TRIBUNJOGJA.COM - Di tengah riuhnya eskalasi sosial-politik dan gelombang protes masyarakat sipil yang menuntut keadilan, medium perlawanan rupanya tidak hanya menggema di jalanan, tetapi juga melalui layar sinema.
Menghadapi situasi negara yang tengah bergejolak, Produser Ernest Prakasa dan Sutradara Edy Khemod bergeming; mereka memastikan perilisan film terbaru mereka, Operasi Pesta Copet, tetap berjalan sesuai jadwal pada Kamis (27/8/2026).
Langkah ini diambil bukan atas dasar pengabaian terhadap krisis yang terjadi, melainkan sebagai bentuk manifestasi perjuangan seniman dalam melawan sistem yang korup dan menyokong suara masyarakat sipil di seluruh Indonesia.
Bagi Ernest Prakasa, momentum penayangan film ini tidak terpisahkan dari kondisi riil yang sedang dihadapi bangsa. Ia menyadari sepenuhnya bahwa perhatian publik mungkin akan terpecah oleh berbagai aksi demonstrasi. Namun, ia menegaskan bahwa pengkaryaan seni memiliki napas yang sama dengan aksi turun ke jalan.
"Filmnya tanggal 27 Agustus 2026, tentunya tanggal yang sudah kita siapkan dari jauh-jauh hari banget ya, berkaitan dengan kondisi sosial, politik di negara ini tentunya. Kita tidak mungkin juga jadi menggeser tanggal apabila terjadi situasi tertentu," tegas Ernest.
Sebagai seorang seniman, Ernest melihat karyanya sebagai alat untuk berdiri di barisan yang sama dengan rakyat. Baginya, setiap medium memiliki perannya masing-masing dalam menuntut perbaikan.
"Tapi yang pasti apa pun yang terjadi, seni adalah seni dan seni adalah salah satu cara kita berjuang. Jadi, tidak mungkin kita menafikan perjuangan. Kita tetap dukung teman-teman yang berjuang untuk negara kita tercinta. Karena apa pun caranya—turun ke jalan, bersuara di media sosial, bersuara lewat karya—tujuannya sama. Tujuan kita adalah melawan sistem yang korup, melawan ketidakadilan," papar Ernest secara lugas.
Ia menambahkan, potensi teralihkannya perhatian penonton adalah risiko yang siap dihadapinya. "Jadi saya rasa, ya, bisa jadi karena ada demonstrasi atau apa, mungkin perhatian orang ke hal-hal lain itu adalah konsekuensi yang harus kita tanggung bersama. Tapi apa pun itu, aku sebagai seorang pembuat film, sebagai seniman tetap mendukung penuh semua aksi yang bertujuan untuk memperjuangkan kebaikan buat kita sama-sama semuanya, mulai dari orang yang tinggal di Jakarta sampai yang tinggal di daerah. Aku rasa kita semua punya tujuan yang sama, yaitu untuk memperbaiki negara kita tercinta," ungkapnya.
Senada dengan Ernest, Sutradara Operasi Pesta Copet, Edy Khemod, yang ditemui di sela-sela pengenalan filmnya di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (25/8/2026), memandang situasi hari ini dengan kacamata historis. Ia tidak merasa terkejut dengan krisis maupun perlawanan sipil yang kini kembali meletus.
Bagi sosok yang juga dikenal sebagai penggebuk drum grup musik Seringai ini, apa yang terjadi sekarang adalah sesuatu yang sudah ia proyeksikan dan suarakan sejak masa mudanya.
"Gua sudah tahu ini akan terjadi bahkan sejak zaman gua mahasiswa tahun 1998. Yakin saja. Lu jalan sesuai sama yang lu percaya, lu jangan terpengaruh sama apa pun. Mau pemerintahan ganti, apa ganti semua segala, ya sudah gua cuma bisa percaya sama keyakinan gua, gua jalan lurus. Dan itu yang gua lakukan sejak zaman gua mahasiswa '98, gua jadi Seringai, jadi filmmaker sekarang, sama kok," tutur Khemod.
Konsistensi memegang teguh nilai di tengah perubahan zaman dan rezim pemerintahan menjadi jalan sunyi yang ia tempuh. Ia menolak anggapan bahwa dirinya apatis atau menyangkal keadaan. Sebaliknya, sikapnya didasari oleh rekam jejaknya yang tak pernah berhenti melontarkan kritik sosial.
"Gua bukan denial (menyangkal), tapi gua lebih ke I knew it (sudah menduganya). Karena gua sudah menyuarakan ini sudah lama banget. Bahkan dari 1998 ketika gua jadi mahasiswa. Gua tetap yakin gua jalannya lurus seperti value (nilai) gua dari dulu. Kayaknya cuma itu yang bisa dilakukan sekarang," tambahnya.
Lebih jauh, Khemod menyoroti fenomena konsolidasi kekuatan sipil belakangan ini sebagai sebuah preseden penting dalam kehidupan bernegara. Ia menilai kebangkitan kesadaran warga memegang peranan krusial, meski tetap membutuhkan navigasi yang tepat agar tidak dibajak oleh kepentingan elite tertentu.
"Menurut saya menarik banget jadi contoh bahwa masyarakat sipil bisa menguasai negara. Pertanyaan berikutnya, semoga masyarakat sipilnya ditemani sama pakar-pakar yang bisa menjaga aspirasinya fokus dan tidak terpenetrasi isu yang tidak seharusnya," pungkas Khemod.