepada masyarakat terdampak gempa Flores sekaligus mengecek kesiapan destinasi wisata, hotel, dan restoran untuk kembali menerima wisatawan.

Ketua DPD ASITA NTT Oyan Kristian mengatakan penggalangan dana telah dibuka sejak 17 Agustus 2026 dan direncanakan berlangsung hingga 31 Agustus 2026.

“Penggalangan dana ini kami sudah buka dari tanggal 17 Agustus sampai rencana 31 Agustus nanti. Jadi dana yang terkumpul kami akan kelola untuk dibelikan dalam bentuk barang yang akan dibawa kepada masyarakat yang terdampak,” kata Oyan saat dihubungi ANTARA, Selasa.

Ia mengatakan penyaluran bantuan tersebut akan dibarengi dengan kunjungan ke sejumlah destinasi wisata untuk melihat kondisi fasilitas pariwisata setelah gempa.

Menurut dia, pengecekan tersebut mencakup destinasi wisata, hotel, dan restoran untuk memastikan fasilitas terkait telah siap menerima wisatawan kembali.

“Pada saat kami mendistribusikan sumbangan yang adalah dari hasil donasi ini, kami akan melakukan kunjungan ke destinasi-destinasi wisata sekaligus untuk memastikan bahwa destinasi wisata sudah berfungsi dengan baik, sudah beroperasi kembali dengan baik,” ujarnya.

Oyan mengatakan ASITA NTT akan melihat kondisi fasilitas di destinasi wisata serta kesiapan hotel dan restoran dalam menerima wisatawan.

Berdasarkan laporan kondisi sektor pariwisata terdampak gempa Flores M7,7 yang diterbitkan Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPO-LBF) per 24 Agustus 2026 pukul 19.00 WITA, sebanyak 54 hotel, restoran, dan kafe terdampak gempa.

Rinciannya, tujuh unit mengalami kerusakan ringan dan 47 unit mengalami kerusakan berat. Pada sektor daya tarik wisata, tujuh destinasi telah kembali dibuka, sementara 11 destinasi masih ditutup sementara.

Oyan mengatakan pengecekan lapangan diperlukan untuk memperoleh gambaran mengenai kesiapan sektor pariwisata sebelum pelaku usaha kembali mendorong kunjungan wisatawan.

Ia menambahkan pemulihan pariwisata juga membutuhkan perbaikan fasilitas pendukung dan infrastruktur umum yang terdampak gempa, seperti jalan dan bandara.

“Kalau ada kerusakan di bandara maka memang harus segera diperbaiki. Kalau kerusakan seperti jalan yang juga rusak akibat gempa, juga sama demikian harus diperbaiki,” ujarnya.

Oyan berharap bantuan yang dikumpulkan ASITA dapat membantu masyarakat terdampak sekaligus menjadi bagian dari upaya mendorong pemulihan aktivitas pariwisata di Flores.

Menurut dia, kesiapan masyarakat di kawasan destinasi juga perlu menjadi perhatian karena masyarakat setempat merupakan bagian penting dalam penyediaan jasa pariwisata.