TRIBUNJATENG.COM, KENDAL - Desa Sarirejo dan Krajankulon, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal nampak ramai sejak sore hari.
Sehabis kumandang adzan asar, Selasa (25/8/2026), anak-anak berkeliling dari rumah ke rumah membawa makanan untuk saling bertukar.
Tradisi itu dinamakan weh-wehan, sebuah tradisi yang masih terus dilestarikan turun-temurun oleh warga Kaliwungu dalam menyambut Maulid Nabi.
Kehangatan suasananya membuat warga menyebutnya sebagai Lebaran ketiga, setelah Idulfitri dan Iduladha.
Baca juga: Polres Kendal Gencarkan Sosialisasi Cegah Aksi Kreak dan Balap Liar
Dalam praktiknya, anak-anak hingga orangtua begitu antusias saling bertukar makanan.
Tradisi itu tersirat pesan tentang kepedulian, silaturahmi, dan kebersamaan yang terus dipegang teguh oleh warga.
Warga tidak hanya memberikan makanan kepada tetangga dekat. Mereka berkeliling kampung dan saling bertukar makanan.
Setelah itu, makanan yang diperoleh dibawa pulang untuk dinikmati bersama keluarga.
Di antara makanan yang dibawa anak-anak, ada satu sajian yang hampir selalu muncul dalam tradisi weh-wehan. Namanya sumpil, bentuknya sederhana.
Makanan yang terbuat dari beras itu dibungkus menggunakan daun bambu yang banyak tumbuh di sekitar lingkungan warga.
Setelah matang, sumpil biasanya disantap bersama parutan kelapa berbumbu pedas.
Makanan sederhana itu telah menjadi bagian penting dari tradisi yang telah bertahan selama bertahun-tahun.
Kepala Desa Krajankulon, Abdul Latif mengatakan, proses pembuatan sumpil cukup sederhana.
Warga memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar untuk membuat makanan khas tersebut.
“Kami memaksimalkan apa yang ada di lingkungan seperti daun bambu yang banyak tumbuh di desa untuk dijadikan pembungkusnya,” katanya, Selasa (25/8/2026).
Latif mengatakan, tradisi itu terus dipertahankan turun temurun setiap bulan Maulid tiba.
Dari dapur-dapur warga itulah, weh-wehan kemudian hidup.
Satu keluarga menyiapkan makanan, lalu anak-anak membawanya berkeliling dan mendapatkan makanan lain seadanya dari tetangga sebagai gantinya.
"Ini sederhana, tetapi penuh makna dan membuat kampung menjadi ramai," imbuhnya.
• Polres Kendal: Terobos Palang Pintu Kereta Api Bisa Ditilang
Tokoh masyarakat Kaliwungu, Muhammad Tommy Fadlurrahman menerangkan, weh-wehan tak sebatas aktivitas bertukar makanan. Namun bagi masyarakat Kaliwungu, tradisi itu memiliki makna yang jauh lebih dalam.
Dia menjelaskan, istilah weh-wehan berasal dari kata Jawa “aweh”, yang berarti memberi.
Menurutnya, tradisi weh-wehan dipopulerkan oleh Mbah Akhmad Rukyat, sesepuh sekaligus ulama Kaliwungu.
“Jadi maknanya itu diajarkan untuk saling memberi kepada sesama tanpa memandang status sosial,” katanya.
Lelaki yang akrab disapa Gus Tommy melanjutkan, inti weh-wehan bukan terletak pada banyak atau mahalnya makanan yang dibagikan.
Tradisi tersebut menjadi cara sederhana untuk menjaga hubungan antartetangga.
Anak-anak juga diperkenalkan sejak dini pada budaya berbagi. Mereka belajar bahwa kebahagiaan dalam menyambut Maulud tidak harus dirayakan sendiri, tetapi dapat dibagikan kepada orang lain.
"Di tengah perubahan zaman, masyarakat Kaliwungu masih berupaya menjaga tradisi tersebut."
"Generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga menjadi penerus yang memahami nilai di balik weh-wehan," sambungnya.
Ketua Panitia Pekan Maulud Nabi, Ahmad Zaenudin mengatakan, tradisi weh-wehan merupakan gabungan kegiatan keagamaan dengan tradisi warga setempat.
Sebelum diadakan weh-wehan, panitia menyelenggarakan lomba weh-wehan yang mengolah berbagai bahan makanan tradisional khas Kaliwungu.
Adapula MTQ, lomba rebana, pembacaan Maulid Nabi hingga lomba teng-tengan.
Dalam perayaannya, perlombaan tidak hanya berlangsung di sekitar masjid, tetapi juga masuk ke lingkungan warga sehingga lebih terasa hangat.
“Ini merupakan puncak dari rangkaian kegiatan peringatan Maulid Nabi yang sebelumnya diisi dengan pembacaan maulid setiap malam Jumat di kampung-kampung,” tuturnya.
Baca juga: Sumringah Mustaqim Petani Tembakau Kendal, Harga Tembus Rp69 Ribu per Kg
Tradisi yang sudah mengakar di tengah masyarakat itu pun mendapat perhatian serius dari Pemkab Kendal.
Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari mengatakan, pihaknya telah mendaftarkan tradisi weh-wehan kepada Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Bupati yang akrab disapa Mbak Tika ini menambahkan, weh-wehan memiliki nilai yang terus dijaga secara relevan dengan kehidupan warga.
Di tengah modernisasi, warga tetap membutuhkan ruang untuk saling bertemu, berbagi, dan menjaga hubungan dengan tetangga.
Harapannya, weh-wehan dapat masuk dalam Kalender Karisma Event Nusantara (KEN) sehingga dikenal lebih luas di tingkat nasional.
“Harapannya tradisi weh-wehan dapat dikenal lebih luas oleh masyarakat secara nasional,” terangnya.
Sementara itu, Kepala Disporapar Kabupaten Kendal, Achmad Ircham Chalid menegaskan, salah satu syarat masuk kalender KEN ialah harus memiliki keunikan yang tak ditemui di event lain.
Jika lolos kurasi KEN, tradisi weh-wehan akan secara otomatis menjadi bagian dari kalender pariwisata nasional.
"Weh-wehan di Kaliwungu ini memiliki keunikan khusus yang rutin digelar setiap tahun pada sore hari menjelang 12 Rabiul Awal atau peringatan Maulid Nabi."
"Saat ini sudah kami ajukan. Semoga bisa lolos, mohon doanya." tandasnya. (*)