Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO — Meningkatnya jumlah wisatawan asing yang menyewa mobil di Jepang turut memicu kekhawatiran setelah kecelakaan yang melibatkan pengemudi berkewarganegaraan asing mencapai 7.906 kasus sepanjang 2025, tertinggi dalam 10 tahun terakhir.
"Berdasarkan Buku Putih Keselamatan Lalu Lintas Jepang 2026, jumlah warga asing yang memiliki surat izin mengemudi Jepang juga telah mencapai 1.338.977 orang. Angka tersebut meningkat 60,7 persen dibandingkan 2016," ungkap sumber Tribunnews.com di kepolisian Jepang Selasa (25/8/2026).
Data itu memunculkan desakan di media sosial agar sistem konversi SIM asing atau gaimen kirikae diperketat, bahkan dihapus. Ada pula yang meminta perusahaan penyewaan mobil tidak lagi melayani wisatawan asing.
Namun, peningkatan jumlah kecelakaan tidak dapat semata-mata disimpulkan karena semakin banyak orang asing mengemudi. Jumlah pengemudi asing sendiri meningkat pesat dalam periode yang sama.
Selama 10 tahun terakhir, kecelakaan yang melibatkan pengemudi asing naik 18,2 persen, jauh lebih rendah dibandingkan peningkatan 60,7 persen jumlah warga asing pemegang SIM Jepang.
Baca juga: Turis Asing Jadi Sorotan, Jepang Pertimbangkan Denda Rp2,2 Juta bagi Pelanggan Prostitusi
Korban Meninggal Secara Nasional Justru Terendah
Jumlah korban meninggal akibat kecelakaan lalu lintas di seluruh Jepang pada 2025 tercatat 2.547 orang. Angka itu merupakan yang terendah sejak pencatatan statistik dimulai pada 1948.
"Pemerintah memang belum berhasil mencapai target menekan jumlah korban hingga di bawah 2.000 orang pada 2025. Namun, secara keseluruhan, tren kematian akibat kecelakaan terus menurun," tambahnya.
Peningkatan penggunaan helm setelah pemerintah memberlakukan kewajiban moral bagi seluruh pengguna sepeda sejak 2023 dinilai menjadi salah satu faktor yang membantu mengurangi korban.
Di tengah penurunan angka kematian nasional, kecelakaan yang melibatkan pengemudi asing justru terlihat menonjol di kawasan wisata tertentu.
Kecelakaan di Yamanashi Melonjak Hampir 20 Kali Lipat
Menurut data Kepolisian Prefektur Yamanashi, kecelakaan mobil sewaan yang dikendarai wisatawan asing meningkat dari 56 kasus empat tahun sebelumnya menjadi 1.041 kasus pada 2025.
Masalah paling serius terjadi di sekitar Taman Arakurayama Sengen, salah satu lokasi populer untuk melihat Gunung Fuji, bunga sakura, dan pagoda lima tingkat dalam satu pemandangan.
Di sekitar kawasan tersebut terdapat banyak jalan permukiman yang lebarnya hanya sekitar dua hingga tiga meter. Dua mobil sangat sulit berpapasan di jalan-jalan itu.
Sejumlah mobil sewaan yang dikendarai wisatawan asing tidak mampu melewati tikungan sempit dan menabrak tembok rumah penduduk.
Sebuah keluarga dilaporkan mengalami empat kali tabrakan pada tembok rumahnya dalam setahun dan harus mengeluarkan biaya perbaikan sekitar 70.000 yen. Keluarga lain mengaku telah mengalami kejadian serupa lebih dari 10 kali.
Rekaman kamera keamanan memperlihatkan kendaraan berkali-kali maju dan mundur di jalan sempit. Ada pula mobil yang naik ke bagian tembok sebelum meninggalkan lokasi.
Bukan Hanya Persoalan Mengemudi di Sisi Kiri
Wisatawan asing sering dianggap kesulitan karena Jepang menerapkan lalu lintas di sisi kiri dan menggunakan kendaraan dengan kemudi di sebelah kanan.
Namun, persoalannya juga berkaitan dengan jalan Jepang yang sempit dan rumit, banyaknya rambu, serta navigasi yang mengarahkan kendaraan ke jalan permukiman.
Kecelakaan tidak tersebar merata di seluruh Jepang. Kasus cenderung terkonsentrasi di kawasan wisata ketika rute menuju destinasi populer bertemu dengan jalan yang digunakan warga dalam kehidupan sehari-hari.
Kondisi ini menimbulkan beban bagi masyarakat setempat, bukan hanya dalam bentuk kecelakaan, tetapi juga kerusakan properti, kemacetan, dan gangguan terhadap aktivitas sehari-hari.
Mayoritas Penyewa Merupakan Wisatawan Berpengalaman
Survei yang dilakukan Biro Pembangunan Regional Kinki di Bandara Internasional Kansai pada 2018 menunjukkan lebih dari separuh pengguna mobil sewaan berasal dari Hong Kong dan Makau, yang sama-sama menerapkan lalu lintas di sisi kiri.
Sebanyak 22,1 persen responden telah berkunjung ke Jepang antara lima hingga sembilan kali. Sementara itu, 17,3 persen telah datang antara 10 sampai 29 kali.
Meskipun berpengalaman mengunjungi Jepang, sebanyak 29,3 persen mengaku baru pertama kali menyewa dan mengendarai mobil di negara tersebut.
Mereka sebelumnya menggunakan kereta atau bus, kemudian memilih mobil untuk menjangkau wilayah yang lebih luas.
Sebanyak 60,4 persen memilih mobil sewaan karena dapat bepergian tanpa terikat jadwal. Alasan lainnya adalah membawa banyak barang sebesar 40,3 persen, ingin mengunjungi lebih banyak tempat 31,7 persen, dan bepergian bersama anak kecil 24,5 persen.
Sebanyak 13,7 persen mengatakan ingin mengunjungi lokasi yang tidak dapat dijangkau dengan kereta atau bus.
Rata-rata kendaraan digunakan selama 5,7 hari dengan jarak perjalanan sekitar 94,2 kilometer per hari. Hampir separuh pengguna memanfaatkan jalan tol.
Tujuan perjalanan tidak terbatas pada Osaka dan Kyoto, tetapi meluas hingga Wakayama, Shiga, Shikoku, Chugoku, Chubu, dan Hokuriku.
Informasi Keselamatan Masih Terbatas
Pencegahan kecelakaan membutuhkan peningkatan pertukaran informasi antara perusahaan penyewaan mobil dan pengguna asing.
Perusahaan dinilai perlu memberikan penjelasan dalam berbagai bahasa mengenai lalu lintas di sisi kiri, rambu Jepang, jalan sempit, perlintasan kereta, aturan parkir, dan lokasi yang tidak boleh dimasuki kendaraan.
Informasi kemacetan dan jalur yang aman juga dapat disampaikan melalui sistem navigasi atau radio mobil.
Sekitar 40 persen wisatawan asing yang mengemudi di daerah menggunakan fasilitas michi-no-eki atau stasiun peristirahatan tepi jalan. Namun, sebagian besar hanya menggunakannya untuk makan atau pergi ke toilet.
Hanya sekitar satu persen yang memanfaatkannya untuk memperoleh informasi pariwisata. Padahal, fasilitas itu dapat berfungsi sebagai pusat informasi yang mengarahkan wisatawan menjauhi jalan permukiman yang sempit atau padat.
Larangan Menyeluruh Bisa Merugikan Daerah
Di internet muncul usulan agar penyewaan mobil kepada orang asing dilarang, asuransi sukarela berbiaya tinggi diwajibkan, atau kendaraan yang dikemudikan warga asing diberi tanda khusus.
Namun, larangan menyeluruh dinilai dapat mengurangi pemasukan daerah yang bergantung pada belanja wisatawan asing. Mobil sewaan merupakan sarana penting untuk menjangkau kawasan yang tidak memiliki jaringan transportasi umum memadai.
Wisatawan juga banyak meminta penurunan tarif jalan tol dan biaya parkir. Pemerintah dapat memperluas layanan tiket jalan tol tanpa batas bagi wisatawan asing sekaligus mengarahkan kendaraan menggunakan jalan utama agar tidak memasuki permukiman.
Solusinya dinilai bukan sekadar memilih antara menyewakan atau melarang mobil kepada orang asing. Jepang perlu menentukan syarat dan tanggung jawab yang jelas, antara lain:
Penjelasan keselamatan dalam berbagai bahasa.
Perlindungan asuransi yang memadai.
Pengarahan rute melalui jalan utama.
Pemeriksaan kemampuan dan pengalaman pengemudi.
Tanggung jawab lebih besar bagi perusahaan penyewaan.
Perlindungan serta mekanisme ganti rugi bagi penduduk setempat.
Apabila kecelakaan terus terkonsentrasi di kawasan tertentu, Jepang mungkin perlu mempertimbangkan kebijakan seperti di Selandia Baru, yakni perusahaan dapat menolak penyewaan jika kemampuan atau pengalaman calon pengemudi dinilai tidak memadai.
Tantangan utamanya adalah menjaga kebebasan wisatawan untuk bepergian sekaligus melindungi keamanan dan ketenangan masyarakat setempat. Karena itu, perdebatan perlu dialihkan dari persoalan kewarganegaraan menuju pertanyaan mengenai syarat, kemampuan, perlindungan asuransi, serta tanggung jawab ketika kendaraan disewakan.
Diskusi beasiswa dan loker di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com